
Satu jam kemudian, di ruang tamu Istana Kerajaan Lautan Zamrud.
"Kalian sungguh sangat cocok satu sama lain."
Ratu berkata dengan nada penuh pujian. Melihat ke arah Reinhart dan Vanessa yang duduk bersebelahan, wanita itu tampak sangat puas.
Vanessa menunduk dengan rona merah di pipinya. Dia bermain dengan jari-jarinya sambil sesekali melirik ke arah Reinhart.
Sementara itu, Reinhart, si pangeran dingin dari Kerajaan Rembulan Perak memegang cangkir teh dengan tangan gemetaran. Ekspresinya agak pucat ketika dia mencoba memaksakan diri untuk memeras senyuman.
"Apakah kamu baik-baik saja, Suami?"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Reinhart langsung batuk. Menoleh ke arah Vanessa dengan gerakan kaku seperti robot, dia berkata.
"Aku baik-baik saja. Namun ..."
Menarik napas dalam-dalam, Reinhart yang membulatkan tekad langsung berkata dengan tegas.
"Tampaknya saya dan Putri Vanessa tidak cocok."
"..."
Ruangan langsung menjadi sunyi. Beberapa detik kemudian, aura sengit langsung muncul dari tubuh Raja.
"APA KATAMU?!!"
Melihat Raja yang marah, Reinhart langsung membayangkan perang antara dua kerajaan besar. Perang besar berkelanjutan yang membuat kehidupan kecilnya kembali terancam.
"Maksud saya, Putri Vanessa sangat cantik dan luar biasa. Hanya saja, saya memiliki tujuan tersendiri."
Mengatakan itu, Reinhart menepuk dadanya dengan ekspresi hormat.
"Meski saya tidak begitu hebat, saya telah membulatkan tekad untuk mengejar kekuatan untuk melindungi diri saya sendiri dan orang-orang yang saya sayangi.
Jadi, daripada mengejar cinta, saya ingin mengejar kekuatan hingga menjadi cukup kuat dan bisa diandalkan."
Setelah mengatakan itu, dengan ekspresi tenang dan elegan Reinhart kembali menyesap teh. Ya ... meski punggungnya basah oleh keringat dingin dan kakinya terasa lunak.
"Oh! Kalau itu kami dan kedua orang tuamu sudah membahasnya."
"Eh?"
"Vanessa berusia 12, hampir 13 tahun. Setelah kamu lulus tiga tahun kemudian, gadis ini telah berusia 15 tahun dan siap menikah.
Tenang saja, bahkan jika tidak masuk ke akademi, Vanessa telah mendapatkan pendidikan aristokrat sejak muda. Lebih baik daripada lulusan akademi manapun dalam segi pendidikan ataupun perilaku."
"Eh?"
"Sebenarnya, kami ingin kalian segera menikah setelah lulus. Namun jika kamu memilih untuk mengejar kekuatan dan berkarir dalam militer untuk membangun pasukan kepercayaan milikmu sendiri, Vanessa masih bisa bersekolah tiga tahun lagi.
Jadi ketika kamu menyelesaikan semuanya, dia akan lulus dan kalian tinggal menikah."
Raja tersenyum dengan ekspresi santai.
"Ayah tampan dan ibu cantik, pasti kalian memiliki anak yang sangat menggemaskan. Ibu jadi ingin segera menggendongnya."
Ratu berkata dengan ekspresi penuh harap. Memandang keduanya dengan mata berkilauan seolah ada bintang di dalamnya.
"..."
Reinhart terdiam. Pemuda itu kehilangan kata-katanya. Bahkan, segala ide untuk meloloskan diri langsung menghilang seketika. Tampaknya, ayah dan ibunya cukup cerdik sehingga membuat dirinya tidak memiliki jalan keluar dari situasi ini.
Sementara Reinhart tampak linglung, batinnya mulai berkonflik.
'Tidak mungkin kamu akan menurut, kan? Dimana kebebasan memilih itu? Kamu harus memperjuangkannya!
Jika perlu, kamu harus melarikan diri! Dunia ini luas! Jangan terjebak di satu tempat!'
'Ya! Bahkan jika cantik kenapa? Banyak wanita cantik di dunia ini!
'Ya! Jika menerima ini, hidup bebas hanyalah angan-angan! Kamu akan dikekang selama hidupmu!'
