Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
PULANG



Waktu mengalir seperti aliran sungai dari hulu ke hilir.


Enam bulan berlalu begitu saja. Ujian akhir telah diselesaikan dan liburan musim dingin akan segera tiba. Semua masalah para pangeran telah terselesaikan. Meski bisa dibilang menjadi masalah baru, Reinhart sudah tidak mau ikut campur masalah itu.


Bisa dibilang, perilaku tidak etis, lempar batu sembunyi tangan.


Selain Flint dan Xylon yang masih dianggap normal, pangeran lain dianggap berkarakter unik. Ya, setidaknya begitulah cara sopan untuk mengatakan hal tersebut.


Aiden sekarang terkenal sebagai b-jingan kelas kakap karena mengencani tiga gadis dalam waktu bersamaan. Meski hubungan mereka agak canggung, tetapi sudah dikonfirmasi bahwa ketiga gadis itu tidak menolak hubungan itu. Bisa dibilang, mereka membutuhkan banyak waktu untuk menyesuaikan diri.


Zale sekarang juga terkenal sebagai b-jingan kelas kakap. Bukan karena dia memiliki hubungan dengan banyak gadis sekaligus, tetapi karena kelompoknya semakin besar dan sulit diatur. Selain itu, sudah dikonfirmasi bahwa dia sesekali pergi ke distrik lampu merah untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak pangeran lakukan. Paling tidak, tidak secara terbuka seperti itu.


Leander sendiri tidak memiliki banyak perubahan. Di mata banyak murid, dia masih misterius seperti biasanya. Hanya saja, banyak rumor acak tentang dirinya karena cukup dekat dengan Aiden, Zale, dan Reinhart.


Sedangkan Reinhart, dia sama sekali tidak peduli dengan banyak hal yang tidak berhubungan dengan dirinya. Dia melakukan latihan pribadi, latihan oleh gurunya, pergi ke kelas seperti biasa, dan menghabiskan lebih banyak waktu di perpustakaan sekolah.


Meski demikian, rumor juga menyebar tentang dirinya. Karena penggunaan sihir Kamishini no Yari sebelumnya telah menyebar, sekarang banyak orang yang menganggap kalau Reinhart sedang sibuk melakukan eksperimen berbahaya tentang sihir terlarang.


Tentu saja, Reinhart tidak menyangkalnya karena hal tersebut memang benar. Bukan hanya benar, tetapi dia bahkan melakukan banyak latihan ekstrem. Jadi satu berita itu sama sekali tidak dia anggap sebagai suatu hal yang merugikan dirinya.


Berjalan menuju lorong, Reinhart sampai di depan ruangan milik Professor Elin.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk."


Mendengar suara itu, Reinhart membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan.


Sampai di dalam, dia menutup pintu lalu segera memberi hormat singkat kepada sosok wanita cantik yang duduk di kursinya.


"Untuk apa kamu datang kemari, Rein?"


Mengucapkan itu, ekspresi lelah tampak di wajah cantik Professor Elin.


Pada awalnya, wanita itu berpikir kalau latihan yang dia buat sudah cukup berlebihan. Namun siapa sangka, setelah kembali dari Kerajaan Lautan Zamrud, Reinhart ternyata memulai latihan lebih ekstrem dan kejam.


Bukan hanya itu, pemuda yang awalnya banyak mengeluh itu terkadang seperti menjadi orang lain. Begitu pendiam dan sangat fokus pada latihannya seolah jika dia tidak berlatih, dirinya akan mati kapan saja.


Sesekali pemuda itu akan menanyakan beberapa prinsip sihir tertentu, lalu mencatat jawaban dari Professor Elin dan pergi dengan tenang.


Tentu saja, sebagai guru, Professor Elin selalu mengingatkan Reinhart tidak boleh meneliti apalagi membuat sihir secara acak karena sangat berbahaya. Walau pangeran berambut perak itu menjawab iya, tetapi profesor cantik itu jelas tidak percaya dengan ucapan muridnya.


"Penyihir kilat circle 4 puncak, Penyihir kegelapan circle 3 puncak, High knight dua atribut sihir ... apakah itu masih kurang, Rein?"


