Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Menjalankan Rencana



“Apa yang terjadi ketika seseorang mengulurkan tangan ketika mereka hampir jatuh ke dalam jurang?”


Mendengar pertanyaan Reinhart, Aiden dan tiga gadis langsung memikirkannya. Meski bangsawan itu sombong, kebanyakan dari mereka memiliki harga diri yang tinggi. Mereka suka membalas atas keluhan kecil, tetapi juga suka membalas kebaikan seseorang. Khususnya kebaikan yang tidak bisa mereka lupakan.


Glup!


Aiden dan tiga gadis menelan ludah. Mereka tidak menyangka kalau Reinhart memiliki pemikiran licik seperti itu. Memanfaatkan kemalangan orang lain untuk keuntungan.


“Mereka … akan membayar kita lebih?”


Aiden berkata dengan ekspresi ragu. Namun rekan–rekan lain bisa melihat kalau matanya seperti sedang menatap tumpukan emas.


“Tentu saja kamu tidak salah, tetapi kurang benar, Aiden.”


“Apa yang kamu maksud, Rein?”


“Maksudku, jika kita menyelamatkan mereka, mereka akan membayar banyak. Namun sebaliknya. Karena kita memegang tangan mereka, kita juga memiliki resiko untuk jatuh ke dalam jurang bersama dengan mereka. Kalian mengerti maksudku, kan?”


“...”


Mereka berempat diam, tetapi masih mengangguk berat sambil menatap Reinhart. Mereka juga tahu, ketika terlibat dengan sesuatu, pasti akan ada resiko. Seperti pedagang yang akan mengambil resiko untung atau rugi. Namun, resiko ini terlalu besar untuk mereka.


“Kalau begitu, menurutmu bagaimana, Rein?”


“Jika itu aku, aku masih ingin mengambil resiko.”


Reinhart langsung menjawab. Nadanya agak dingin, tetapi masih tegas.


Meski pemuda itu merasa kalau uang sakunya lebih banyak dibandingkan dengan siswa-siswi lain, mungkin bersaing dengan Aiden. Namun dia merasa masih sangat kurang.


Dalam menempuh jalan sihir atau ksatria, bukan hanya memerlukan bakat, tetapi juga memerlukan uang. Jika tidak memiliki uang, bagaimana membeli ramuan gizi, ramuan untuk meningkatkan fisik, ramuan untuk meningkatkan mana, dan alat-alat lainnya.


Meski bisa mencari bahan sendiri dan menebus dengan lebih sedikit uang, itu sama sekali tidak efisien. Belum lagi, sekarang dia adalah siswa, bukan petualang yang bisa pergi ke sana-sini.


Reinhart sendiri sebenarnya bisa meminta uang kepada orang tuanya. Meski agak keterlaluan, orang tuanya sangat kaya dan mereka pasti setuju. Namun, dia masih ingin menyembunyikan kalau dia berusaha menempuh tiga jalur lain. Khususnya penyihir kegelapan dan ksatria kegelapan.


Pemuda itu tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui rahasia terbesar dalam dirinya.


Padahal, Professor Elin sendiri mengetahuinya. Wanita itu juga orang yang memberi saran kepada Reinhart untuk meminta bantuan kepada orang tuanya. Karena, tidak mudah untuk memulai dan terus berjalan di jalan seperti itu sendiri.


Jadi … dia memerlukan banyak uang dan tidak ingin melepaskan kesempatan ini!


“Seberapa percaya diri kamu untuk melakukan ini, Rein?”


Reinhart menatap ke arah Aiden dengan ekspresi serius.


“Karena Guild Petualang bersikap netral, aku masih memiliki kepercayaan diri. Seharusnya, kemungkinan berhasil adalah 50-80%.”


“Hah? Kenapa perbandingannya begitu jauh?”


Mendengar Aiden yang terkejut, Reinhart memutar bola matanya. Dia mendengus dingin sebelum berkata.


“Jika seseorang tidak mengacau, kemungkinan keberhasilan 80%. Namun jika seseorang mengacau, melakukan hal-hal sembrono yang merusak rencana, aku jelas harus membereskan semua kekacauan itu, jadi … kemungkinan untuk berhasil adalah 50%.”


Uhuk! Uhuk!


Ucapan Reinhart langsung membuat Aiden pura-pura batuk. Bahkan Helena, Sophia, dan Caterina juga menunduk malu. Wajah mereka merah, benar-benar tidak bisa menyangkal kalau mereka berempat masih terlalu bergantung pada Reinhart dalam misi ini.


