Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Kota Kecil dan Pub



"Yah! Masih terburu-buru untuk membicarakan ini."


Setelah mengatakan itu, Reinhart bangkit. Dia menepuk debu di jubahnya lalu kembali berkata.


"Aku akan pergi berkeliling sebentar. Lebih baik kalian tidak coba-coba melakukan hal berbahaya. Apa yang terjadi kepada kalian bukanlah tanggung jawabku."


Maria dan Hilda menatap ke arah Reinhart yang menghilang di hutan dengan tatapan heran.


Hilda menatap ke arah Maria lalu berkata dengan senyum di wajahnya.


"Tampaknya Pangeran Reinhart memiliki kesan baik terhadapmu, Maria."


"Jangan menggodaku!" ucap Maria kesal. "Pangeran Reinhart itu ... lebih mirip pahlawan bagiku."


"Heh~" Hilda melihat perubahan halus di wajah Maria. "Pahlawan ... kah?"


Setelah Reinhart pergi, mereka mulai membicarakan hal lain. Waktu pun terus mengalir dengan tenang.


***


Keesokan paginya.


"Kenapa kalian begitu lama?


Jika tidak segera berkemas, aku akan membiarkan kalian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki."


Reinhart berkata dengan suara monoton. Mendengar ucapannya, keempat gadis menjadi panik.


Maria dan Hilda tampil cukup baik, sedangkan Delia dan May tampak berantakan. Rambut mereka acak-acakan, kantung mata mereka menghitam. Tampaknya kurang tidur. Sekitar setengah jam kemudian, mereka semua akhirnya siap. Perjalanan pun dilanjutkan.


Pada pukul tiga sore, Reinhart dan keempat gadis memasuki kota.


Meski dibilang kota, Reinhart sendiri lebih suka menyebutnya desa. Bangunannya memang cukup bagus, tetapi kota itu cukup kecil. Bahkan lebih kecil dibandingkan dengan Kota Roscars. Tempatnya juga agak terpencil.


Kebanyakan orang yang datang adalah para petualang yang menyewa kereta kuda atau bahkan berjalan kaki menuju ke tempat ini. Di hutan dan pegunungan ini tidak ada binatang sihir yang memiliki nilai tinggi. Sebagai gantinya, ada tanaman berharga.


Jika cukup beruntung, seseorang bisa menemukan tanaman langka yang bisa dijual dengan harga tinggi. Jika kurang beruntung, seseorang bisa masuk ke sarang binatang sihir dan kehilangan nyawanya. Sebuah pekerjaan dengan penghasilan sekaligus resiko tinggi.


Sampai di kota tersebut, Reinhart langsung mengarahkan kereta kuda ke penginapan.


Pemuda itu kemudian membawa keempat gadis untuk memesan kamar. Dia memilih kamar single, sementara para gadis memilih dua kamar double. Sama seperti sebelumnya, Delia dengan May, sedangkan Maria dengan Hilda.


Para gadis langsung memilih untuk beristirahat. Reinhart langsung pergi keluar dari penginapan. Targetnya adalah mengumpulkan informasi. Sedangkan lokasi yang dia tuju ...


Sudah pasti pub paling terkenal di kota!


Sampai di depan pub, Reinhart bertemu dengan empat orang yang tiba-tiba menghadang jalannya.


"Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini, Anak Kecil?"


"Lihat wajah yang putih bersih itu. Apakah dia petualang? Aku rasa lebih mirip simpanan wanita bangsawan tertentu."


"Hahaha. Tampaknya dia frustrasi dan melarikan diri dari si nyonya."


Melihat ke arah mereka berempat, Reinhart sama sekali tidak begitu peduli.


"Bisakah kalian menyingkir, Pak Tua. Kalian menghalangi jalan."


Ucapan Reinhart langsung membuat mereka berempat terdiam sejenak. Sesaat kemudian, tekanan muncul dari tubuh mereka berempat. Satu ksatria level 3, satu penyihir circle 2, dan dua ksatria level 2.


"Tadi kamu bilang apa, Nak?"


"Ya. Apakah kamu mengatakan sesuatu?"


"..."


"Katakan sekali lagi jika kamu berani, Nak."


Saat itu juga, sebuah pertanyaan muncul dalam benak Reinhart.


'Kenapa tokoh A, B, C, dan sebagainya suka berpura-pura menjadi kuat? Bahkan memiliki hobi untuk membuat masalah dengan anak muda yang tampak lemah dan lembut?'


