Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Rumah Kesenangan



Sore harinya.


"T-Tunggu Rein! Kenapa kamu menyeret aku ke tempat seperti ini?!"


Leander menatap sosok Reinhart dengan ekspresi tercengang. Di depan mereka, tampak sebuah bangunan indah dengan tulisan "Golden Flower" besar, dengan tambahan 'rumah kesenangan bagi tuan-tuan yang membutuhkan' di bawahnya.


"Tentu saja membereskan kekacauan yang telah kamu buat."


"Kekacauan apa? Jangan mengada-ada, Rein! Aku ... Aku bahkan belum pernah masuk ke tempat seperti ini!"


"Sudah kubilang, kamu membuat banyak masalah. Jadi kamu harus membantuku membereskannya!"


"Jika bertarung, kita harus pergi ke arena! Golden Flower ... itu adalah tempat yang hanya dikunjungi pria dewasa!"


"Memang," ucap Reinhart dengan ekspresi datar.


"K-Kamu sudah tahu, tapi kenapa masih membawaku ke tempat semacam ini?"


Ekspresi tercengang dan tidak percaya tampak di wajah Leander.


"Aku tidak percaya kalau kamu orang yang memiliki hobi semacam itu, Rein! Kamu—"


"Diamlah, bodoh. Jika kamu diam, tidak akan ada yang mengira kamu begitu bodoh.


Apakah kamu masih tidak tahu alasan kenapa kita datang ke sini?"


"Untuk melihat para wanita? Bersenang-senang melewati malam yang panjang?"


Leander memiringkan kepalanya.


Ucapan Leander membuat sudut bibir Reinhart berkedut. Dia benar-benar tidak menyangka kalau kakak Vanessa itu ternyata begitu bodoh. Padahal, sebelumnya Reinhart sudah menjelaskan semuanya kepada pemuda itu.


"Kita akan menjemput Zale!"


"Eh? Kita tidak datang untuk bersenang-senang?"


Melihat ekspresi agak kecewa di wajah Leander, entah kenapa Reinhart benar-benar ingin memukulnya.


"Jangan buat aku mengulanginya, Leander."


"..."


Setelah mengatakan itu, Reinhart langsung maju dan membuka pintu. Leander mengikuti dari belakang, langsung masuk ke dalam bangunan tersebut.


"Selamat datang di Golden Flower!"


Suara para wanita yang menyambut serempak langsung terdengar di telinga keduanya. Aroma parfum dan wewangian lain langsung memasuki hidung mereka.


Tampak banyak sosok wanita dengan pakaian minim yang menatap mereka berdua dengan tatapan centil.


"Berhenti melongo! Itu memalukan!"


Reinhart berbisik dingin kepada Leander.


Bagi pangeran yang tampak bangga tetapi polos itu, pemandangan yang ada di depannya terlalu berlebihan. Bahkan jika banyak pelayan yang melayaninya di istana, mereka berpakaian rapi, bahkan cukup tertutup. Para pelayan juga berbicara sopan dan hormat.


Sensasi yang didapat dari para wanita manja itu jelas memiliki dampak besar bagi Leander!


Mengabaikan Leander, Reinhart segera pergi ke resepsionis. Di sana, dia langsung disambut oleh ladiboy. Ya, pria dengan pakaian dan riasan layaknya wanita.


Jika itu tipe pria lugu, manis, dan lembut, mungkin beberapa orang masih akan terkecoh. Namun, sosok yang berdiri di depannya adalah seorang pria paruh baya dengan badan seperti Hercules. Dipenuhi dengan otot-otot ditambah dengan wajah maskulin.


Dikombinasikan dengan pakaian maid dan riasan wajah penuh warna, daripada menarik pelanggan, penampilannya pasti sudah memenangkan hadiah di kontes kostum Halloween. Menakuti anak-anak sampai menangis dan membuat banyak orang merasa mual!


