Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Pemuda Sembrono dan Beruntung



“Kenapa kamu ada di sini?”


Melihat ke arah Aiden yang tampak bersih, Zale tidak bisa tidak bertanya. Reinhart dan Maria juga melihat ke arah pemuda itu dengan ekspresi terkejut. Benar-benar tidak menyangka kalau akan bertemu dengannya di tempat semacam ini.


“Hey, kenapa penampilan kalian tampak begitu buruk? Bukan hanya kotor, kalian bahkan bau. Apakah kalian jatuh ke lumpur atau semacamnya?”


Sambil memegang sebotol air di tangan kiri, buah aneh di tangan kanan, dan memakai topi layaknya seorang koboi, Aiden bertanya dengan senyum di wajahnya.


Mendengar itu, Reinhart dan dua orang lain terdiam. Mereka bertiga langsung mengingat bagaimana mereka jatuh ke rawa lalu bertempur dengan Hydra yang tampaknya adalah subjek eksperimen tertentu. Jelas, bagi mereka, tidak mudah sampai ke tempat ini karena keberuntungan mereka mungkin nol besar, atau bahkan minus!


Melihat ke arah pemuda yang tampaknya hidup dengan mudah dan nyaman ketika mereka mengkhawatirkan keselamatannya, ketiga orang itu langsung merasa yang sangat rumit.


“Hey? Apakah kamu baik-baik saja, Rein? Kenapa ekspresimu begitu buruk? Apakah perutmu sakit? Mau buah?”


Mendengarkan pertanyaan itu, Reinhart benar-benar merasa sedang terkena serangan beruntun. Dibantu oleh Maria, dia berjalan ke depan dengan ekspresi lelah lalu meraih buah di tangan Aiden. Tanpa sedikitpun keraguan, Reinhart kemudian langsung menggigit buah itu.


Setelah memakan buah tersebut, Reinhart langsung merasakan aliran energi yang memenuhi tubuhnya. Beberapa saat kemudian, rasa lelah dan beberapa luka kecil di tubuhnya sembuh. Menyadari kalau tubuhnya telah pulih, pemuda itu tidak bisa tidak melihat ke arah Aiden dengan senyum kecut.


“Terima kasih atas makanannya.”


Usai mengatakan kalimat tersebut, Reinhart langsung menghela napas lega. Setelah menemui Aiden, dia berpikir kalau keberuntungan mereka tidak akan menjadi terlalu buruk. Bahkan jika buruk, jelas tidak akan pada posisi negatif dimana mereka menemui makhluk aneh yang tidak bisa mati atau semacamnya.


“Omong-omong, kenapa kalian datang ke tempat ini?” tanya Aiden dengan ekspresi polos di wajahnya.


Meski dalam keseharian kurang beruntung, dalam cerita, Aiden jelas adalah tokoh yang sangat beruntung ketika berada dalam reruntuhan kuno atau tempat-tempat semacam itu. Reinhart ingat dengan jelas, di salah satu cerita dalam game, pemuda itu bahkan menemukan Apel Emas.


Aiden sendiri adalah orang yang tidak kekurangan apapun dalam segi material. Jadi saat mendapatkan keberuntungan, dia merasa kalau hal semacam itu biasa saja. Sedangkan Reinhart, pemuda itu berada di kerajaan yang sangat ketat. Jadi, bahkan jika kekayaan Kerajaan Rembulan Perak lebih baik daripada kerajaan milik Aiden, tetapi dia sama sekali tidak sebebas pemuda itu.


Sebagai contoh, untuk meminta sesuatu, Reinhart harus menjelaskan untuk apa. Jadi agar bisa merahasiakan semuanya, dia harus bekerja sendiri. Sedangkan Aiden, ketika meminta, orang tuanya langsung menurutinya. Bisa dibilang, pemuda itu adalah pangeran manja yang sebenarnya.


Pangeran manja yang merasa paling tersakiti.


“Jadi begitu!”


Mendengar kalau dua sahabatnya datang mencari dirinya, Aiden jelas merasa senang. Meski baik-baik saja dan tidak kekurangan makanan, pemuda itu benar-benar tidak bisa keluar dari tempat ini.


“Sebelum kembali, bagaimana kalau aku mengantar kalian jalan-jalan? Lagipula, kalian juga perlu istirahat.”


Setelah mengatakan itu, Aiden langsung membawa tiga orang lainnya berkeliling di lantai terbawah makam kuno. Baru saja melewati salah satu ruangan, Reinhart, Zale, dan Maria tertegun. Melihat kilau cahaya dari ruangan tersebut, sudut bibir mereka berkedut keras.


Mereka melihat ke arah Aiden dengan ekspresi tidak percaya karena …


Ternyata pemuda itu telah menemukan ruang penyimpanan emas dan harta!