
Pada saat kembali ke rumah, Reinhart langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang tanpa berganti pakaian.
"Melelahkan ..."
Membuka topeng yang menutupi wajahnya, pemuda itu menatap langit-langit dengan ekspresi kosong. Benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Bagaimana mungkin wanita bisa begitu pendiam?" gumam Reinhart.
Sejak berangkat sampai kembali ke istana, Reinhart benar-benar tidak mendengar Ratu Evelyn berbicara. Bukan hanya ketika berada di restoran, tetapi juga ketika memesan pakaian, bahkan membeli beberapa barang.
'Bagaimana hal tersebut bisa dilakukan?'
Apa yang dilakukan oleh Ratu Evelyn benar-benar membuat mentalitas Reinhart terguncang. Belum lagi, dia merasa aneh ketika melihat orang-orang bisa mengetahui apa yang ibunya maksud padahal wanita itu tidak mengatakan apa-apa.
Reinhart bahkan merasa kalau dia benar-benar buruk dalam memahami orang lain.
Ya. Dia baru sadar kalau dirinya benar-benar kurang baik dalam hal itu!
Reinhart menghela napas panjang. Setelah beberapa saat berbaring, dia bangkit lalu berganti pakaian. Saat itu juga, pintu kamarnya diketuk. Ketika pemuda itu membuka pintu, dia melihat sosok wanita paruh baya dengan pakaian pelayan.
Wanita tersebut memberi hormat lalu berkata.
"Pangeran Reinhart, Yang Mulia Ratu Evelyn mencari anda. Beliau meminta anda untuk pergi ke ruang belajar pribadi beliau."
"..."
Ekspresi Reinhart langsung berubah menjadi stagnan. Dia tiba-tiba merasa agak takut. Pemuda itu langsung menduga ibunya telah menyadari kalau dirinya telah mengikuti wanita tersebut seperti paparazi.
'Bukankah itu ibuku sendiri? Kenapa aku harus takut?'
Pertanyaan tersebut muncul dalam benak Reinhart. Hanya saja, tubuhnya merasa sedikit gemetar. Bergerak kurang sesuai dengan keinginannya sendiri. Hal tersebut langsung membuat ekspresinya menjadi serius.
Ya. Ini juga masalah yang Reinhart ingin pecahkan! Namun, dia benar-benar tidak tahu bagaimana dan ingin mencaritahu jawabannya di area terlarang ruang rahasia.
'Level 5 ...'
Memikirkan itu, ekspresi Reinhart menjadi lebih berat. Pemuda itu tiba-tiba menghela napas panjang. Dia kemudian menatap sosok pelayang lalu membalas.
"Dimengerti."
Setelah mendapatkan jawaban dari Reinhart, wanita tersebut membungkuk sopan sembari berkata.
"Kalau begitu saya akan pergi, Pangeran Reinhart."
Melihat wanita itu pergi, Reinhart memijat keningnya dengan ekspresi lelah. Dia kemudian kembali ke kamar lalu mengambil tas dimensi. Dia juga selalu memakai cincin dimensi untuk berjaga-jaga. Bahkan jika berada di depan ibu atau ayahnya, pemuda itu harus bersiap.
Bukannya Reinhart tidak tahu malu. Hanya saja, dia masih merasa perlu berhati-hati. Bahkan jika dirinya mengetahui isi cerita, itu hanya sebagian kecil dari informasi yang berpusat pada canon di Akademi Cahaya Bintang dan tempat-tempat lain.
Mungkin saja ayah atau ibunya adalah jenis bos tersembunyi yang ternyata jahat, berkolusi dengan iblis atau semacamnya.
Reinhart kemudian berjalan menuju ke sebuah ruangan di lantai atas istana. Menuju ke sudut yang tidak begitu mencolok, dia berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.
Menarik napas dalam-dalam, Reinhart mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Tanpa ada jawaban, pintu tiba-tiba terbuka. Sosok wanita paruh baya sebelumnya memberi hormat lalu memberi arahan pada Reinhart sembari berkata.
"Silahkan masuk, Pangeran Reinhart. Yang Mulia Ratu Evelyn telah menunggu."
Meski agak ragu, Reinhart masih masuk ke dalam ruangan. Saat dirinya masuk, pelayan tadi keluar ruangan lalu menutup pintu. Benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata.
Berjalan ke depan, Reinhart melihat sebuah ruangan besar yang dipenuhi dengan rak buku di keempat sisi dinding. Ada juga sebuah perapian dengan beberapa kayu terbakar. Meski begitu, dia masih merasa kedinginan.
Pandangan Reinhart berhenti di beberapa kursi sofa dan sebuah meja. Mengabaikan beberapa kue dan teh panas di atas meja, tatapan pemuda itu fokus ke arah sosok wanita cantik yang duduk dengan tenang.
Tampaknya wanita tersebut merasakan kehadirannya, jadi langsung menutup buku yang dia baca lalu menatap Reinhart.
"Saya dengar anda mencari saya, Yang Mulia Ratu."
Reinhart memberi hormat sopan, berkata sambil menunggu respon dari ibunya.
"..."
Ratu Evelyn diam saja. Dia hanya memberi isyarat pada Reinhart untuk duduk. Benar-benar membuat pangeran berambut perak itu kewalahan.
Duduk di sofa berseberangan dengan Ratu Evelyn, Reinhart merasa agak gugup.
Beberapa menit berlalu begitu saja. Reinhart merasa punggungnya mulai berkeringat. Benar-benar tidak tahan dengan tatapan ibunya.
'SETIDAKNYA KATAKAN SESUATU!'
Teriak Reinhart dalam hatinya. Merasa agak putus asa.
Saat itu, Ratu Evelyn mengangkat tangan kanannya. Ketika tangannya terulur, jari telunjuk wanita itu diwarnai dengan cahaya biru muda yang aneh.
Merasakan Ratu Evelyn tiba-tiba menggunakan mana, Reinhart langsung melompat mundur. Mendarat beberapa meter di belakang, sebuah pedang muncul di tangannya.
Gerakan Ratu Evelyn terhenti. Menatap ke arah putranya dalam diam.
Sementara itu, mata Reinhart menyempit. Benar-benar memiliki ekspresi serius di wajahnya. Pemuda itu diam-diam berpikir.
'Tampaknya ini bukan hanya pembicaraan empat mata antara ibu dan anak.'
Memikirkan itu, tangan Reinhart memegang gagang pedang lebih erat.
>> Bersambung.