
"Melvin ..."
Melihat ke arah lelaki yang bahkan tidak tampak seperti lelaki di depannya, Reinhart bergumam pelan. Ekspresinya agak rumit.
Di satu sisi, dia merasa aneh ketika melihat pemuda yang begitu cantik sehingga ingin sedikit menjauh. Di sisi lain, pemuda itu merasa kasihan kepada Melvin karena alasan tertentu.
Melvin mendatangi Reinhart kemudian berlutut lalu berkata.
"Saya, Melvin Icernwalls menghadap Yang Mulia Pangeran."
"..."
Melihat ke arah Melvin memberi hormat sembari sedikit menundukkan kepala di depannya, Reinhart terdiam sejenak. Dia kemudian menghela napas panjang sebelum berkata.
"Kamu tidak perlu begitu kaku, Melvin. Kita tidak sedang berada di Istana. Lagipula, di sini, hubungan kita hanyalah senior dan junior. Jadi angkat wajahmu."
Reinhart membantu pemuda itu berdiri. Ketika menyentuh kedua sisi bahu Melvin, dia merasa kalau tubuh pemuda tersebut cukup lembut dan rapuh. Benar-benar berbeda dengan fisik lelaki yang terlatih dengan baik.
Setelah berdiri, Melvin yang memiliki ketinggian sedikit lebih tinggi dari bahu Reinhart mendongak. Sepasang mata biru menatap ke arah pangeran berambut perak itu dengan ekspresi penuh pujian dan pemujaan.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Pangeran Reinhart?" tanya Melvin lembut.
"Ini bukan tempat yang baik untuk berbicara. Ikuti aku ..."
Setelah mengatakan itu, Reinhart berbalik pergi. Melvin ragu sejenak, tetapi segera mengikuti sosok pangeran tersebut.
Ketika mereka berdua pergi, banyak teman-teman sekelas Melvin menatap dengan ekspresi takjub dan agak heran.
Reinhart dan Melvin kemudian pergi ke kantin. Mereka memilih makan ke lantai dua, tempat yang sepi dengan hanya sedikit pelanggan.
Setelah memesan makanan, mereka berdua memilih tempat duduk. Tentu saja, Reinhart langsung memilih tempat duduk favoritnya.
"..."
Melihat ke arah Melvin yang tampak malu-malu dengan rona merah di pipinya, sudut bibir Reinhart berkedut. Dia kehilangan kata-kata, sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan bocah di depannya.
"Melvin?" panggil Reinhart.
"Eh? Iya!?" Melvin memiringkan kepalanya, tampak linglung.
"Tenanglah. Aku hanya ingin membicarakan hal-hal santai terkait dengan akademi. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kerajaan Rembulan Perak.
Buat dirimu nyaman. Jangan terlalu gugup."
"B-Baik!" Merasakan tatapan dingin Reinhart, Melvin malah menjadi lebih gugup.
Reinhart menghela napas panjang sebelum mulai menjelaskan.
"Akademi telah membuat sebuah organisasi siswa-siswi bernama Starlight Scholar. Meski organisasi ini memiliki banyak kewajiban dan tanggung jawab, tetapi juga memiliki banyak keuntungan.
Pertama-tama, memiliki status berbeda dengan murid lainnya. Bisa dibilang, seperti bangsawan dan kalangan biasa. Banyak keistimewaan yang didapat seperti kemudahan untuk meninggalkan kelas dan sebagainya. Tentu saja, ada syaratnya yaitu nilai harus tetap tinggi dan tidak terpengaruh karena aktivitas luar.
Organisasi ini sendiri baru saja didirikan hari ini. Kepala sekolah meminta beberapa anggota awal untuk merekrut anggota lain.
Jadi, aku di sini untuk mengundangmu bergabung dengan Starlight Scholar."
"Eh?" Melvin terkejut. "Apakah itu tidak apa-apa, Pangeran Reinhart? Maksud saya ... saya masih siswa kelas satu. Apakah tidak apa-apa mengikuti organisasi itu?"
"Sama sekali tidak masalah." Reinhart menggeleng ringan. "Starlight Scholar sendiri terdiri dari siswa-siswi kelas dua dan satu. Kelas tiga telah disibukkan dengan tugas kelulusan mereka. Jadi bukan masalah jika kelas satu ikut dalam organisasi ini."
"Itu ... apakah tidak apa-apa? Apakah anda tidak ingin mengundang orang lain? Orang seperti saya—"
"Starlight Scholar bukan organisasi yang bisa dimasuki secara acak. Ada persyaratan dasar untuk masuk.
Salah satunya tingkat sihir. Untuk masuk organisasi, minimal harus berada di tahap circle 3. Hal itu saja telah menghapus hampir semua siswa-siswi yang ada di akademi.
