
Keesokan harinya.
Duduk di kursi penonton, sosok Reinhart menopang dagu dengan ekspresi tertekan.
Setelah pertandingan yang bahkan tidak bisa disebut sebagai pertarungan sebelumnya, pemuda itu merasa kalau dirinya cukup beruntung. Sampai saat ini, dirinya sama sekali tidak bertemu dengan musuh kuat.
Sekarang, dia bahkan telah lolos ke empat besar dengan mengalahkan musuh yang bisa dibilang ... terlalu lemah untuk menjadi delapan besar!
Masalahnya, Reinhart merasa jengkel karena dirinya seperti sedang buang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak jelas.
Melihat ke arena pertarungan, ekspresi Reinhart menjadi lebih serius.
"Di sisi kiri, ada peserta dari Akademi Cahaya Bintang, Zale!"
"Di sisi kanan, ada peserta dari Akademi Cahaya Bintang, Aiden!"
Pada saat pembawa acara berseru, dua sosok pemuda berjalan masuk ke dalam arena pertandingan. Mereka mengenakan armor ringan untuk melindungi titik lemah mereka. Pedang indah menggantung di sisi kiri pinggang mereka berdua.
Melihat ke tangan kiri Aiden dan Zale yang membawa tongkat sihir (wand), mata Reinhart menyempit.
Ya. Mereka semua, termasuk pangeran lain adalah penyihir dan senjata utama mereka adalah tongkat sihir (wand). Bahkan dalam game, mereka semua menggunakan tongkat sihir meski berpenampilan layaknya ksatria.
Sebenarnya, fungsi armor dan pedang adalah sebagai alat perlindungan. Tidak seperti penyihir tradisional yang memakai jubah, dalam game ini, kebanyakan penyihir (khususnya bangsawan) menggunakan armor ringan dan pedang.
Jadi, walau tubuh mereka cukup lemah. Mereka masih bisa bertahan atau bahkan menyerang balik ketika menerima serangan dari jarak dekat. Biasanya, tongkat sihir digunakan dengan tangan kiri (atau tangan yang tidak dominan). Itu karena, jika tiba-tiba menerima penyergapan, mereka bisa menggunakan tangan dominan untuk balik menyerang menggunakan senjata.
Selain itu, kebanyakan penyihir juga menggunakan jenis sihir tipe enchant. Melapisi senjata atau bagian tubuh dengan sihir untuk bertarung di jarak dekat. Setidaknya, agar tidak mudah kalah dengan ksatria.
Itulah kenapa, penyihir lebih dihormati daripada ksatria. Bukan karena memiliki kekuatan elemen atau semacamnya, tetapi karena sangat kuat dalam pertempuran jarak jauh atau skala besar, sekaligus masih bisa bertarung di jarak dekat.
Ya ... walau kebanyakan tidak sebaik ksatria.
Sedangkan alasan kenapa Aiden dan Zale menggunakan tongkat sihir (wand) saat ini bukan karena mereka tidak bisa merapal mantra tanpa tongkat. Namun, tongkat sihir membuat mereka lebih mudah melakukan casting sihir dengan kecepatan lebih cepat dan meringankan beban mana (energi sihir) karena menggunakan tongkat sebagai perantara.
'Sepertinya mereka benar-benar akan bertarung habis-habisan.'
Pada saat itu, suara pembawa acara kembali terdengar.
"Kedua peserta diharapkan untuk bersiap! Pertandingan akan dimulai pada hitungan tiga ... dua ... satu ...
MULAI!!!"
Suara lonceng pertanda pertandingan dimulai langsung berbunyi. Saat itu, Aiden dan Zale langsung mengacungkan tongkat sihir bersamaan.
"Fire ball!"
"Water sphere!"
Bola api dan bola air langsung muncul lalu ditembakkan layaknya peluru.
Bang!
Suara ledakan terdengar ketika dua sihir bertabrakan. Air dan api langsung meledak bersama, berubah menjadi kepulan uap.
Saat itu juga, Aiden dan Zale menarik perang dari pinggang mereka.
Di sisi Aiden, tampak pedang panjang dengan gaya longsword berwana platinum dengan ornamen emas dan bertatahkan rubi.
Sedangkan Zale, di tangannya tampak sebuah pernah dengan gaya cutlass berwarna platinum dengan ornamen emas dan bertatahkan safir.
Sekali lagi, keduanya saling menunjuk dengan tongkat sihir di tangan mereka dan berseru.
"Fire ball!"
"Water sphere!"
Bang!
Saat itu suara ledakan terdengar, keduanya langsung melesat ke depan. Mereka sama-sama bergegas ke arah lawannya dengan cepat.
Mencengkeram erat gagang pedang di tangan, mereka berdua langsung mengayunkan pedang mereka berdua dengan kuat.
Klang!
Suara dentingan logam terdengar. Ekspresi keduanya sama sekali tidak banyak berubah. Bahkan, mereka masih memiliki tatapan sinis dan saling memprovokasi seperti biasanya.
Klang! Klang! Klang!
