
Jangan lupa gabung di grup 'L Wanderers' agar tidak ketinggalan update. (Cek profil Author)
Kalian juga bisa bincang-bincang bersama dengan Author dan teman-teman lainnya di sana!
---
"Pertandingan dimenangkan oleh peserta nomor 013, Reinhart!"
Mendengar itu, sosok Vanessa yang melihat di kejauhan tampak bersemangat. Dia menatap ke arah ksatria wanita yang berdiri di belakangnya.
"Apakah kamu lihat itu, Cindy? Bukankah suami tampak keren?"
"Maaf, Tuan Putri. Namun, seingat saya, anda belum boleh memanggil Pangeran Reinhart dengan kata suami karena—"
Belum menyelesaikan ucapannya, Cindy terkejut ketika melihat Vanessa menatapnya sambil menggembungkan pipinya. Tampaknya cemberut dan kesal. Bukannya membuat wanita itu takut, tetapi malah memiliki efek sebaliknya.
'Imutnya!!!'
Pikir Cindy yang masih memiliki ekspresi hormat di wajahnya.
"Namun seperti yang anda katakan, kata-kata yang Pangeran Reinhart ucapkan memang terdengar keren."
"Hmph! Sayangku memang tampak elegan ketika mengatakannya."
Vanessa mengangkat wajahnya dengan bangga seolah dirinya yang telah menendang Cornelius sampai berguling-guling di tanah.
"Namun ..."
"Ada apa, Tuan Putri?"
"Tampaknya penampilan Sayangku agak buruk. Maksudku, pakaiannya.
Mungkinkah karena saudara-saudari cemburu dengan bakatnya, Sayangku ditindas? Apakah benar-benar begitu?
Tampaknya Sayangku juga tidak memiliki senjata yang bagus. Jadi, sebagai tunangan sekaligus calon istri yang baik ...
Aku harus mendukungnya! Beri dia senjata yang cocok untuk bertarung dan menjadi juara!"
Vanessa mengepalkan kedua tangannya. Memiliki ekspresi penuh tekad, gadis imut itu mengangguk dengan penuh kepastian.
"Setelah kembali, mari kita ke ruang penyimpanan harta kerajaan, Cindy!"
***
Sementara Vanessa yang polos membulatkan tekadnya, sosok Reinhart berjalan keluar dari arena sambil menguap. Namun sebelum dia meninggalkan arena, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
'Apa? Siapa? Dimana?!'
Reinhart langsung memegang gagang pedang di pinggangnya. Pemuda itu langsung mengamati sekeliling dengan ekspresi waspada. Rasa kantuknya langsung menghilang seketika.
Tidak menemukan apa-apa, ekspresi Reinhart langsung menjadi muram.
'Bahkan di tempat ramai seperti ini mereka tidak melepaskan aku? Sungguh, tampaknya mereka ingin menjadi musuh hidup dan mati!
Ayo bertarung sampai mati!'
Reinhart keluar dari tempat pertandingan dengan ekspresi suram. Dia yang awalnya begitu santai ingin segera mencaritahu siapa dalang di balik semua kekacauan ini.
Pemuda itu merasa, event ini sama sekali tidak masuk ke dalam cerita game yang dia ketahui karena ...
Apa yang muncul sebelum canon sama sekali di luar pengetahuannya!
'Lupakan! Mari fokus untuk menjadi lebih kuat terlebih dahulu!'
Pada saat itu, Reinhart sampai di ruang tunggu. Dia memilih duduk dan menunggu peserta lain dari Akademi Cahaya Bintang sebelum kembali ke penginapan bersama. Sambil menunggu, pemuda itu memikirkan banyak rencana dalam kepalanya.
Beberapa waktu pun berlalu.
"Aku yang datang pertama!"
Membuka pintu, Zale masuk dengan ekspresi bangga. Dia kemudian melihat ke arah Reinhart yang duduk santai sambil memegang toples berisi kacang. Memasukkan kacang ke mulutnya, pemuda itu melihat ke arah Zale dengan ekspresi datar.
"Bagaimana kamu melakukannya lebih cepat daripada aku!"
"Eh?"
Ketika Zale protes, sosok Aiden juga masuk. Melihat sudah ada dua orang, khususnya Zale, ekspresi pemuda itu tampak suram.
"Ha-ha-ha! Aku lebih cepat darimu, Kucing Liar!"
"Tsk! Sebenarnya aku lebih cepat, tapi karena lokasiku lebih jauh dan berjalan santai ketika datang, aku datang lebih lambat darimu, Cacing Laut."
"Apa kamu bilang?"
"Apakah kamu mau ribut?"
