Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Mimpi Yang Terulang



"Sungguh, aku benar-benar tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Rein."


Setelah mengantar Noctis ke ruang perawatan, Professor Elin meminta muridnya pergi ke kantornya. Menatap ke arah pangeran berambut perak itu, dia hanya bisa menghela napas panjang.


"Seharusnya masalah tubuhmu telah terselesaikan, kamu juga tumbuh dengan sangat cepat. Alasan kenapa aku memintamu melakukan latihan khusus saat liburan karena aku pikir kamu akan santai setelah tahun ajaran baru dimulai.


Siapa sangka, kamu malah masih begitu bersemangat dalam mengejar kekuatan.


Terakhir kali, kamu berhasil menembus batasan circle lima penyihir petir. Apa yang lebih mengerikan, sihir kegelapan yang menumpuk dalam tubuhmu benar-benar mendorongmu menembus circle empat dalam satu tahun. Meski hal tersebut dikarenakan menumpuknya sihir kegelapan selama bertahun-tahun dan darah iblis dalam tubuhmu ... itu masih terlalu mengerikan.


Aku sampai heran bagaimana kamu bisa bertahan sampai tahun lalu tanpa menjadi gila atau meledak karena sihir yang berlebihan."


"..."


Melihat sosok Reinhart masih diam saja, Professor Elin tersenyum masam.


"Penyihir petir circle 5 sekaligus penyihir kegelapan circle 4 di usia 16 tahun. Bahkan pahlawan dan para penyihir besar dalam sejarah tidak akan bisa melakukan hal semacam itu. Jika para sarjana sihir mendengarnya, mereka pasti tidak akan percaya kecuali melihatnya dengan mata mereka sendiri.


Belum lagi, fisikmu saat ini sudah lebih baik daripada kebanyakan penyihir. Jadi, aku akan bertanya ... kenapa kamu masih terobsesi dalam mengejar kekuatan, Rein?"


"Aku hanya ingin memiliki kekuatan untuk berjalan dengan tenang di dunia setelah lulus dari akademi," jawab Reinhart datar.


"Kamu adalah pangeran, bahkan sosok yang mungkin menjadi putra mahkota dari salah satu kerajaan besar di benua ini. Sungguh! Tidak ada orang waras yang akan membuat masalah denganmu setelah melihat identitasmu!"


"Itu hanya berlaku untuk orang-orang waras!" ucap Reinhart tidak puas.


"Apa???" Professor Elin mengangkat alisnya.


"Sekte gelap yang jahat dan sesat, pembunuh bayaran yang serakah akan uang, para peneliti sihir gila yang melakukan segalanya atas dasar kemajuan sihir dan pengetahuan ... mungkin juga iblis.


Orang-orang gila itu sama sekali tidak peduli dengan identitas! Mereka gila dan tidak akan bertindak dengan cara wajar!"


"Dari mana kamu mendapatkan informasi itu?! Terlebih lagi, hal semacam itu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan oleh anak sepertimu. Para orang dewasa yang akan mengurus semuanya! Jadi kamu hanya perlu menikmati masa mudamu!"


Mendengar ucapan tersebut, Reinhart langsung mengeluh dalam hati. Bahkan memarahi leluhur yang mulai menyebarkan ajaran agar para pemuda tidak khawatir.


'Jika ucapanmu bisa dipercaya, aku sama sekali tidak akan bekerja keras! Leluhur sampah itu berkata dengan cara luar biasa, tetapi pada akhirnya tidak bisa membasmi organisasi jahat kecil ratusan tahun yang lalu.


Saat ini sekte gelap itu menjadi besar dan lebih gila, siapa yang menderita? Bah! Jangan bercanda denganku!'


Selain karena ingin hidup tenang, Reinhart sendiri juga memiliki alasan kenapa dia harus buru-buru menjadi kuat. Sebuah alasan yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Alasan yang bukan hanya menyangkut keinginan, tetapi juga kehidupannya.


"Sudah aku duga kamu tidak akan mendengarkanku." Professor Elin menghela napas panjang. "Kalau begitu jangan berlebihan. Aku tidak ingin sampai terjadi kecelakaan. Aku tidak ingin ditanyai oleh ibumu."


'Ya ... itulah yang diucapkan oleh guruku. Wanita yang menyuruhku melompat ke laut di musim dingin untuk berenang dengan para paus.'


