
BRUK!
Reinhart dan teman-temannya agak terkejut ketika melihat beberapa gulungan yang diletakkan di atas meja. Usai mendapatkan penjelasan dari resepsionis, mereka akhirnya sadar kalau semua gulungan itu adalah informasi-informasi yang terkait dengan Kota Roscars. Meminta petunjuk kepada gadis itu, mereka akhirnya memilih beberapa hal yang dianggap paling penting.
Mereka membeli informasi tentang tokoh-tokoh paling berpengaruh di Kota Roscars. Selain itu, mereka tentu membeli informasi tentang para bandit yang diketahui. Termasuk dengan apa yang telah terjadi di Kota Roscars akhir-akhir ini dan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para bandit.
Selesai membeli informasi, Reinhart memilih untuk menghafalnya di tempat. Lagipula, meski penginapan nyaman, itu juga bukan tempat paling cocok.
Aiden dan tiga gadis terkejut dengan keputusan Reinhart. Meski hanya ada enam gulungan, gulungan itu masih tebal dan berisi terlalu banyak informasi. Mereka tidak menyangka akan disurung menghafal semua informasi secepat itu.
"Sama seperti buku pelajaran. Jika kalian tidak bisa menghafal keseluruhan informasi, paling tidak, hafalkan bagian-bagian penting dari informasi tersebut."
Reinhart berkata dengan ekspresi santai. Sama sekali tidak menekan mereka semua untuk segera melakukan hal-hal itu. Sebaliknya, dia memberi beberapa tips untuk mereka ketika menghafal. Karena ada enam gulungan, masing-masing dari mereka mengambil satu. Sementara yang lain berebut informasi yang lebih pendek, Reinhart langsung mengambil yang paling panjang lalu mulai membaca dan berusaha mengingat semuanya.
Tanpa terasa, beberapa jam berlalu begitu saja.
Ketika senja, Reinhart akhirnya menyelesaikan dan mengingat semua informasi dari keenam gulungan. Dia bahkan menulis beberapa poin penting dan mencurigakan, sesuatu yang mungkin masih bersangkutan satu sama lainnya dalam buku catatan kecil.
Di dunia ini, sebenarnya sudah banyak buku. Namun, alasan kenapa Guild Petualang menggunakan kertas gulungan adalah permasalahan ekonomis. Untuk informasi yang dijual, mereka mencatatnya di kertas gulungan yang lebih kasar dan agak berat, tetapi lebih murah daripada kertas-kertas yang diproses dengan baik.
Sementara Reinhart telah menghafal semuanya, empat rekannya belum selesai. Namun, tidak butuh waktu lama, Aiden juga segera menyusul Reinhart. Helena terlambat dua atau tiga menit dari Aiden. Sedangkan dua gadis lain menyelesaikannya tepat ketika matahari sepenuhnya terbenam.
Selesai mendapatkan informasi, Reinhart kemudian memanggil resepsionis. Karena mereka menghafalkan semuanya, tidak mungkin gadis itu menemani mereka karena juga harus melakukan pekerjaan lainnya. Setelah gadis itu datang, Reinhart lalu berkata.
"Kami akan memasang misi. Kami mencari orang yang bisa mengantar kami ke Kota Roscars, dan beberapa persyaratan lain yang sempat aku sebutkan sebelumnya. Paling lambat adalah lusa. Jika tidak ada yang bisa, kami akan menarik misi. Tentu saja, seperti peraturan, hanya 90% komisi yang akan dikembalikan."
Gadis resepsionis sedikit membungkuk lalu membalas.
"Sesuai permintaan anda, Tuan Muda."
Setelah membayar, Renhart dan teman-temannya pergi ke restoran. Usai makan, mereka kembali ke penginapan untuk menghemat lebih banyak tenaga dan menyusun strategi berdasarkan informasi yang mereka miliki.
***
Keesokan harinya.
Selesai bermeditasi di pagi hari, Reinhart berolahraga sebentar. Pemuda itu kemudian mandi. Usai berganti pakaian, dia segera pergi untuk sarapan dengan teman-temannya yang lain.
“Apakah menurutmu mereka akan menemukan calon yang cocok hari ini, Rein?”
“Makan sarapanmu terlebih dahulu. Kita membahas yang lainnya nanti.”
“Baik.”
Selesai sarapan. Mereka akhirnya memilih untuk berbincang terlebih dahulu.
“Jadi … apakah menurutmu kita akan mendapatkan orang yang cocok hari ini?”
“Tergantung.” Reinhart berkata santai. “Jika menurutku sendiri. Hmmm … tampaknya tidak bisa terlalu diandalkan.”
“Lalu kenapa kamu memasang quest (misi) semacam itu, Rein? Bukankah itu buang-buang uang?”
“Tentu saja tidak.”
