Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Hutan Kabut Ungu



"Sungguh, kenapa tidak ada sarana transportasi dari pihak akademi? Kita benar-benar harus datang ke tempat ini sendiri?"


Dalam kereta kuda, tampak sosok Aiden yang bersandar dengan ekspresi malas di wajahnya.


"Bukankah itu tidak adil untuk para murid biasa? Mereka harus menghabiskan cukup banyak uang untuk menyewa kereta pengangkut barang, kan?"


Mendengar keluhan Aiden, Reinhart yang duduk di tempat berlawanan sambil membaca akhirnya menutup bukunya.


"Bukankah kamu tahu kalau kelompok kamar dagang yang menyewakan kereta kuda itu berafiliasi dengan Akademi Cahaya Bintang, Aiden?"


"Lalu?"


"Pihak akademi membantu beberapa kelompok yang berafiliasi dengan Akademi Cahaya Bintang. Tentu, aku yakin akademi juga ... setidaknya mendapatkan sedikit keuntungan."


"Bukankah itu keterlaluan, Rein?"


"Kamu terlalu polos, Aiden. Sejak awal, dunia memang tidak adil. Hanya ada dua cara untuk mengubah nasib orang-orang yang berada di bawah.


Mengikuti arus dan menyerah dalam kehidupan. Atau sebaliknya, berjuang mati-matian untuk merubah kehidupannya. Berkembang dengan cara mereka sendiri, naik perlahan tapi pasti.


Ya ... tidak semua orang di dunia ini memiliki kenyamanan seperti kita."


"..."


Melihat Aiden terdiam, Reinhart menggelengkan kepalanya. Dia kembali bertanya.


"Apakah kamu ingat orang-orang di jalan kumuh Kota Roscars?"


"Itu—"


"Dunia itu kejam, jadi kamu harus mencoba terbiasa, Aiden. Setidaknya kamu tidak perlu mengalaminya. Atau ..." Reinhart mengangkat sudut bibirnya. "Apakah kamu ingin mencoba merubah dunia dengan kedua tanganmu?"


Setelah mengatakan hal itu, kereta kuda tiba-tiba berhenti. Setelah perjalanan beberapa hari, mereka akhirnya sampai di lokasi.


"Aku akan merubah dunia ini menjadi lebih baik, Rein! Lihat saja!"


Mendengar ucapan serius Aiden, Reinhart sempat tertegun. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Dia menepuk pundak pemuda itu lalu membuka pintu. Sebelum keluar dari kereta kuda, pemuda itu berkata.


"Kalau begitu aku akan menantikannya, Pahlawan."


Aiden menatap punggung Reinhart dengan ekspresi heran. Setelah beberapa saat, baru dia sadar sedang diolok-olok oleh sahabatnya.


"Tunggu saja! Aku benar-benar akan melakukannya!"


Aiden berkata dengan nada serius sebelum akhirnya turun dari kereta kuda. Segera menyusul sosok Reinhart!


***


Angin berembus kencang, tampak puluhan ... bahkan lebih dari seratus murid menatap pemandangan luar biasa di depan mereka.


Sekarang mereka berkumpul di padang rumput luas. Di depan mereka, tampak lautan pepohonan yang membentang luas. Masing-masing pohon memiliki tinggi rata-rata 60 sampai 70 meter dengan bagian batang tebal. Jutaan pohon seperti itu membuat pemandangan luar biasa, dimana cukup mengerikan jika membayangkan apa yang terjadi jika mereka tersesat, atau ...


Makhluk apa yang sebenarnya menghuni tempat tersebut!


"Sudah cukup untuk menonton pemandangan, Anak-anak. Tidak ada banyak waktu untuk disia-siakan."


Suara tua dan kasar terdengar. Para siswa-siswi dari Akademi langsung menoleh ke sumber suara.


Lelaki tua tersebut memakai penutup mata yang menutupi mata kirinya. Dia memakai pakaian pemburu usang, tubuhnya juga penuh luka. Bahkan, lelaki tua itu juga kehilangan tangan kirinya.


