
'Jangan mendekatiku.'
'Para bangsawan sampah yang menikmati liburan musim dingin? Enyah!'
'Siapapun dirimu, jangan berani-beraninya menghalangi jalanku.'
Meski tidak mengatakan sepatah kata, semua siswa-siswi merasa tekanan berat dan menakutkan dari sosok pemuda itu. Mereka merasa penampilannya sangat tampan dan mempesona, tetapi juga membawa aura yang membuat mereka tidak berani mendekatinya. Seperti badai musim dingin yang dahsyat, siap untuk membekukan apa yang menghalangi jalannya.
"Yo! Lama tidak berjumpa denganmu, Rein!"
Ya. Semua orang kecuali si pangeran berambut pirang yang datang seperti teriknya musim panas.
"..."
Melihat sosok yang tiba-tiba muncul di depannya, Reinhart benar-benar kehilangan kata-katanya. Setelah menghela napas, dia berkata.
"Tampaknya kamu melewati musim dingin penuh kenangan indah, Aiden."
Reinhart berkata dengan nada tak acuh. Dia kemudian berjalan melewati Aiden dengan ekspresi datar, sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan pembicaraan dengan si pirang.
"Tentu saja itu menyenangkan. Tidak perlu banyak latihan, banyak makanan enak, api unggun hangat, dan ... coba tebak apa yang membuatku sangat terkejut dan senang!"
"..."
Melihat Aiden yang berjalan di sebelahnya sambil terus berkicau seperti burung pejantan yang menarik betina di musim bertelur, Reinhart merasa agak rindu dengan earphone atau headset di kehidupan sebelumnya.
"Ternyata orang tuaku setuju kalau aku memiliki lebih banyak istri!
Ya. Tentu saja itu hal normal, tetapi aku benar-benar lega. Dengan begini, aku tidak perlu lagi banyak berpikir. Selama suka dan memiliki perasaan, aku akan menangkapnya!"
"..."
Melihat bagaimana Aiden pamer kepadanya, sudut bibir Reinhart berkedut.
'Apanya yang menangkapnya? Memangnya kamu pikir para gadis itu hewan peliharaan imut yang bisa didapatkan dengan hanya melempar pokeball?'
Reinhart mengeluh dalam hatinya. Namun yang membuat dia merasa lebih tertekan adalah ...
Si pirang ini sama sekali tidak peka! Tidak merasakan tatapan jengkel yang diarahkan Reinhart kepadanya!
"Omong-omong, bagaimana dengan liburanmu, Rein? Apakah ada sesuatu yang berkesan?"
"..."
Mendengar kata 'berkesan', Reinhart langsung mengingat beberapa kenangan di musim dingin. Baku hantam dengan kera atau beruang, menikmati pemandangan di puncak gunung dengan elang, menyelam dengan para paus. Tentu saja, kenangan itu sangat 'berkesan', bahkan terpatri dalam benaknya!
"Tentu saja, karena seseorang, liburanku menjadi BERKESAN dan PENUH WARNA."
"Mungkinkah ... Mungkinkah kamu memiliki gadis selain adik Leander?"
Aiden menatap sosok Reinhart dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Seolah tidak percaya kalau sahabatnya adalah lelaki seperti itu.
Urat nadi muncul di dahi Reinhart. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Jika bukan karena sedang berada di akademi, pemuda itu pasti dengan senang hati mengajak Aiden untuk mengalami pemukulan dari seni bela diri 100 binatang buas.
Memukulinya hitam dan biru sampai tidak dikenali oleh kedua orang tuanya!
"Jangan samakan aku denganmu, Aiden."
"Berbeda denganku ... tiga tetapi hanya berhasil dua. Jadi, kamu bilang, kamu berhasil mendapatkan lebih dari tiga gadis hanya dalam satu musim, Rein?!
Itu benar-benar keterlaluan."
"..."
Reinhart tiba-tiba merasa lelah. Bahkan lebih lelah daripada melakukan sparing pagi dengan para kera di hutan bersalju. Dia langsung pergi ke ruang kelas tanpa mengucapkan sepatah kata. Tentu saja ... dengan sosok Aiden yang terus berkicau sambil mengikutinya.
Di ruang kelas.
"Selamat pagi semuanya. Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan kalian, bahkan menjadi wali kelas kalian lagi untuk tahun ini."
Sosok Professor Elin berjalan memasuki ruangan sambil berkata dengan nada tak acuh. Dia langsung menuju ke kursinya lalu duduk. Setelah duduk, wanita itu kemudian berkata.
