Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Janji dan Tujuan



Sore harinya.


"Apa maksudmu, William?"


Melihat ke arah William yang telah memenangkan kejuaraan, Reinhart merasa bingung.


"Sudah aku bilang. Aku memang memenangkan pertandingan ini, tetapi itu hanyalah judul. Kamu adalah pemenang yang asli.


Oleh karena itu ... semua hadiah itu, aku tidak membutuhkannya! Kamu bisa menerimanya!"


"..."


"Aku sudah berbicara dengan penyelenggara. Mereka setuju untuk memberi transfer hadiah kepada orang lain. Aku sudah setuju dan menandatangani semuanya.


Kamu harus mengambilnya sendiri."


Reinhart merasa agak linglung.


"Terima kasih?" ucapnya dengan eskpresi ragu.


"Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Aku kalah, jadi itu wajar. Bahkan ... aku kalah pada kondisi puncak."


Setelah mengatakan itu, William menatap ke arah Reinhart. Dibandingkan dengan sosok yang bertarung dengan gila di medan pertempuran, pemuda di depannya jelas tampak malas dan hambar ... sangat berbeda!


Menggelengkan kepalanya, William kembali berkata.


"Kamu hanya menang kali ini. Tidak ada lain kali! Karena lain kali ... aku akan mengalahkanmu secara telak! Sama seperti yang kamu lakukan sebelumnya!"


Setelah mengatakan itu, William pergi.


Reinhart berkedip dengan ekspresi kosong. Melihat punggung pemuda yang berjalan pergi, dia mengangkat bahu.


'Setidaknya, dengan begini aku bisa mendapatkan item yang aku butuhkan.'


Baru beberapa menit setelah William pergi, Reinhart dikejutkan oleh kedatang seekor kucing gemuk berwarna abu-abu.


Kucing itu berjalan memasuki ruangan dengan keempat kaki pendeknya.


"Tom?"


Melihat kucing gemuk itu, ekspresi Reinhart langsung berubah menjadi aneh.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


MEONG!


Kucing itu mengeong sebelum akhirnya berjalan menuju ke ranjang tempat Reinhart berbaring. Makhluk terlihat serius, membuat pangeran berambut perak itu terkejut. Tom langsung melompat, tetapi karena tubuhnya yang gemuk ... dia bahkan tidak bisa naik ke ranjang dan jatuh kembali ke lantai.


MEONG!


Tom langsung mengeong dengan nada tidak puas.


Melihat kucing itu, sudut bibir Reinhart berkedut. Dia benar-benar belum pernah melihat kucing yang tidak bisa melompat!


Turun dari ranjangnya, Reinhart meraih si kucing abu-abu dengan kedua tangannya. Dia kemudian duduk sambil mengangkat si kucing.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Tom?"


MEONG!


Sebagai tanggapan, Tom mengeong sambil menyentuh dahi Reinhart dengan kaki depannya.


Merasakan telapak kaki kucing yang lembut dan kenyal di dahinya, Reinhart memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.


"Kamu ... mengkhawatirkan aku?"


Melihat si kucing menatapnya dengan kedua mata bulat dan tidak bersalah, Reinhart akhirnya memutuskan untuk menyerah. Dia memangku si kucing lalu mengelus bulunya yang agak pendek, tetapi lembut dan halus.


"Lalu ... sampai kapan kamu akan bersembunyi di sana, Vanessa?"


Mendengar ucapan Reinhart, suara benda jatuh terdengar dari balik pintu.


Setelah beberapa saat, sosok Vanessa masuk ke dalam ruangan diikuti oleh ksatria wanita yang selalu menemaninya. Keduanya membawa beberapa barang, tampaknya buah dan beberapa potion penyembuhan. Meski bukan tingkat tinggi, jelas cukup mahal.


Sambil memegang Tom, Reinhart turun dari ranjang lalu menghampiri mereka berdua.


"Sebenarnya aku sudah baik-baik saja. Kalian tidak perlu repot-repot membeli hak semacam itu. Aku hanya disuruh untuk beristirahat lebih lama."


"Saya ..."


Vanessa tampak bingung untuk mengatakan apa. Dia telah berlatih banyak dan mempersiapkan banyak pertanyaan, tetapi akhirnya dia malah tidak bisa berkata apa-apa di depan Reinhart.


Melihat ekspresi Vanessa, Reinhart tersenyum lembut.


"Terima kasih banyak telah datang. Maaf telah membuatmu khawatir, Vanessa."


"Ini ... Ini salah saya! Karena saya, anda jadi terlalu memaksakan diri!"


"..."