Reinhart menatap ke arah Devy. Melihat ekspresi kurang nyaman di wajah gadis itu, dia kemudian berkata.


“Aku mengerti kalau kamu mengkhawatirkan adikmu, Devy. Namun jangan bertindak sembrono. Semua butuh proses. Karena adikmu memang sudah ditangkap, seharusnya menunda dua atau tiga hari masih bukan masalah.


Ketuanya jelas memiliki banyak wanita. Meski adikmu cantik, jelas anak kecil, khususnya yang sakit-sakitan dan kurang gizi itu sangat rentan. Ketua Emerald Spider jelas lebih memilih untuk ‘menjual’ dengan harga mahal daripada tidak sengaja merusak barang yang rentan.


Kamu pasti mengerti maksudku, kan???”


“...”


Devy mengangguk berat sebagai jawaban.


Melihat itu, Reinhart mengangguk puas. Dia kemudian melihat ke arah rekan-rekannya lalu berkata.


“Kita beristirahat untuk malam ini. Besok, kita eksekusi rencananya!”


***


Keesokan harinya.


Reinhart yang menutup seluruh tubuhnya dengan jubah hitam dan memakai topeng perak berdiri di depan kastil. Kastil tempat Keluarga Vinn berada. Meski bangunannya tidak terlalu besar (untuk bangunan kastil), tetapi memang dibangun dengan cukup baik tanpa perlu melakukan dekorasi yang berlebihan.


“Berhenti di sana!”


Dua penjaga yang menjaga gerbang langsung menghentikan Reinhart.


Pemuda itu melirik ke arah penjaga yang hanya di level knight. Bahkan mereka tampak hanya berada di awal level knight. Tampaknya memerlukan waktu bertahun-tahun untuk naik ke level High Knight dengan sedikit kemungkinan.


‘Aku tidak menyangka keluarga Viscount bisa jatuh sampai seperti ini. Mungkin karena hanya Kerajaan kecil.’


Melihat dua sosok paruh baya yang menghentikan dirinya, Reinhart menghela napas dalam hatinya. Dia kemudian mengeluarkan lencana, lambang siswa dari Akademi Cahaya Bintang sebelum akhirnya berkata.


“Saya murid dari Akademi Cahaya Bintang, datang untuk menemui VIscount Vinn untuk menjalankan misi.”


Pernyataan Reinhart membuat keduanya saling memandang. Mereka sebenarnya agak curiga, tetapi masih tidak berani menentang karena bahkan Viscount sendiri harus berhati-hati dalam menghadapi murid Akademi Cahaya Bintang.


“Tolong tunggu sebentar.”


Usai mengatakan itu, salah satu ksatria masuk ke dalam kastil. Beberapa saat kemudian, dia kembali keluar lalu menatap ke arah Reinhart sembari berkata.


“Tuan bersedia menemui anda. Tolong ikuti kami.”


“Baik.”


Reinhart mengangguk. Dia kemudian mengikuti para penjaga lalu pergi ke dalam kastil.


Masuk ke dalam kastil, Reinhart langsung diawasi oleh banyak ksatria karena penampilannya yang mencurigakan. Selain itu, beberapa juga ikut ‘mengawal’ dirinya menuju ke bangunan utama kastil, tempat Viscount Vinn telah menunggu.


Melihat banyak ksatria (walau hanya di level awal) menatapnya, Reinhart agak curiga. Mungkin Viscount Vinn sendiri bersikap paranoid karena banyak orang di Kota Roscars yang mengincar nyawanya.


Masuk ke dalam bangunan utama, Reinhart langsung melihat sosok lelaki paruh baya kurus. Dia memiliki rambut hitam, kumis tebal, dan kulit berwarna gandum. Dia juga mengenakan pakaian bangsawan yang khas. Namun, tubuhnya kurus dan ekspresinya tampak kuyu. Kelopak matanya hitam, mungkin karena tidak bisa tidur dengan nyenyak di setiap malamnya.


Pria itu menatap ke arah Reinhart lalu berkata.


“Selamat datang di Kastil Vinn, Temanku dari Akademi Cahaya Bintang.”


Mendengar itu, Reinhart melepas tudung lalu melepas topengnya. Rambut perak sedikit menari, pemuda tampan dengan wajah tenang muncul di hadapan mereka. Menatap ke arah Viscount, pemuda itu akhirnya berkata.


“Terima kasih atas sambutan ramahnya, Viscount Vinn. Senang bertemu dengan anda.”


>> Bersambung.