
Tiga bulan kemudian, dalam perpustakaan Akademi Cahaya Bintang.
"Sudah berhari-hari aku mencari, tetapi sama sekali tidak menemukan petunjuk. Tampaknya satu-satunya cara hanyalah pulang dan mencari di perpustakaan keluarga. Lagipula ...
Seluruh buku berbahaya dan penting disembunyikan di bagian terlarang. Aku tidak bisa menerobosnya masuk ke sana."
Reinhart bergumam pelan. Ekspresinya tampak begitu tenang. Penampilannya sedikit lebih dewasa daripada sebelumnya.
Dalam tiga bulan ini, Reinhart menjalani kehidupan sekolahnya dengan tenang. Tidak banyak hal yang terjadi. Namun, hubungan antara para pangeran termasuk dirinya menjadi lebih renggang setelah turnamen sebelumnya.
Reinhart sendiri memiliki banyak masalah yang harus diselesaikan, jadi tidak memikirkan hal-hal tersebut. Dia terlalu fokus pada pelatihan tubuh dan sihir. Tidak hanya itu, pemuda itu juga mencoba mengembangkan beberapa hal sendiri tanpa sepengetahuan gurunya. Dengan begitu, tanpa terasa waktu berlalu begitu saja.
Meski hubungannya dengan para pangeran menjadi lebih renggang, Reinhart sama sekali tidak bermusuhan dengan mereka. Dia masih menghadiri kelas dengan Aiden, sesekali bertemu dengan Leander, dan melakukan beberapa hal lain bersama mereka.
Alasan kenapa hubungan mereka agak renggang dan retak sebenarnya mudah dipahami. Reinhart tahu kalau banyak murid, khususnya di tahun pertama mulai membuat ranking berdasarkan kekuatan para pangeran.
Sebenarnya, menurut Reinhart sendiri, kemampuan mereka tidak begitu jauh berbeda. Hanya saja, para pangeran itu memiliki harga diri yang begitu tinggi. Mereka semua berlatih dengan gila untuk melebihi satu sama lain.
Reinhart sendiri berlatih lebih keras dan lebih gila daripada mereka semua. Hanya saja, itu bukan karena keinginannya. Hal tersebut dilakukan karena menu latihan yang telah disiapkan oleh gurunya.
Daripada latihan gila-gilaan seolah tidak ada hari esok, Reinhart sendiri lebih suka melakukan berbagai macam penelitian. Khususnya, penelitian sihir. Hal tersebut bisa dibilang sebagai hobinya.
Sedangkan alasan kenapa Reinhart ada di perpustakaan bukan karena hobi atau tugas. Sebenarnya, dia mulai mencurigai sesuatu setelah mengalami beberapa mimpi yang sama. Itulah sebabnya, pemuda itu mencoba mencaritahu. Namun, seperti yang dilihat ...
Hasilnya nihil!
Menghela napas panjang, Reinhart akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sekarang sudah sore. Dia sendiri pergi ke perpustakaan setelah semua pembelajaran selesai. Ada dua alasan kenapa pemuda itu melakukan hal tersebut. Menghindari keramaian dan mencoba mendapatkan lebih banyak waktu untuk mencari.
Reinhart berjalan melewati taman pinggir akademi seperti hari-hari biasa dia pulang. Hanya saja, saat ini hal yang tidak biasa terjadi.
"Kenapa kamu melakukan ini, Sophia?!"
Teriakan tajam terdengar.
Tentu saja, sebagai pemuda yang masih tahu tata krama, Reinhart memilih untuk tidak langsung lewat dan mengganggu. Sebaliknya, dia berdiri di balik bayangan bangunan. Bersandar di sana sambil memejamkan mata. Menghilangkan hawa keberadaannya.
"Aku ... Aku ..."
Suara gadis di sisi lain tampak gugup dan merasa bersalah.
"Kamu tahu kalau Pangeran Aiden adalah tunanganku, kan? Kenapa kamu melakukan hal itu? Bukankah kita teman?"
Mendengar suara familiar itu membuat Reinhart tidak bisa tidak membuka matanya dan "melihat situasi".
Benar saja. Seperti dugaannya. Ada tiga gadis yang ada di sana. Mereka adalah Helena, Sophia, dan Caterina.
Helena tampak marah. Sophia tampak gugup dan merasa bersalah. Sedangkan Caterina sendiri tampak bingung, berusaha untuk menenangkan mereka tetapi tidak bisa.
"Aku tidak bermaksud untuk melakukannya, Helena. Aku ..."
"Berhenti bersikap sok lemah lembut, dasar J-lang kecil yang licik! Kamu jelas menggoda Aiden padahal dia adalah tunanganku!"
Helena menunjuk ke wajah Sophia dengan ekspresi kesal. Dia tampak marah dan muak dengan gadis imut serta tampak polos itu.
Melihat drama itu, Reinhart berkedip. Entah kenapa, dia baru sadar kalau hubungan cinta Aiden itu rumit. Turut berdukacita untuk pangeran pirang itu.
Baru memikirkannya, Reinhart melihat sosok Aiden yang datang dari kejauhan.
Aiden yang tiba langsung berdiri di depan Sophia. Menghalanginya agar tidak terluka oleh Helena.
"Aku sudah mengatakannya, Helena. Aku tidak setuju dengan hubungan kita! Aku sudah menyatakan ini kepada ayah dan ibu. Mereka juga menyetujuinya!
Kamu dan aku tidak ada hubungannya lagi."
"Kenapa, Aiden?! Padahal aku mencoba untuk melakukan yang terbaik. Kenapa kamu malah memilih J-lang kecil yang menggodamu?! Kenapa!!!"
Air mata Helena jatuh. Dia menatap sosok Aiden yang melindungi Sophia dengan ekspresi putus asa.
"Berhenti bersikap seolah kamu lebih baik daripada Sophia, Helena!
Dia adalah gadis baik! Sementara kamu selalu pamer dan mencoba menarik perhatian, Sophia malah mendukungku.
Kamu bilang kamu tunanganku, kan? Lalu ketika aku jatuh, aku tertekan, aku terpuruk ... kamu ada di mana? Kamu tidak ada di sisiku!
Sebaliknya, malah Sophia ... gadis yang kamu anggap sebagai sampah dan pengganggu yang malah sering ada di sisiku!
Mungkin dia bukan gadis bangsawan terbaik, tetapi gadis ini mencoba mendukung aku dengan segala yang dia miliki! Memberi semangat, mencoba membantuku agar tidak putus asa! Dia membantuku walau sering kali aku membentak dirinya!"
"Jangan katakan itu, Pangeran Aiden! Helena benar. Kamu adalah tunangannya. Aku bukan siapa-siapa.
Aku ... Aku hanya sedikit mendukung, okay?
Kumohon, jangan bertengkar lagi. Helena, kamu adalah sahabatku. Aku ... Aku tidak mungkin—"
Aiden tiba-tiba menyela Sophia yang berbicara sambil menangis.
"Cukup! Aku lebih memilih dirimu daripada Helena, Sophia! Ketika liburan musim dingin, aku akan kembali ke istana dan mengatakan semuanya kepada orang tuaku.
Mari kita bertunangan saat itu!"
Menonton drama tersebut, Reinhart tiba-tiba berkeringat dingin. Pemuda itu merasa sedang mengalami mimpi buruk. Namun setelah mencubit tangannya sendiri dan merasakan sakit, dia sadar bahwa semua ini bukan mimpi.
Itu berarti ...
Semua yang terjadi saat ini benar-benar melenceng dari naskah yang seharusnya!
>> Bersambung.