Jiwa pemberontak Reinhart meronta-ronta. Namun saat itu, sisi lain Reinhart tiba-tiba menyela.
'Terima saja. Terima untuk menghindari perang dua kerajaan.
Jika kamu menolak dan melarikan diri, bukankah kamu akan diburu dua kerajaan? Tidak hanya itu, bukankah kamu ingat ada Wings of Chaos yang berisi orang-orang gila di luar sana?
Apakah kamu yakin?'
'...'
Perkataan batin Reinhart langsung membuat pikiran-pikiran pemberontak itu terdiam.
Reinhart tiba-tiba menepuk pundak Vanessa dengan lembut. Menatap ke arah Raja dan Ratu dengan mata menyipit ditambah senyum layaknya biksu yang mendapatkan pencerahan, pemuda itu berkata dengan nada datar.
"Suatu kehormatan bagi saya untuk menjadi pasangan Putri Vanessa."
***
Malam harinya, dalam sebuah penginapan khusus bagi para peserta.
BRUAK!
Reinhart menggebrak meja dengan botol Flowreevt Mead di tangannya. Di atas meja, tampak beberapa botol lain yang cukup berantakan.
"Omong kosong suci! Kebebasanku ... Kembalikan kebebasanku!"
Dengan wajah agak merah karena cukup mabuk, Reinhart mulai merengek seperti anak kecil.
"Apanya yang hidup bahagia selamanya! Aku hanya ingin bebas berkeliaran ke seluruh penjuru dunia, menghindari segala bahaya ... memainkan musik sambil minum anggur dengan santai!
Hentikan peperangan gila dan tidak berarti ini!"
Dalam kamarnya sendiri, Reinhart berjalan berputar-putar dalam kamar. Dia kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang dengan ekspresi tertekan.
Untung saja, ruangan tersebut memiliki sihir isolasi, jadi apa yang Reinhart teriakkan sama sekali tidak terdengar. Jika tidak, dia pasti akan membuat Kerajaan Rembulan Perak malu dan akan dihukum lebih berat ketika kembali.
Pada saat itu, kesadaran Reinhart memudar.
Tiba-tiba, sebuah kenangan muncul dalam benaknya. Memainkan game sampai akhir, Reinhart melihat berbagai pengalaman hidup Maria dalam akhir cerita.
Memimpin pasukan untuk melawan kejahatan, menolong seluruh penduduk kota yang hampir mati karena racun ...
Pada saat-saat akhir, sebuah teks yang jelas terlihat.
[Dalam Scarlet Moonlight War, Yang Terpilih (Maria) menghadapi musuh yang sangat kuat. Ratusan ribu pasukan saling membunuh di bawah bulan merah, salah satu pertempuran paling bersejarah di dunia.
Di sisi berlawanan, Putri Raja Iblis, Vanessa memimpin para bawahannya, menyapu segala penjuru dan mencoba membuat dunia ditelan kegelapan.
Setelah pertempuran sengit dengan korban hanya sedikit orang yang selamat, Yang Terpilih akhirnya berhasil membunuh Putri Iblis. Namun, itu juga meninggalkan luka mendalam pada dirinya karena dalam perang ... Yang Terpilih hampir kehilangan seluruh pasukannya. Pasukan yang seharusnya dalam rahmat cahaya untuk menghancurkan kegelapan.]
Ingatan itu langsung membuat Reinhart membuka matanya. Seluruh tubuhnya basah karena keringat dingin.
Bangkit dengan ekspresi penuh keraguan, Reinhart langsung mencoba mengingat semua hal yang dia miliki tentang Putri Iblis, Vanessa.
"Lahir dengan kepribadian ganda, kekuatan angin dan kegelapan, putri salah satu lima kerajaan besar ..."
Menghubungkan semua itu, Reinhart menjadi semakin takut. Dalam keadaaan tertekan, pemuda itu memijat keningnya.
'Setelah Gadis Suci yang dikelilingi oleh bahaya, sekarang aku malah bertunangan dengan salah satu atasan Wings of Chaos?
Sungguh ... apakah aku melakukan perbuatan tak termaafkan di kehidupan sebelumnya? Aku rasa tidak, kan?
Lalu kenapa aku takdir mempermainkanku dengan cara seperti ini!
Pulang ... Aku ingin pulang dan menjalani kehidupanku yang santai seperti sebelumnya!!!'
>> Bersambung.