Ketika Zale dan Aiden mulai ribut, sosok Xylon masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi cemberut. Di pipi kirinya, tampak memar yang cukup mencolok.
"Hah?! Apakah kamu dikalahkan di babak pertama, Xylon?!"
Zale dan Aiden bertanya serempak. Mendengar pertanyaan itu, sudut bibir Xylon berkedut. Pemuda yang biasanya tenang itu tiba-tiba berteriak marah.
"Mana mungkin aku kalah! Hanya saja ..."
"Itu benar-benar memalukan!"
Melihat ekspresi tertekan Xylon, Zale dan Aiden saling memandang.
"Ayolah. Kamu bisa berbagi dengan kami!"
Zale berkata dengan nada ramah.
"Ya. Kamu bisa berbagi agar tidak terlalu tertekan karena memendamnya sendiri."
Aiden menambahkan.
"Kalian pasti bercanda, ini bukan sesuatu yang—"
Xylon tanpa sengaja melihat sosok Reinhart yang makan kacang sambil terus menatapnya. Tampaknya, pemuda yang tampak dingin itu bahkan ingin tahu.
"Itu tadi lucu, Xylon."
Sosok Flint yang baru saja masuk berkata dengan senyum di wajahnya. Saat itu juga, Zale dan Aiden langsung menariknya untuk duduk. Memaksa pemuda itu untuk bercerita.
Beberapa saat kemudian, tawa terdengar di ruang tunggu. Sementara Xylon muram, beberapa pangeran lain tampak bahagia.
"Sungguh. Pangeran dari Kerajaan Berlian Abadi (Kerajaan Tanah) ini benar-benar ceroboh!"
Zale tersenyum, menahan tawanya.
"Jika itu aku, aku pasti akan mengalami mimpi buruk."
Aiden juga menahan tawa.
Sementara itu, Reinhart berkata dengan nada serius.
"Dilakukan dengan baik."
Mendengar Reinhart yang mendukung, Xylon langsung menatap teman dalam pelajaran tambahan itu dengan ekspresi penuh terima kasih. Namun, saat pemuda itu merasakan tatapannya, pangeran berambut perak tersebut kembali berkata.
"Maksudku, penyihir level 2 yang kamu lawan.
Dia menggunakan sihir sepele non atribut elemen lalu membalikkan seranganmu. Membuat cambuk kayu itu menampar dirimu sendiri sampai berguling-guling di tanah.
Sungguh cerdik, dilakukan dengan sangat baik."
"..."
Melihat ke arah Reinhart, Xylon tercengang. Ternyata pemuda yang dia anggap teman tersebut sama sekali tidak menghiburnya.
'Kembalikan rasa terima kasihku!'
***
Sementara itu, dalam ruang gelap, tampak beberapa sosok berjubah yang duduk mengelilingi meja.
"Apakah informasi yang kalian dapatkan bisa dipercaya?"
Suara pria yang agak serak terdengar.
"Tentu saja, aku sangat yakin. Orang yang memiliki 'itu' adalah putri dari Kerajaan Lautan Zamrud, Putri Vanessa!"
Suara wanita menjawab dengan nada antusias. Terdengar seperti seseorang yang sangat senang setelah menemukan benda hilang yang telah lama dia cari.
"Hanya saja, sangat sulit untuk menyusup ke dalam istana. Jadi, apa yang harus kita lakukan?"
Suara pria sebelumnya kembali terdengar.
"Kamu bisa santai. Beberapa hari ini, gadis itu sering keluar dengan ksatria penjaganya. Levelnya cukup tinggi, tetapi kamu bisa menahannya sementara kami berurusan dengan Putri Vanessa, Kapten."
"Huh! Apa kamu yakin kalau tidak ada penjaga lain di sekelilingnya?"
Mendengar pertanyaan dari lelaki yang disebut Kapten tersebut, suara wanita tadi berkata.
"Tenang saja. Itu sangat aman. Paling-paling, hanya ada satu orang tambahan."
"Orang tambahan? Apakah berbahaya?"
"Lumayan. Namun kita juga bisa sekalian membereskannya dan mendapatkan hadiah tambahan."
"Siapa???"
Kapten bertanya dengan nada penasaran. Tidak hanya kapten, tetapi anggota lain juga menatap ke arah wanita itu.
Tidak langsung menjawab, wanita tersebut malah meminum anggur lalu menopang dagu.
"Berhentilah main-main dan katakan saja."
Suara pria dingin dan tak acuh terdengar.
Mendengar suara pria itu, wanita tersebut mendengus dingin. Namun masih berkata dengan nada santai.
"Pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak, Reinhart."
>> Bersambung.