Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
INI PERAMPOKAN!



Mendengar ucapan Reinhart, tubuh Tommy membeku di tempat. Ekspresi masam tampak di wajahnya.


Penampilan pria itu benar-benar berbeda dari sebelumnya. Saat ini dia memakai pakaian basah dan berlumpur. Dalam sekali lihat, Tommy memang tampak mencurigakan.


"Kemari dan ceritakan semuanya, Tommy."


Tommy memilih untuk mendekat tanpa ide untuk melarikan diri. Lagipula, setelah melihat binatang sihir tingkat tiga yang terbunuh dengan cara mengenaskan, melarikan diri adalah pilihan bodoh.


Dengan menyerah, setidaknya dia memiliki kesempatan selamat.


Ketika mendekat, Tommy merasakan tatapan ganas dari keempat gadis.


"Duduklah terlebih dahulu. Kamu tampak lelah."


Reinhart berkata santai. Dia mengambil tubuh ular dan memasukkannya ke kantong dimensi lain yang memang sengaja dia gunakan untuk menampung tubuh binatang buas yang dia buru dalam perjalanan ini. Pemuda itu kemudian duduk di depan Tommy. Menoleh ke arah para gadis, dia berkata.


"Ini pembicaraan laki-laki. Lebih baik kalian pergi jalan-jalan daripada menguping."


"..."


Sudut bibir para gadis berkedut. Mereka semua merasa tidak puas, tetapi masih takut dengan Reinhart. Jadi akhirnya mereka memilih untuk pergi.


Setelah keempat gadis pergi menjauh, Reinhart menatap ke arah Tommy.


"Sekarang ... katakan apa yang kamu lakukan dan kenapa kamu melakukan hal semacam itu?"


Dipaksa untuk mengaku, Tommy tersenyum masam. Dia kemudian mengambil sesuatu dari tas kecil di pinggangnya.


Setelah mengeluarkan benda tersebut dan menaruhnya di atas batu, pria itu berkata kepada Reinhart.


"Inilah alasan kenapa aku melakukan hal semacam itu."


Melihat tanaman mirip dengan anggrek dengan bunga berwarna ungu tua dan memiliki pola ungu indah seperti awan, ekspresi Reinhart berubah.


"Tanaman tingkat empat yang langka dan berharga. Pantas saja kamu begitu bertekad untuk melakukan hal sembrono.


Kamu berniat untuk mengorbankan kami demi uang itu?


Jika sampai berhasil. Kamu akan mengalami akhir mengerikan dibandingkan kematian. Lagipula, tiga dari empat gadis adalah putri bangsawan."


"Tentu saja aku tidak bermaksud mengorbankan kalian." Tommy menggelengkan kepalanya dengan senyum masam di wajahnya. "Aku memancing ular itu keluar dari sarang dengan ramuan yang aku teliti. Ular itu akan menyusahkan kalian, tetapi aku juga tahu kalian pasti bisa melarikan diri. Aku hanya membutuhkan waktu untuk mencuri benda ini lalu lari."


Melihat penampilan berantakan Tommy, Reinhart mengangguk.


"Ular itu memang tidak mungkin berlari terlalu jauh dari sarangnya karena ada beberapa barang berharga dan tidak suka berada di daratan. Namun aku tidak menyangka, kamu cukup berani.


Selain itu, kenapa kamu harus bertaruh dengan hal semacam itu? Meski bahan ramuan mahal, tetapi kamu pasti bisa mengumpulkan banyak uang dengan berjualan potion."


"Itu terlalu lama. Aku membutuhkan uang secepatnya."


"Untuk apa?" tanya Reinhart.


"Seperti yang kamu ketahui, nenek sakit cukup parah. Aku membutuhkan banyak uang untuk membeli bahan yang bisa digunakan untuk meramu potion untuk wanita tua itu."


Tommy menghela napas panjang. Dia kemudian melihat ke arah Reinhart dengan ekspresi tidak berdaya.


Pada awalnya, ide Tommy cukup sederhana. Dia akan memancing ular keluar dari sarang, membiarkan ular itu mengejar Reinhart dan empat gadis sementara waktu. Selama itu, dia masuk ke dalam sarangnya untuk mengambil bunga lalu segera melarikan diri. Terakhir, pria itu akan menemui Reinhart dan para gadis, berpura-pura tanpa sengaja selamat dari kejaran ular.


Akan tetapi, semua benar-benar berantakan. Menurut informasi di dalam buku ilustrasi yang Tommy baca, ular itu memiliki tubuh yang sangat kuat. Terlebih lagi, sisiknya bisa menangkis sihir. Sulit dihadapi oleh para penyihir tanpa bantuan ksatria.


Siapa sangka, ketika kembali, ular itu benar-benar hampir dipotong menjadi dua tepat di tengah.


Mengenali betapa merepotkan ular tersebut, Tommy jelas tidak berani macam-macam dengan pemuda yang bisa membunuh ular itu dalam waktu singkat.


Setelah mendengar semua penjelasan Tommy, Reinhart mengangguk.


"Jadi, kamu telah mengambil semua jarahan dari sarang ular tersebut?"


"Tentu saja belum." Tommy menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengambil ini dekat pintu masuk goa lalu melarikan diri. Sama sekali tidak berniat masuk ke dalam. Siapa tahu kapan ular itu akan kembali."