Professor Elin bertanya dengan ekspresi lelah di wajahnya. Berdasarkan perkembangan pemuda itu, daripada kata jenius seperti yang dicocokkan kepada para pangeran lain, kata "monster" lebih cocok untuk muridnya tersebut.


Meski memiliki energi kegelapan yang menumpuk dalam tubuhnya, meningkatkan circle dari nol sampai tiga dalam waktu setahun sudah terlalu gila. Juga, entah kenapa, Professor Elin memiliki firasat kalau dalam waktu kurang satu tahun, Reinhart akan memecah ketiga belenggu.


Penyihir kilat circle 5, penyihir kegelapan circle 4, sekaligus master knight dua elemen di umur 16 tahun.


Membayangkannya saja membuat wanita cantik itu tidak bisa tidak menghirup udara dingin.


"Bukan begitu, Guru." Reinhart menggelengkan kepalanya. "Saya hanya ingin meminta izin untuk mengakses perpustakaan akademi saat liburan musim dingin."


"Eh? Kamu tidak berniat untuk pulang pada liburan musim dingin? Jangan bilang ... kamu sama sekali tidak berniat kembali sebelum lulus?"


"Sebenarnya itulah yang saya pikirkan."


"Gila! Kamu benar-benar gila, Bocah! Biar aku katakan lagi. Latihan itu penting, tetapi kamu harus membatasi diri! Jangan terlalu memaksakan diri dan hancur karenanya!"


"..."


'Seolah aku bisa melakukannya. Mulai tahun depan, ketika tahun ajaran baru dimulai ... aku cuma berharap bisa lolos dari kemalangan yang akan datang.


Kekuatanku saat ini, masih belum cukup untuk hidup dengan baik dan tenang di dunia yang amburadul ini.'


Setelah sekali lagi menghela napas panjang, Reinhart bertanya dengan ekspresi datar.


"Jadi, apakah saya boleh meminta surat izin dari anda atau tidak, Guru?"


"Sebaiknya kamu pulang."


Mendapatkan jawaban tegas dari gurunya, Reinhart mengangguk ringan. Dia kemudian pamit pergi.


"Kalau begitu saya pergi, Guru."


"Tunggu, Rein!"


"Iya?" Rein menoleh dengan ekspresi datar.


"Ingatlah. Kekuatan itu penting. Namun, bukan berarti jika kamu mendapatkan kekuatan, kamu bisa mendapatkan segalanya.


Ingatlah, banyak hal-hal berharga selain itu."


"Murid ini telah diajari." Reinhart mengangguk. "Kalau begitu, permisi."


Setelah itu, Reinhart akhirnya pergi menuju kediamannya.


Sampai di sana, pemuda itu terkejut ketika melihat sosok Isana yang menunggu dirinya dengan ekspresi serius. Tampak berbeda daripada biasanya.


"Tuanku, ada surat dari Yang Mulia Ratu."


"En?"


Reinhart mengangkat alisnya. Menerima surat dengan segel lilin dan sihir, dia tampak bingung. Meski telah mendapatkan surat agar dirinya pulang di liburan semester lalu, dia masih berniat untuk belajar di akademi.


Sebelum lulus dan keluar untuk menghadapi kekejaman dunia, Reinhart ingin memiliki kekuatan yang setidaknya membuat dirinya tidak lagi pergi khawatir akan keselamatannya.


Sampai di kamarnya dan beristirahat sejenak, Reinhart duduk di kursi lalu membuka surat.


Dalam selembar kertas, hanya tertulis satu kata.


"PULANG."


Sebuah kata berwarna merah dengan huruf kapital.


Saat itu juga, Reinhart yang menjalani dua kehidupan merasa kalau seluruh tubuhnya gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin membasahi punggungnya.


Sudah jelas, karena dia telah mengambil alih tubuh serta ingatan Reinhart, efek trauma ini masih dia alami. Itu berarti, Reinhart yang asli seharusnya sangat takut dengan ibunya.


Setelah menenangkan diri, Reinhart menyeka keringat lalu meminum banyak air putih.


Melihat sosok Isana yang berdiri di luar pintu, pemuda itu tersenyum pahit.


"Waktunya untuk berkemas, Isana. Kita harus pulang.


Kembali ke Kerajaan Rembulan Perak."


>> Bersambung.