"Karena tidak perlu perkenalan, kelas bisa langsung dimulai. Keluarkan buku kalian."
"Eh???"
Semua orang langsung terkejut. Tidak hanya terkejut karena Professor Elin menjadi wali kelas mereka, tetapi juga terkejut karena pelajaran langsung dilakukan di hari pertama mereka masuk. Benar-benar berbeda dari tahun ajaran pertama atau kelas-kelas lainnya!
"Tentu saja aku bercanda." Professor Elin berbicara tak acuh. "Di kelas dua, kalian bisa memilih lebih banyak mata pelajaran tambahan. Sebagai akademi sihir, pihak sekolah mementingkan pengejaran kalian pada sihir. Namun tidak menutup kemungkinan lain bagi kalian untuk belajar sesuatu hal selain sihir."
"..."
Semua orang terkejut dan bingung harus merespon bagaimana, tetapi Professor Elin tampaknya tidak peduli dan terus melanjutkan.
"Selain kursus sihir elemen utama, kalian bisa memilih hal lain. Contohnya pembuatan ramuan, senjata, pelajaran management keuangan kerajaan, dan banyak lagi.
Meski Akademi Cahaya Bintang mementingkan sihir, tetapi kami (pihak akademi) tidak ingin mematikan potensi kalian. Bagi kalian yang merasa potensi sihir terbatas dan ingin melakukan pekerjaan lain setelah lulus seperti menjadi ahli ramuan, ahli tempa, pedagang, dan sebagainya ... akademi akan tetap mendukung keputusan kalian.
Akan tetapi, kalian juga harus menjaga nilai kalian di atas rata-rata dalam bidang sihir! Itu adalah syarat utama!"
Reinhart menopang dagu dengan ekspresi datar di wajahnya. Bahkan jika dirinya boleh memilih lebih banyak kelas tambahan, dia sama sekali tidak menginginkannya. Lagipula, setelah pulang, dia masih sibuk berlatih dan menghasilkan uang!
"Hey Rein, apakah kamu tertarik untuk bergabung dengan-"
"Tidak."
"Eh? Tapi-"
"Jika aku boleh memilih, aku malah memilih untuk ikut klub pulang ke rumah daripada mengikuti pelajaran tambahan lain."
"..."
Melihat Aiden yang terdiam, Reinhart merasa cukup puas. Dia sama sekali tidak memiliki banyak waktu untuk berurusan dengan hal-hal sepele semacam itu. Pemuda tersebut melihat ke tempat yang lebih jauh.
Untuk tetap hidup dan selamat di dunia yang gila ini, Reinhart ingin mencapai level 6 sebelum lulus! Jadi ketika dirinya dinyatakan lulus dari akademi, pemuda itu telah memiliki kemampuan untuk berjalan santai di benua dengan santai.
Tidak takut mati karena kecelakaan seperti terkena tembakan sihir nyasar atau terlibat dalam pertempuran para penyihir tingkat tinggi!
"Omong-omong, tampaknya dua orang putra bangsawan dari kerajaanmu tampaknya cukup ganas, Rein."
"En?"
Mendengar ucapan Aiden, Reinhart mengangkat alisnya. Setelah memilah beberapa kenangan, dia ingat kalau memang ada dua bangsawan dari kerajaannya. Dua adik kelas cukup kuat yang merupakan target heroine dalam Otome Game tersebut.
Pada saat cerita dimulai dimana heroine masuk ke Akademi Cahaya Bintang, akan ada banyak target. Bisa dibilang, cara menaklukkan mereka terbagi dalam beberapa tingkatan. Untuk para bangsawan tampan yang sekarang berada di kelas satu, mereka terbilang cukup mudah dibandingkan enam pangeran di kelas dua yaitu Reinhart, Aiden, Xylon, Flint, Zale, dan Leander.
Berbicara soal canon dan alur cerita game, Reinhart mengingat sosok Maria.
"Apakah kamu tertarik dengan gadis yang masuk ke akademi dengan beasiswa, Aiden? Seharusnya gadis itu cukup terkenal, bukan?"
Mendengar pertanyaan Reinhart, Aiden menatap ke arah sahabatnya itu dengan ekspresi aneh. Dia memiringkan kepalanya sambil bertanya.
"Gadis jalur beasiswa yang mana? Aku rasa tidak ada siswa tambahan di jalur beasiswa, kan?"
Mendengar ucapan Aiden, ekspresi Reinhart berubah. Saat itu, pemuda tersebut sadar ...
Tampaknya dia benar-benar telah mengacaukan seluruh alur cerita dalam Otome Game!
>> Bersambung.