'Kemungkinan besar mereka semua lelah karena ditampar oleh realita dunia. Mengalami kehidupan buruk dan enggan menghadapi realita. Ya ... mencari tempat untuk melampiaskan amarah mereka.'


Memikirkan itu, Reinhart merasa kalau semuanya begitu masuk akal.


"Apakah kamu ketakutan, Nak?"


"Hehehe. Tampaknya kamu membuatnya kencing di celana, Kak?"


"Pendatang baru ini tampaknya belum melihat dunia. Terlalu sering makan nasi lembut dan berpikir kalau dunia begitu indah."


Pada saat itu, tiba-tiba tekanan mengerikan muncul dari tubuh Reinhart. Penyihir circle 1, circle 2, circle 3 ... terus naik sampai menunjukkan tekanan penyihir petir circle 4.


Merasakan tekanan yang muncul dari tubuh Reinhart, keempat orang itu tanpa sadar mundur beberapa langkah. Menatap ke arah pemuda tersebut seolah sedang melihat monster. Bahkan, penguasa kota ini hanyalah penyihir tingkat 3 dan orang itu berusia paruh baya.


Circle 4 di usia yang begitu muda ... jangankan melihat, mereka bahkan belum pernah mendengarnya sebelum ini!


'Apakah aku berlebihan?'


Pikir Reinhart sambil memiringkan kepalanya.


Pemuda itu hanya menunjukkan kekuatan sihir orang yang baru menembus circle 4, tetapi tidak menyangka memiliki efek sebesar itu. Belum lagi jika dia menunjukkan kekuatan level 5. Reinhart curiga mereka akan pingsan di tempat.


'Ya ... untung saja aku bisa menahan diri.'


Petir menari-nari di sekitar Reinhart. Sesaat kemudian, semua petir menghilang. Pemuda itu tampak kembali seperti sebelumnya. Penampilan lelaki tampan dengan ekspresi dingin di wajahnya.


"Bisakah kalian menyingkir sekarang? Kalian benar-benar menghalangi jalan." tanya Reinhart.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, keempat orang itu langsung menyingkir. Tidak lagi mencoba mempersulit pemuda di depan mereka. Lagipula, mereka belum bosan hidup. Tidak ingin mati lebih awal.


Pada saat Reinhart memasuki pub, banyak orang yang menatap ke arahnya. Jelas, mereka semua penasaran. Bertanya-tanya kenapa sosok pemuda kuat seperti itu tiba-tiba muncul di tempat terpencil seperti ini.


Reinhart mengabaikan tatapan mereka lalu pergi memilih tempat duduk di sudut yang agak terpencil. Meja dekat dengan jendela yang kebetulan kosong. Dia kemudian mengangkat tangannya, menyuruh pelayan untuk datang.


Akan tetapi, alih-alih pelayan, sosok wanita dewasa dengan tubuh bak model muncul dari dalam. Dia mengambil papan menu kemudian segera menghampiri Reinhart. Sampai di depan pemuda itu, wanita tersebut membuka mulutnya.


"Ingin pesan apa, Tampan?"


"Beri aku makanan dan minuman khas kota ini. Pastikan itu menu yang terbaik."


Mendengar pesanan Reinhart, wanita cantik itu langsung mencatatnya.


"Ternyata pelanggan dari jauh. Omong-omong, kenapa datang ke tempat terpencil semacam ini, Tampan?"


"Karena aku dengar, ada Bos Cantik yang tersembunyi di pub kecil kota terpencil ini."


Mengatakan itu, Reinhart menatap tepat ke mata wanita cantik dengan rambut merah bergelombang tersebut. Sesaat kemudian, wanita itu tersipu sambil mengeluh.


"Benar-benar mulut yang manis!"


Reinhart sedikit menggelengkan kepalanya. Dia kemudian berkata, "Aku sudah agak lapar, jika kamu tidak segera menyajikan pesananku, mungkin aku akan memakanmu terlebih dahulu."


"Hmph!"


Wanita itu mendengus dingin, tetapi masih merona. Ketika hendak pergi, suara Reinhart kembali terdengar. Hanya saja, suaranya tidak lagi main-main seperti sebelumnya.


"Aku ingin membeli hal-hal (informasi) yang kamu kumpulkan. Soal harga ... kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."


>> Bersambung.