Keduanya bertabrakan dengan keras sebelum masing-masing terpental mundur beberapa meter. Saat itu, Aiden sudah mengarahkan tongkat sihir ke Zale saat masih terpental.
"Wahai api, wujudkan bentuk yang bisa menusuk dan menghanguskan lawan-lawanku ..."
Sebuah lingkaran sihir cukup besar berwarna merah muncul di depan Aiden.
"Flame Lance!!!"
Melihat bagaimana Aiden membuat langkah terlebih dahulu, Zale berdecak tidak puas. Kehabisan waktu, dia langsung menunjuk dengan tongkat sihirnya sambil berteriak.
"Water Shield!!!"
BANG!!!
Sihir level tiga yang memerlukan rapalan melawan sihir level dua yang bisa langsung dikeluarkan (jika sudah memiliki keahlian cukup). Melihat dari sisi itu saja, sudah jelas mana yang lebih baik.
BLARRR!!!
Sosok Zale terpental mundur beberapa meter. Meski penampilannya tampak berantakan, pemuda itu masih menunjuk ke arah Aiden.
Sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna biru muncul di belakangnya saat dia mulai merapal mantra.
"Wahai air, wujudkan bentuk yang bisa menghancurkan dan menenggelamkan lawan-lawanku ..."
Sementara itu di sisi lain Aiden sudah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Sebuah lingkaran sihir raksasa berwarna merah juga muncul pada pangkal bilahnya.
"Wahai api, wujudkan bentuk yang bisa menghancurkan dan menghapus lawan-lawanku ..."
Kedua lingkaran sihir menyala terang ketika mereka berteriak bersamaan.
"Blackwater Great Python!!!"
"Slaughterer Flame Sword!!!"
Seekor ular piton raksasa muncul di dari belakang Zale. Seluruh tubuhnya terbuat dari air berwarna biru gelap, sebuah tanduk besar tampak di atas kepala makhluk itu. Membuka mulutnya yang dipenuhi oleh taring-taring tajam, makhluk dengan diameter lebih dari dua meter dan panjang lebih dari tiga puluh meter itu melesat ke arah Aiden.
Sementara itu, di tangan Aiden tampak sebuah pedang raksasa yang terbuat dari api merah menyala. Pedang itu berdiri tegak dengan panjang nyaris sepuluh meter dan memancarkan niat membunuh yang memenuhi seluruh Colosseum raksasa.
Melihat seekor python raksasa yang bergegas ke arahnya, Aiden mendengus dingin ketika dirinya membanting pedang tepat ke arah makhluk tersebut.
Memiliki tatapan penuh tekad, keduanya berteriak keras.
"MATI UNTUKKU, K-PARAT!!!"
BLARRR!!!
Ledakan keras tercipta ketika kepulan asap langsung memenuhi Colosseum raksasa. Bahkan, seluruh bangunan dan area sekitarnya bergetar keras.
Setelah beberapa saat, kepulan asap memudar. Saat itu juga, teriakan gila penonton langsung terdengar.
"OOOHHH!!!"
Di arena kacau balau, tampak sosok Aiden yang jatuh tak sadarkan diri. Semua orang tidak menyangka, pemuda yang berinisiatif untuk menyerang lebih awal itu bisa jatuh tumbang padahal tampak memilki keunggulan.
Sementara itu, Zale masih berdiri sambil mengangkat tangan kanannya dengan ekspresi bangga.
"Pemenang pertandingan ini adalah perwakilan dari Akademi Cahaya Bintang ... Zale!!!"
"OOOHHH!!!"
BRUK!
Ketika semua penonton berteriak, sosok Zale tiba-tiba ambruk. Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata pemuda itu juga tumbang.
Saat itu, bisa disimpulkan bahwa keduanya sebenarnya imbang. Hanya saja, karena Aiden lebih lelah dan Zale memiliki keuntungan atribut sihir ...
Pada akhirnya Zale masih bisa bertahan beberapa saat lebih lama!
***
Sementara itu, di kursi penonton.
Reinhart menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tidak seperti orang-orang yang begitu bersemangat, pemuda itu benar-benar malah menutup wajahnya.
Bukan karena takut, tetapi ...
'Memalukan ... sungguh memalukan! Bagaimana kalian dua lelaki besar bisa berteriak (merapal mantra) dengan begitu percaya diri!
Dimana urat malu kalian!!!'
Sebagai seorang lelaki dari dunia lain, jelas pikiran Reinhart agak berbeda dengan para pangeran yang berteriak bangga itu. Itulah alasan kenapa dia menggunakan dan berusaha berlatih agar bisa menggunakan berbagai sihir secara instan, bahkan jika bisa tanpa rapalan!
Karena baginya, berteriak seperti 'chuunibyou' itu terlalu memalukan!!!
Pemuda itu menutupi wajahnya, benar-benar malu karena sikap bangga kedua temannya yang bertarung dan tumbang seperti orang gila di atas arena.
Langsung memiliki niat pura-pura tidak mengenali mereka berdua setelah pertandingan ini!
>> Bersambung.