“Lalu???”
Reinhart tersenyum misterius sambil menatap Aiden dan tiga gadis lain.
“Kalian akan mengetahuinya nanti.”
Setelah mengatakan hal itu, Reinhart mengajak teman-temannya untuk jalan-jalan di Kota Wind Prairie. Ya … itu telah menjadi salah satu keputusan salah yang dia buat sejak dirinya datang ke dunia ini.
‘Melelahkan …’
Merasakan kalau Aiden menatapnya dengan ekspresi tertekan, Reinhart hanya bisa membalasnya dengan senyum pahit.
‘Aku juga lelah sama seperti dirimu, Bung.’
***
Sore harinya.
Reinhart dan teman-temannya kembali ke penginapan. Sampai di sana, mereka terkejut melihat salah satu pekerja dari Guild Petualang datang untuk menemui mereka berlima. Tampaknya ada beberapa petualang yang ingin mengambil misi dan ingin bertemu dengan mereka.
“Maaf membuatmu menunggu lama. Kami akan segera pergi ke Guild Petualang setelah menaruh barang bawaan kami.”
“Baik, Tuan Muda.”
Melihat gadis dari Guild Petualang pergi, Reinhart menghela napas panjang. Meski dia bisa mengatur semuanya sendiri, pemuda itu sudah merindukan Isana.
Selain sebagai penjaganya, wanita itu benar-benar membantu Reinhart dalam menangani banyak hal. Membuat pemuda itu memiliki sedikit masalah dan tidak membuang waktu untuk hal-hal kurang penting.
Melirik ke arah Aiden yang kelelahan dan tiga gadis yang berbincang dengan gembira, Reinhart sekali lagi menghela napas. Dia akhirnya bisa merasakan apa yang Isana rasakan, bahkan lebih, karena …
Sekarang dia juga harus mengurus empat murid bermasalah.
Selesai menaruh dan merapikan banyak hal di kamar, mereka akhirnya pergi menuju ke Guild Petualang.
Sampai di sana, mereka melihat lima orang yang telah menunggu mereka. Apa yang mereka butuhkan adalah satu orang, jadi sedikit terkejut kalau ada lima orang yang mencoba mengambil misi. Itu berarti, orang-orang di Guild Petualang sebenarnya juga berebut dan mencoba mencari misi yang cocok dengan mereka.
‘Sepertinya menjadi petualang juga tidak mudah …’
Pikir Reinhart ketika melihat mereka. Bukan hanya berada di situasi dimana kehidupan dan kematian sangat dekat, bahkan untuk misi, mereka juga harus bersaing satu sama lain.
“Mereka adalah petualang yang kami anggap memenuhi syarat, Tuan Muda. Untuk siapa yang anda pilih, itu tergantung dengan yang mana yang anda suka.”
“...”
Reinhart menatap ke arah kelima petualang. Ada sosok pria botak dengan tubuh kekar dan beberapa bekas luka di kepalanya. Ada sosok pria kurus dengan rambut panjang dan ekspresi licik. Kemudian, ada juga ada saudara kembar. Meski tidak tampan, penampilan mereka lebih baik daripada dua sebelumnya.
Terakhir, ada sosok wanita dengan pakaian ketat berwarna hitam. Dia adalah kecantikan dewasa menawan. Dengan dua belati yang tergantung di kedua sisi pinggangnya, tampaknya wanita itu adalah pembunuh.
“Bolehkah aku bicara?”
Aiden mengangkat tangannya.
“Terserah.”
Reinhart tidak terlalu peduli. Yang mana saja sebenarnya tidak apa-apa baginya.
“Pertama, saya minta maaf, kami hanya meminta satu orang, jadi untuk kalian berdua … kami tidak bisa menerimanya.”
“Kami tidak perlu bayaran dua kali lipat, cukup bayaran itu saja.”
“Maaf, hal semacam itu justru semakin mencurigakan.” Aiden berkata dengan ekspresi minta maaf sebelum melanjutkan. “Untuk anda, daripada petualang, saya berpikir anda lebih mirip bandit. Untuk anda, daripada petualang, saya berpikir anda lebih mirip pencuri. Jadi …”
Aiden menatap ke sosok wanita dewasa yang cantik dengan lekuk tubuh indah. Wanita itu juga tersenyum, bahkan sedikit mengangkat dadanya dengan ekspresi bangga. Tampaknya sejak awal telah percaya diri kalau dirinya akan dipilih.
“...”
Melirik ke arah Helena, Sophia, dan Caterina yang memiliki ekspresi gelap di wajah mereka … Reinhart memandang Aiden dengan tatapan iba. Pemuda itu diam-diam berpikir.
‘Tampaknya kamu benar-benar terlalu muda dan polos, Bung. Turut berduka cita untukmu!’
>> Bersambung.