"Antar aku ke tempat itu!"


"Eh? Baik?"


Tommy tercengang. Dia melihat tatapan membara di mata Reinhart dengan mata aneh. Jelas, pangeran berambut perak itu sebelumnya sangat 'cool'. Namun entah bagaimana, perubahan tampak ketika mereka berbicara soal harta jarahan dan kekayaan.


Tommy kemudian mengantarkan Reinhart menuju ke air terjun. Mereka berada di sisi kiri kolam dekat tebing. Saat itu, pria tersebut berkata.


"Anda tahu lubang itu, Tuan Muda. Aku kebetulan melihat bunga ini di sana."


"Kamu tidak masuk ke dalam?"


Dalam perjalan mencari tanaman berharga sebelumnya, Tommy menemukan tempat ini. Namun dia juga melihat ular yang besar dan berbahaya, jadi tidak berani bertindak sembrono.


Tommy ingin memanfaatkan para gadis yang kebetulan datang untuk melaksanakan misi. Namun siapa sangka, ternyata semuanya berjalan melenceng dari apa yang dia harapkan.


"Kamu menunggu di sini."


Setelah mengatakan itu, Reinhart langsung menarik pedangnya. Dia berlari dengan cepat. Menginjak air seolah itu tanah datar beberapa kali lompatan sebelum tiba di mulut goa dengan mudah.


Melihat goa yang gelap, lembab, dan suram membuat sudut bibir Reinhart terangkat. Bukan karena gelapnya atau suhunya, tetapi dia mengendus aroma samar di udara.


Melihat mulut goa yang tidak lebih besar dari pintu rumah biasa, Reinhart masuk tanpa sedikitpun rasa takut.


Setelah melewati lorong gelap, dia akhirnya tiba di tempat yang lebih luas.


Melihat pemandangan di dalamnya, Reinhart tidak bisa tidak berseru.


"Aku kaya!"


Pemandangan dalam goa sangat indah. Ruangan luas diterangi dengan warna hijau muda. Tampak beberapa jenis bunga di sana. Ada juga beberapa kristal berwarna-warni di goa. Pemandangannya memang sangat indah, tetapi yang lebih penting ...


Semua ini bernilai uang!


Suara desis terdengar. Ketika mendongak, Reinhart melihat tiga ular, dua di tingkat 3 (tengah) dan satu di tingkat 3 (akhir).


Bukannya terkejut atau panik, pemuda itu mengeluarkan pisau dengan tangan kirinya lalu menunjukkan senyuman ramah.


"DIAM DI TEMPAT, INI PERAMPOKAN!!!"


Reinhart mengacungkan pisau kecil berwarna hitam di tangannya dengan penuh percaya diri.


***


Tiga jam kemudian.


Di luar goa, Tommy benar-benar tampak khawatir. Ekspresinya tampak pucat, khususnya ketika melihat aliran darah yang membuat kolam berwarna merah sekitar dua setengah jam yang lalu.


'Kenapa pemuda tampan itu tidak segera keluar? Mungkinkah mati?


Ada makhluk yang lebih berbahaya di dalam goa? Keputusanku untuk tidak sembrono benar?'


Berbagai pertanyaan muncul dalam kepala Tommy. Dia merasa senang sekaligus panik. Pria itu senang karena tidak masuk dengan ceroboh. Namun dia juga panik karena mengetahui kalau identitas pemuda itu adalah bangsawan mulia.


"Ternyata kamu di sini!"


Suara seruan itu membuat jantung Tommy hampir melompat keluar dari dadanya. Menoleh, dia melihat empat gadis yang datang.


"Dimana Senior Reinhart?" tanya Delia.


Mengabaikan pertanyaan itu, Tommy malah bertanya.


"Tuan Muda Reinhart ... apa gelar bangsawan Tuan Muda?" tanya Tommy.


Keempat gadis itu saling memandang dengan tatapan bingung. Berbeda dengan Maria yang berhati-hati dan Hilda yang tidak berani berbicara, Delia berkata dengan bangga.


"Hehehehe! Kagumilah, Senior Reinhart adalah Pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak! Orang yang kemungkinan besar akan menjadi putra mahkota, yaitu Raja berikut!"


Bruk!


Tommy langsung jatuh ke tanah dengan ekspresi pucat. Tubuhnya bahkan gemetar hebat.


'TERNYATA PANGERAN DARI SALAH SATU KERAJAAN BESAR!'


Membayangkan kalau pangeran itu mati di tempat terpencil seperti ini, Tommy merinding.


Pria itu membayangkan bagaimana kota kecil ini akan menanggung kemarahan Kerajaan Rembulan Perak. Bukan hanya kita kecil. Mungkin perang besar akan terjadi!


Membayangkan salah satu kerajaan terkuat menyerbu Kerajaan Bintang dan mungkin akan diratakan untuk meluapkan kemarahan, Tommy memegangi kepalanya.


'INI SUDAH BERAKHIR!!!'


Saat itu, suara lelaki datar terdengar.


"Aku tahu kalian tidak menyukainya. Namun memukulinya sampai berguling-guling di lumpur agak terlalu berlebihan, kan?"


Mendengar pertanyaan Reinhart, keempat gadis yang tidak melakukan apa-apa benar-benar tercengang.


>> Bersambung.