Melihat lelaki tua sekarat dan bau tanah itu, para murid mengangkatnya alis mereka. Merasa agak puas dengan sikap kasar lelaki tua yang menyela tersebut. Lagipula, kebanyakan dari mereka adalah keturunan bangsawan yang biasanya dihormati.


Sebaliknya, Reinhart merasa cukup terkejut melihat sosok lelaki tua tersebut karena ...


Lelaki tua itu ternyata berada di level Grand Master Knight! Setidaknya ada di tingkat yang sama dengan Penyihir Circle 4!


Jelas, hal tersebut sangat sulit dicapai. Khususnya bagi orang-orang biasa tanpa bakat sihir!


"Aku tidak akan banyak bicara. Kalian hanya perlu tahu, namaku Garvin. Aku tidak peduli kalian memanggilku bagaimana.


Intinya, tugasku adalah mengantarkan kalian ke lokasi perburuan dengan aman. Setelah itu, tugas kalian adalah membunuh binatang buas. Paling sedikit tujuh binatang buas, dan paling banyak lima belas binatang buas.


Jika kalian semua pandai berburu, jumlah skor terakhir bergantung dengan kualitas makhluk yang kalian buru."


Mendengar penjelasan Pak Tua Garvin, salah satu siswi mengangkat tangannya.


"Tidak bisakah kami memburu lebih banyak untuk lebih banyak poin, Pak?"


"Apakah kalian para murid Akademi Cahaya Bintang semakin lama semakin bodoh?


Anggap saja kalian berjumlah 100 orang. Jika masing-masing orang memburu 15 binatang buas, berarti 1500 binatang buas akan mati. Tidak banyak, tapi coba pikirkan kembali.


Makhluk yang kalian bunuh biasanya berusia lebih dari sepuluh tahun. Jika setiap tahun siswa berburu, ditambah para tentara bayaran yang berburu ... apakah kalian pikir binatang buas tidak bisa habis dan punah?


Kalian pikir binatang buas tumbuh seperti rumput di musim semi? Tiba-tiba muncul dan memenuhi hutan?"


"Ta-Tapi ... bukankah Hutan Kabut Ungu sangat luas, Pak? Ada jutaan binatang buas di dalamnya. Jadi—"


"Jadi apa? Bukankah kalian berpikir terlalu ringan? Tidak akan ada perubahan dalam belasan tahun, tapi ...


Bagaimana dengan puluhan? Ratusan? Atau bahkan ribuan tahun?"


"..."


Siswi tersebut tercekat. Sama sekali tidak bisa menjawabnya.


"Namun, bukankah yang anda katakan tidak sepenuhnya benar, Pak Garvin?"


Kali ini, bukan hanya siswa-siswi biasa, Aiden mengangkat tangannya dan berkata dengan ekspresi aneh.


"Hou ... tampaknya kamu mengetahui sesuatu, Bocah?"


"Setahu saya, Hutan Kabut Ungu belum sepenuhnya dijelajahi. Selain itu, terkadang akan ada gelombang binatang buas yang menyerang kota dan desa di dekat hutan tersebut. Jadi ... peraturan perburuan itu hanya berlaku untuk para makhluk lemah di lingkaran luar, kan?"


"Pintar!" Pak Garvin mengangguk. "Meski mengatakan kalau kita harus menjaga ekosistem hutan, tetapi tidak bisa disangkal para binatang buas adalah musuh kami. Sebenarnya, tindakan pencegahan itu hanya dimaksudkan agar makhluk-makhluk kuat yang ada di lingkaran dalam dan tengah tidak kehabisan stok makanan lalu keluar, menyebabkan kekacauan. Jadi ..."


Pak Garvin menyeringai, menunjukkan gigi kuning yang berantakan. Bahkan beberapa telah terlepas. Namun bukannya lucu, lelaki tua itu malah tampak menyenangkan.


"Jika kalian ingin mendapatkan banyak nilai dan banyak keuntungan, masuk lebih dalam dan pertaruhkan hidup kalian sendiri!"


>> Bersambung.