Lagipula, circle 3 sendiri sudah bisa dibilang syarat untuk lulus sekolah. Hanya beberapa orang berbakat yang bisa mencapai hal tersebut di masa sekolah.
Tentu saja, untuk kelas satu, syarat bisa dibuat lebih ringan. Contohnya berada di level dua (atas). Namun hal tersebut tidak diperlukan karena kepala sekolah tahu ... generasi ini adalah generasi para monster.
Ada enam ... tujuh orang termasuk siswa pindahan yang berada di circle 4. Ada beberapa gadis kelas dua yang berada di circle 3. Bahkan di kelas satu, ada beberapa siswa yang berada di circle 3 termasuk dirimu.
Itulah alasan aku merekrutmu."
"Bagaimana menurutmu?"
"Kalau begitu saya akan menerimanya dengan senang hati, Pangeran Reinhart."
Melvin menepuk dada kirinya lalu sedikit membungkuk. Menerima undangan Reinhart dengan sopan.
"Omong-omong, pesanan sudah tiba." Reinhart berkata datar. "Lebih baik makan dulu dan membahas sisanya nanti."
"Baik!"
Balas Melvin dengan senyum lembut di wajah 'cantik'nya.
***
Selesai makan siang dan sedikit berbincang, Reinhart berjalan kembali bersama Melvin. Mengantar pemuda itu kembali ke kelasnya.
"Anu ... Pangeran Reinhart?"
"En?" Reinhart melirik ke arah Melvin. "Ada apa?"
"Apakah anda berencana untuk mengundang orang itu?"
"Ya." Reinhart mengangguk ringan. "Meski orang itu memiliki cukup kebencian terhadap keluarga bangsawan, tetapi hal ini berbeda. Aku tidak bisa mencampuradukkan masalah pribadi dan masalah akademi."
"..." Melvin tidak menjawab, hanya memberi anggukan kecil.
Orang yang Melvin sebutkan adalah Noctis. Pemuda itu berbeda dengan Melvin yang lemah lembut. Tempramen Noctis lebih keras.
Melvin sendiri adalah putra seorang Marquis di Kerajaan Rembulan Perak. Sedangkan Noctis ... dia putra seorang Duke. Namun, pemuda itu tidak bangga dengan darah bangsawan di tubuhnya. Sebaliknya, dia membenci dan dibenci para bangsawan karena suatu alasan.
"Hey, Rein! Bagaimana bisa kamu muncul di sini?!"
Mendengar suara ramah dan agak ceroboh itu, sudut bibir Reinhart berkedut. Menoleh, dia melihat sosok Aiden yang berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan.
Ekspresi Aiden berubah dari tenang menjadi terkejut ketika melihat sosok yang berjalan bersama dengan Reinhart.
"Hey hey hey ... Ternyata kamu suka tipe gadis imut dan polos seperti ini. Tampaknya aku harus berhati-hati, menjauhkan kamu dari Sophia!"
"..."
Mendengar itu, ekspresi Reinhart menjadi suram seperti awan gelap sebelum badai tiba. Dia melirik ke arah Melvin. Melihat kalau pemuda itu malah memiliki ekspresi malu-malu, Reinhart benar-benar bingung harus merespon bagaimana.
"Dia Melvin Icernwalls, putra Marquis Icernwalls dari Kerajaan Rembulan Perak.
Alasan aku ada di sini adalah merekrut dirinya. Melvin adalah penyihir es circle tiga dan ahli menggunakan rapier. Terakhir, aku akan mengingatkan ...
Melvin adalah laki-laki!"
Perkataan Reinhart membuat Aiden terkejut. Dia menatap ke arah Melvin dengan ekspresi tidak percaya sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Reinhart.
"Reinhart, kamu—"
"Aku masih normal! 1000% normal! Jadi jangan berpikir macam-macam, B-jingan."
"Hmmm ..."
Aiden mengelus dagu sambil memperhatikan segala sisi Melvin. Kecuali tempat datar yang mirip bandara, pemuda itu benar-benar mirip dengan gadis kecil yang manis.
"Namamu Melvin, kan? Apakah kamu benar-benar laki-laki? Haruskah kita ke toilet lalu—"
Mendengar ucapan Aiden, Reinhart langsung menyela.
"Hentikan pikiran sembrono itu atau kamu akan dituntut karena pelecehan, B-jingan."
"Tidak bisakah kamu menerima kenyataan begitu saja?"
Entah kenapa, berada di sekitar orang-orang ini benar-benar membuat Reinhart merasa lelah. Bahkan sampai membuatnya merindukan para kera raksasa yang lebih tenang dibandingkan orang-orang menyebalkan di sekitarnya!
>> Bersambung.