Mendengar ucapan gurunya, Reinhart langsung mengeluh dalam hatinya.


Wanita itu terus memberi nasihat penting kepada Reinhart. Meski sebagian hanyalah ocehan, tetapi sebagian masih sangat berguna karena berisi tinjauan tentang kekurangan pemuda itu baik di bidang sihir, pertarungan jarak dekat, atau hal-hal lainnya. Selesai berbincang cukup lama, Professor Elin akhirnya meminta muridnya tersebut kembali.


***


"Anda benar-benar luar biasa, Tuan. Mungkin dalam satu atau dua tahun, anda akan mengalahkan saya tanpa harus menggunakan sihir. Tampaknya saya akan segera kembali ke istana karena tidak lagi dibutuhkan," ucap Isana dengan senyum di wajahnya.


Meskipun wanita itu tersenyum, Reinhart merasakan jejak kesedihan dalam ucapan dan tatapan matanya. Pemuda itu kemudian menghampiri Isana lalu menyentil dahinya.


"Tuan?"


Isana memiringkan kepalanya, tampak bingung dengan tindakan tuannya. Namun sebelum dia tahu apa yang terjadi, sosok Reinhart tiba-tiba memeluknya. Saat itu juga pemuda tersebut berkata kepadanya.


"Kamu adalah ksatria sekaligus pengikutku yang paling setia, Isana. Bahkan jika aku menjadi putra mahkota atau raja, aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu. Tentu saja, jika kamu lelah mengikutiku, meski enggan ... aku akan membebaskanmu."


"Eh??? Tolong lepaskan saya, Tuan. Saya berkeringat dan kotor."


Isana tampak panik karena pelukan tiba-tiba. Mendengar ucapan tuannya, ekspresinya berangsur-angsur menjadi tenang. Dia tidak lagi panik, justru memiliki ekspresi penuh syukur di wajahnya. Wanita itu bersandar pada bahu Reinhart lalu memejamkan matanya.


"Terima kasih, Tuan."


"Sama-sama."


Reinhart membalas dengan tepukan lembut pada punggung Isana. Saat itu, sosok kecil keluar dari pintu belakang rumah dan menghampiri mereka.


"Saya ... Saya juga akan berjuang untuk melindungi anda, Tuan!"


Melihat Lyn kecil yang mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi tegas tetapi malah terlihat lucu, Reinhart tersenyum. Melepaskan pelukannya pada Isana, dia mengelus kepala Lyn dan mengacak-acak rambut gadis kecil itu.


"Tentu saja, Lyn akan menjadi penyihir hebat. Aku akan menunggu saat kamu akan melindungiku kelak."


"Hehehe~ Serahkan pada saya, Tuan!" ucap Lyn dengan bahagia.


Setelah menghabiskan waktu dengan pelayannya seperti biasa, Reinhart mandi lalu makan malam. Dia melanjutkan aktivitas dengan membuat potion berharga untuk dijual, kemudian belajar sebentar sebelum beristirahat.


***


Memejamkan matanya, Reinhart merasa tubuhnya hanyut dalam tempat yang gelap. Ketika membuka matanya, dia melihat tempat yang tidak asing. Sebuah tempat yang beberapa kali dia lihat sejak kembali dari Kerajaan Lautan Zamrud.


Ya ... sebuah ruang luas berwarna putih dengan empat sosok yang berdiri di kejauhan dan memunggunginya.


'Sungguh, jika bukan karena melihatnya berkali-kali, aku pasti hanya berpikir ini mimpi biasa.'


Duduk di kursinya tanpa bisa bergerak ke mana-mana, Reinhart tersenyum masam.


Karena mimpi ini, pemuda tersebut melakukan banyak penelitian dan akhirnya menemukan sebuah alasan kenapa dia mengalami mimpi semacam ini. Suatu hal yang mungkin sepele dan tidak masuk akal, tetapi bisa mempengaruhi kehidupannya.


Bukan hanya mempengaruhi kehidupannya, tetapi juga memiliki kemungkinan besar membuatnya terbunuh.


Melirik ke empat arah dimana ada beberapa sosok berbeda tetapi familiar, Reinhart menghela napas karena tak berdaya. Pemuda itu diam-diam mengeluh dalam hatinya.


'Sungguh ... Siapa yang menyangka kalau jiwaku ternyata rusak?'


>> Bersambung.