Mengabaikan Leander yang pucat seolah-olah sedang melihat hantu, Reinhart masih memiliki ekspresi datar dan wajah apatis. Menatap ke arah ladiboy di belakang konter, dia berkata.


"Aku mencari seseorang."


Melihat ke arah pemuda tampan di depannya, ladiboy tersebut juga terkejut. Dia tidak menyangka kalau pangeran berambut perak itu benar-benar tidak terkejut atau takut padanya.


Mendengar suara maskulin tetapi pura-pura manja itu, tubuh Reinhart sedikit gemetar. Masih memasang ekspresi datar, dia berkata.


"Aku ingin bertanya dimana kamar yang dipesan oleh Zale."


Resepsionis itu menatap ke arah Reinhart dan Leander lekat-lekat sebelum akhirnya terkejut.


"Bukankah ini Pangeran Reinhart dan Pangeran Leander?"


Ucapannya langsung membuat para wanita di Golden Flower terkejut. Melihat ke sosok Reinhart dan Leander, semangat membara tampak di mata mereka. Mereka tampak seperti gerombolan serigala betina yang melihat domba gemuk.


"R-Rein ..." ucap Leander dengan gugup.


"Tenang saja."


Usai membuat Leander tenang, Reinhart menatap sosok pria dengan pakaian maid itu dengan ekspresi hambar.


"Ini kami. Jadi, dimana Zale saat ini?"


"Betty tidak menyangka pangeran generasi sekarang benar-benar suka menghabiskan waktu mereka dengan bermain liar.


Mohon maaf, Tuan Muda. Betty tidak bisa mengungkap rahasia pelanggan. Urusan Pangeran Zale, itu jelas privasi. Jadi—"


"Kami adalah sahabat Zale. Dia pasti malah senang dengan kedatangan kami."


Reinhart langsung menyela sambil meletakkan lima koin emas di atas meja.


Melihat koin emas itu, mata Betty berbinar. Memiliki ekspresi pura-pura ragu, dia berkata.


"Betty benar-benar bingung. Tampaknya—"


Reinhart meletakkan kantong kecil berisi 20 keping koin emas. Ya. Bukan tembaga atau perak, tetapi koin emas. Jumlah sebanyak itu jelas bisa digunakan untuk mengajak beberapa gadis cantik untuk bersenang-senang semalaman.


"Tentu saja, Pangeran Zale akan senang ketika mendengar kedua sahabatnya datang."


Melihat perubahan Betty yang begitu tidak konsisten, Leander tercengang. Dia benar-benar melihat dunia baru. Bagaimana cara orang bermain dengan kekayaannya.


"Pangeran Zale berada di lantai tiga, kamar 001. Saya bisa memberikan kunci cadangan, tetapi—"


"Tenang. Dia tidak akan berusaha merepotkan Golden Flower atau merepotkan kamu. Aku akan menangani semuanya."


"Tolong jangan ingkari kata-kata anda, Tuan Muda."


Betty memberi kunci cadangan kepada Reinhart.


Reinhart kemudian pergi. Leander sempat tercengang, tetapi segera mengikuti sosok Reinhart.


"Apakah ini baik-baik saja? Kamu benar-benar menyuap resepsionis itu?"


"Aku hanya membeli informasi."


"..."


Melihat ke arah Reinhart yang tampak tak acuh, Leander tidak bisa berkata-kata.


Setelah beberapa saat, mereka akhirnya sampai ke tujuan. Depan pintu kamar 001, tempat Zale berada.


Dari dalam, terdengar suara beberapa gadis yang terdengar manja. Suara-suara itu membuat Leander merasa agak kewalahan.


"Apakah kita benar-benar akan melakukan ini, Rein? Maksudku, ini privasi Zale! Juga—"


Belum menyelesaikan ucapannya, Leander melihat Reinhart telah membuka kunci dan mendorong pintu terbuka.


Ketika pintu terbuka, apa yang mereka berdua lihat membuat keduanya kehilangan kata-kata.


>> Bersambung.