Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Kekhawatiran Ibu?



Melihat ke arah ibunya yang tampak serius, Reinhart merasa agak salah. Dia kemudian menjelaskan.


"Tenang saja, Ibunda. Saya sama sekali tidak memiliki pacar di akademi."


Ratu Evelyn menatap sosok putranya dari atas ke bawah. Setelah beberapa saat, dia kemudian menulis.


(Tapi, seharusnya kamu mirip ayahmu. Seorang playboy yang suka bermain-main.)


"Tentu saja tidak. Saya tidak ..." Reinhart mengerjap. Menatap ke arah ibunya dengan ekspresi tidak percaya, dia bertanya. "Apakah Ayahanda lelaki macam itu?"


(Lupakan empat selir. Jika kami berdua tidak menghentikan ayahmu, siapa bisa menebak berapa banyak wanita yang dia bawa ke istana.)


(Ya. Meski Ibu akui, Ayahmu adalah pria baik dan romantis.)


Ratu Evelyn memiliki ekspresi serius di wajahnya. Mengangguk ringan penuh persetujuan. Memuji suaminya di depan putranya.


'Orang itu ... romantis?'


Reinhart langsung membayangkan sosok ayahnya yang memiliki ekspresi suram dan dikelilingi oleh aura penuh tekanan. Sudah jelas, pria itu sama sekali tidak tampak seperti sosok yang romantis.


(Mungkinkah kamu tidak memiliki teman di akademi?)


Melihat pertanyaan lain, Reinhart balik bertanya dengan ekspresi agak bingung.


"En? Maksud Ibunda?"


(Tidak perlu malu. Murid akademi memang seperti itu. Jangan khawatir, kamu pasti akan mendapatkan teman yang bisa kamu percaya.)


"..."


Reinhart menatap ke arah ibunya dengan ekspresi curiga. Jelas, jika disimpulkan dari tulisan tersebut, ibunya ... Ratu Evelyn tidak memiliki teman ketika berada di akademi!


'Aku tidak boleh bilang kalau aku memiliki cukup banyak teman, kan?'


Pikir Reinhart ketika melihat sosok ibu yang mencoba menghibur dirinya. Pemuda itu agak ragu. Jika dia membicarakan itu, mungkin ibunya akan langsung membekukan lalu menghancurkan dirinya menjadi beberapa potong es batu.


(Omong-omong, tampaknya kamu cukup akrab dengan adikmu, Reinhart.)


"Edsel dan Edward memang baru-baru ini dekat dengan saya, Ibunda. Apakah ada yang salah?"


(Tidak. Sebaliknya, aku bahagia. Aku rasa begitulah seharusnya keluarga. Tidak begitu dingin seperti goa es di tanah Utara.)


"..."


Melihat ibunya mengangguk puas dengan ekspresi datar di wajahnya, Reinhart tidak bisa berkata-kata. Pemuda itu hanya bisa berteriak dan mengeluh dalam hatinya.


'Memangnya itu salah siapa! Ayah salju ibu es batu, bagaimana bisa anaknya tidak membeku!'


Memiliki ekspresi tenang di wajahnya, jiwa pemuda itu sudah meronta-ronta.


(Apakah kamu tidak apa-apa, Reinhart?)


"Saya tidak apa-apa, Ibunda."


(Kamu benar-benar tidak memiliki pacar di akademi?)


"Maaf, Ibunda. Tidak bisakah kita membahas sesuatu yang lain?" ucap Reinhart dengan ekspresi tanpa daya.


(Kamu tampak lelah, jadi kembali lalu beristirahat.)


Mendengar itu, Reinhart merasa lega. Dia buru-buru membalas.


"Baik, Ibunda. Kalau begitu saya pergi."


Setelah mengatakan itu, Reinhart berdiri. Dia memberi hormat sebelum pergi. Namun sebelum membuka pintu, dia merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya.


Menoleh ke belakang, Reinhart bertanya.


"Apakah ada yang lain, Ibunda?"


Mendengar pertanyaan putranya, Ratu Evelyn menulis pesan.


(Jangan melakukan hal-hal yang terlalu berbahaya. Jika ada masalah, bicarakan kepada ibu atau ayahmu. Kami pasti akan mencoba membantumu sebisanya.)


Merasakan rasa khawatir dari pesan tersebut, Reinhart sempat tertegun. Pemuda itu kemudian tersenyum sembari membalas.


"Terima kasih, Ibunda. Maaf membuat kalian khawatir, tetapi percayalah. Putramu pasti bisa mengatasinya."


Setelah mengatakan itu, Reinhart akhirnya pergi.


***


Beberapa saat setelah Reinhart pergi, Ratu Evelyn yang masih duduk di tempatnya membuka buku.


Saat itu, bayangan di bawahnya menggeliat. Sebuah makhluk aneh keluar dari bayangan lalu melayang di samping Ratu Evelyn.


Bentuk tubuhnya mirip dengan bola basket berwarna hitam pekat dengan permukaan licin. Dua sayap kelelawar kecil ada di atas makhluk tersebut. Dia memiliki empat kaki kecil penuh cakar tajam dan tampak aneh. Sebuah mata besar berwarna kuning dengan iris vertikal berada di tengah-tengah bagian tubuh. Sementara itu, tidak tampak bagian lain seperti telinga, hidung, atau mulut.


Makhluk tersebut menatap ke arah Ratu Evelyn. Saat itu juga, suara muncul di benak wanita tersebut.


"Nona ..."


Belum menyelesaikan telepati, makhluk itu berhenti. Dia melihat Ratu Evelyn menutup buku lalu menatapnya. Maksud tatapan itu sangat jelas.


Jangan mengatakan apa-apa.


>> Bersambung.