Mendengar ucapan Vanessa, Reinhart tertegun sejenak. Tidak menyangka kalau gadis kecil itu memiliki pemikiran semacam itu.


Setelah beberapa saat, Reinhart akhirnya kembali berkata.


"Bagaimana kalau jalan-jalan, Vanessa?"


Vanessa memiringkan kepalanya dengan ekspresi linglung.


Setelah jam kemudian, Reinhart dan Vanessa berdiri di atas dinding luar kastil sambil melihat pemandangan kota dan pegunungan indah di sekitarnya.


"Apakah ada yang ingin kamu sampaikan kepadaku, Vanessa?"


Pertanyaan tiba-tiba Reinhart membuat Vanessa terkejut. Gadis itu memang telah mempersiapkan diri untuk mengatakan banyak hal kepadanya, tetapi tidak memiliki kesempatan karena banyaknya tamu yang datang untuk menjenguk pemuda tersebut.


"Apakah ..." Vanessa memegang erat gaunnya. "Apakah anda akan pergi, Kak Rein?"


Mendengar itu, Reinhart langsung terkejut. Ekspresinya menjadi lebih lembut.


"Baru kali ini kamu memanggil namaku secara langsung, kan? Itu agak mengejutkan."


Ucapan Reinhart yang sedikit menggoda membuat wajah Vanessa merah.


"Kak Rein!"


Vanessa bergegas maju lalu memukuli dada Reinhart. Namun, pukulannya jelas sangat lembut. Gadis itu tampak kesal.


Melihat itu, Reinhart tersenyum. Tidak memeluk Vanessa, dia memegang kedua pundak gadis itu lalu berkata sambil langsung menatap langsung ke matanya.


"Aku pergi, bukan berarti aku tidak akan kembali, kan?"


"..."


Melihat ekspresi sedih di wajah Vanessa, Reinhart kembali berkata.


"Ada tujuan yang ingin aku capai, Vanessa."


"Saya akan menunggu!"


"Mungkin tiga tahun tidak cukup. Setelah lulus, aku harus pergi ke medan perang ... atau mungkin berkeliling dunia."


"Saya akan menunggu!"


"Kamu tahu, bahkan jika orang tua kita menjodohkan kita berdua, kamu masih terlalu muda. Kamu mungkin tidak tahu apa yang kamu rasakan.


Jika kelak kamu tidak bisa menunggu, kamu bisa—"


Reinhart langsung dikejutkan oleh air mata yang mengalir deras melewati pipi Vanessa.


"Vanessa, kamu—"


"Kenapa anda berkata seolah-olah kita tidak mungkin bersama?"


"..."


"Kenapa anda selalu meminta saya untuk mencari orang lain saja?"


"..."


"Apakah karena saya muda? Saya tidak cantik? Saya tidak pintar? Saya—"


"Meski masih muda, kamu adalah tipe gadis ideal, Vanessa."


"Lalu kenapa?"


"Aku ... mungkin bukan yang terbaik bagimu."


"Saya menginginkan tempat di sisi anda ... apakah itu salah?"


"Aku ..." Melihat ke wajah tegas Vanessa, Reinhart menghela napas panjang. "Kamu memiliki hak untuk memilih, Vanessa. Namun, tunggu tiga tahun lagi. Setidaknya sampai kamu dianggap dewasa dan aku telah lulus dari Akademi Cahaya Bintang lalu kita akan membahasnya."


Vanessa mengulurkan tangannya, menunjukkan jari kelingking sambil berkata.


"Janji?"


Meraih jari kelingking gadis itu dengan jari kelingkingnya, Reinhart menjawab lembut.


"Janji."


***


Tiga hari kemudian.


Setelah lomba antar akademi selesai, semua orang mulai kembali ke akademi mereka masing-masing.


Sementara Reinhart puas dengan hadiah yang dia terima, banyak orang yang memiliki pemikiran berbeda. Khususnya para pangeran lainnya.


Kalah dalam turnamen mungkin menjadi salah satu alasan, tetapi ... mereka semua memiliki satu alasan penting yang sama.


Ketika melihat sihir Reinhart, mereka merasa tertinggal!


Kembali menuju ke akademi, para pangeran memiliki tekad kuat dalam hati mereka. Menjadi lebih kuat, lebih kuat, dan lebih kuat lagi.


Ya. Tanpa Reinhart sadari ...


Apa yang dia lakukan akan merubah banyak hal yang seharusnya terjadi di masa depan!


Entah baik atau buruk, tidak ada yang mengetahuinya sebelum waktunya tiba. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.


>> Bersambung.