Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Ingin, Tapi Tidak Bisa



"Eh? Anda benar-benar akan segera pergi, Tuan Reinhart?"


Setelah makan dan berbincang sebenarnya dengan Maria, Reinhart memutuskan untuk pergi. Jadi dia kembali menemui dan berpamitan kepada Ibu Maria. Hal tersebut membuat wanita itu kaget.


"Ya ... Saya harus segera memesan penginapan dan—"


"Bagaimana kalau anda menginap?"


"..."


Melihat ke arah wanita cantik tetapi agak kurus itu membuat Reinhart terdiam. Baginya, wanita tersebut memandang dirinya dengan tatapan aneh.


'Rasanya ... seperti kamu ingin segera menjual putrimu kepadaku? Apakah kamu yakin, kamu adalah wanita yang seharusnya memotivasi Mafia untuk menjadi penyelamat dunia?


Benar-benar tidak salah?'


Reinhart mulai merasakan banyak keraguan. Lagipula, sejak berada di dunia ini, pemuda itu menemukan hal yang melenceng dari cerita seharusnya. Ya ... tanpa dia sadari, dirinya sendiri juga telah melenceng jauh dari alur.


"Tidak perlu, saya hanya ingin beristirahat di penginapan selama satu malam. Besok saya harus melanjutkan perjalanan."


"Eh? Bukankah terburu-buru?"


"..."


Mendengarkan pertanyaan Ibu Maria, Reinhart ingin menangis tanpa air mata. Sebenarnya, dia ingin beristirahat dan bersantai di Kota Flowreevt selama satu minggu. Siapa sangka, dia benar-benar menemukan tokoh utama (dalam game) di sini. Wanita merepotkan yang membuat orang-orang di sekitarnya terlibat dalam bahaya.


Memang, Reinhart masih bisa tinggal. Hanya saja, jika dia tinggal selama satu minggu, kemungkinan hubungannya dengan Maria akan semakin dekat. Itu berarti, di masa depan, dia akan banyak terlibat dalam urusan Maria. Dengan kata lain ... hidupnya dalam bahaya!


Reinhart jelas tidak menginginkannya!


'Tampaknya aku benar-benar harus menikmati sisa liburan di alam liar ...'


Pikir Reinhart. Namun setelah melirik ke arah Maria, dia juga sadar.


'Berebut makanan dengan beruang, berpelukan dengan harimau, berenang dengan buaya ... hal-hal itu 1000 kali lebih baik daripada terancam bahaya tersembunyi di sekitar Maria!


Ya! Binatang-binatang buas raksasa itu tampak lebih imut!'


Membulatkan tekadnya, Reinhart akhirnya memilih untuk berpamitan.


Maria mengantar Reinhart sampai pintu. Melihat sosok pemuda dan peliharaannya pergi, gadis itu bertanya dengan nada enggan.


"Tuan Reinhart ... apakah kita akan bertemu lagi?"


"Kita akan bertemu lagi di Akademi Cahaya Bintang tahun depan," ucap Reinhart.


'Meskipun sebenarnya aku enggan!'


Reinhart menambahkan dalam hati. Namun, di permukaan masih tersenyum ramah.


"Kalau begitu sampai jumpa tahun depan, Tuan Reinhart!"


Maria melambaikan tangannya ketika mengirim Reinhart pergi.


Entah bagaimana, Reinhart merasakan firasat kurang baik ketika mendengar ucapan Maria. Tampaknya, tahun depan dia harus lebih berhati-hati.


'Bersikap lebih rendah dan biarkan Maria teralihkan oleh para pangeran itu!'


Pikir Reinhart yang dengan senang hati melemparkan gadis cantik (dan masalah yang menyertainya) kepada teman-temannya.


Setelah menjauhi Maria, Ibunya, rumahnya, dan kota kecil dia tinggal ... akhirnya perjalanan Reinhart berlanjut.


***


Satu minggu kemudian.


"Aku pikir kamu sedang berlibur, Rein?"


Dalam kantor Professor Elin, tampak sosok Reinhart yang mengeluarkan banyak hal dari kantong dimensi. Dia meletakkan satu per satu barang ke atas meja, benar-benar mengabaikan ucapan gurunya.


Melihat mata Professor Elin yang berkilauan ketika melihat banyak 'oleh-oleh' di atas meja, Reinhart benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu.


"Semuanya ada di sini, Guru. Kalau begitu saya pergi!"


Mengatakan itu, Reinhart yang telah menyelesaikan tugasnya berbalik pergi. Namun, ketika hendak membuka pintu, suara Professor Elin kembali terdengar.


"Aku dengar kamu sempat mampir ke Kota Flowreevt, Rein?"


Mendengar itu, Reinhart melirik ke arah gurunya. Dari tatapan wanita itu, dia sudah mengerti artinya.


'Tampaknya tidak ada oleh-oleh dari Kota Flowreevt? Apakah kamu masih muridku? Benar-benar pelit?'


Melihat ke arah gurunya, Reinhart menggertakkan gigi. Namun karena tidak ingin masalah, dia masih mengeluarkan sebotol Flowreevt Mead dan meletakkannya di atas meja.


"Wow! Muridku benar-benar perhatian."


"..."


Ucapan Professor Elin langsung membuat sudut bibir Reinhart berkedut.


"Aku pergi!"


Merasa gerah dan tidak tahan lagi, pemuda itu akhirnya langsung pergi dengan kecepatan maksimal.


Seperti sedang menghindari dirampok pada siang bolong!


>> Bersambung.