
"Eh? Kenapa kamu tiba-tiba menangis???"
Melihat air mata yang tiba-tiba mengalir membasahi pipi, Hilda terkejut setengah mati. Dia merasa agak bingung. Menoleh ke kiri dan kanan, gadis itu tidak melihat orang lain yang bisa dia tanyai.
Menyeka air matanya, Maria tersenyum lembut.
"Aku ... Aku sangat bahagia. Terima kasih banyak, Hilda!"
"Hah?! Kamu menangis karena bahagia? Memangnya kamu anak kecil?"
Melihat kalau Maria ternyata baik-baik saja, Hilda langsung marah.
"Hehehe ... Maaf! Bagaimana kalau besok ketika sampai di kota kita berbelanja bahan makanan bersama? Ketika pergi ke gunung, aku akan memasak untukmu.
Jangan khawatir. Aku cukup percaya diri dengan masakanku."
"Setidaknya traktir aku di restoran terbaik besok. Hanya di kota kecil, beberapa koin emas pasti sudah cukup." Hilda menyeringai.
"K-Koin emas!" Maria tercengang. Dia kemudian bermain dengan jarinya, tampak cukup panik dan bingung. "Anu ... Aku ..."
"Aku hanya bercanda, Bodoh! Aku tahu kondisimu, jadi tidak akan memaksamu untuk melakukan hal-hal semacam itu.
Pastikan untuk memasak yang enak karena aku cukup keras dalam mengkritik makanan!" ucap Hilda dengan senyum di wajahnya.
"Huuh ... Jadi begitu ..." Maria menyeka keringat di dahinya.
"Omong-omong soal makanan, kamu mengetahui bahan yang digunakan oleh Pangeran Reinhart tadi?"
"Iya? Rosemary, bawang putih, mentega, daging—"
"Bukan itu maksudku."
"Eh? Lalu?"
"Harganya. Barang-barang yang dibeli Pangeran Reinhart dari kota sebelumnya masih segar dan memiliki kualitas baik. Jika aku tidak salah menebak, harga daging adalah ..."
Hilda mulai menyebutkan harga bahan yang Reinhart gunakan untuk memasak. Setiap kali gadis itu menyebutkan harga, Maria merasa ada suara gemerincing koin di telinganya. Kepalanya terasa agak pusing ...
Benar-benar tidak menyangka kalau biaya satu kali makan Reinhart bisa begitu mengerikan!
"Tentu saja, ada banyak bahan yang tidak bisa dibeli dan sangat berharga. Harganya mahal dan tidak tersedia di pasar.
Ada hal-hal yang hanya bisa didapatkan oleh para petualang. Sebuah hadiah dari alam atas keberanian mereka."
Suara tenang ikut masuk dalam pembicaraan mereka.
Maria dan Hilda menoleh, melihat sosok Reinhart yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Pangeran Reinhart!" ucap mereka serempak.
Melihat keduanya hendak bangkit, Reinhart langsung berkata, "Tidak perlu begitu sopan. Duduk saja."
"B-Baik!" ucap Hilda dengan nada gugup. Bahkan wajahnya sedikit merah.
Melihat itu, Maria merasa agak bingung. Dia kemudian menatap ke arah Reinhart dan berkata, "Saya pikir anda sudah tidur, Pangeran Reinhart."
"Kalian berbicara begitu semangat. Aku tidak bisa tidur," ucap Reinhart setengah bercanda.
Maria dan Hilda terlihat gugup, tampaknya menganggap serius ucapan Reinhart.
"Boleh aku duduk?" tanya Reinhart.
"S-Silahkan!" jawab Hilda.
"Terima kasih."
Reinhart kemudian duduk di sisi lain api unggun. Dia kemudian kembali berbicara.
"Kalian tadi berbicara soal bahan, kan?"
"Iya, Pangeran." Maria mengangguk.
"Mungkin bahan dari binatang sihir yang diternakkan mahal dan dianggap sebagai barang premium. Namun, hal tersebut masih bisa didapatkan dengan uang.
Maksudku ... tidak terlalu banyak uang.
Ada juga beberapa bahan berharga. Contohnya, ada ikan di perairan laut utara Kerajaan Rembulan Perak yang hanya muncul di musim dingin. Ukurannya sebesar paha orang dewasa, memiliki sisik perak dan berkilau ketika terkena sinar cahaya.
Apakah kalian tahu harganya? Sebagai warga Kerajaan Rembulan Perak, mungkin kamu tahu, Hilda?"
"S-Seratus koin emas!" seru Maria yang hampir tersedak air liurnya.
"Ya. Memang semahal itu." Reinhart mengangguk. "Jumlah mereka sebenarnya terbilang banyak, tetapi tidak banyak orang yang menangkapnya."
"Eh? Kenapa???" tanya Maria dengan ekspresi bingung.
"Karena berbahaya." Hilda berkata serius. "Untuk sampai di lokasi, orang itu harus melewati pegunungan dan hutan pinus yang berbahaya. Bahkan setelah sampai di sana, orang itu harus berhadapan dengan air laut yang sangat dingin dan banyak binatang sihir ganas di dalamnya."
"..."
Maria terdiam. Tentu saja, dia tahu betapa pentingnya hidup dibandingkan dengan uang.
"Ada juga beberapa barang kualitas baik dengan harga tidak begitu tinggi. Contohnya adalah minuman khas kota kecil tempat asalmu, Maria.
Harganya tidak terlalu tinggi bagi kebanyakan konsumen, tetapi jumlah yang bisa diproduksi tidak banyak. Meski tidak begitu berbahaya, musim dimana madu terbaik dari ratusan bunga berbeda bisa dipanen dan dibuat minuman di musim semi.
Walau ada minuman yang dibuat di musim panas dan gugur, tetapi yang terbaik dan dianggap paling berharga adalah seduhan di musim semi."
Mendengar ucapan Reinhart, Hilda menatap ke arah Maria dengan heran. Saat itu, suara pangeran berambut perak itu kembali terdengar.
"Jika kamu tidak buru-buru pulang, kamu bisa berkunjung ke sana pada liburan musim panas. Bukankah begitu, Maria?"
"Ya! Walaupun bukan kota besar, tetapi lokasinya dikelilingi lahan yang sangat luas penuh dengan bunga. Aku rasa kampung halamanku indah! Aku bisa menunjukkannya kepadamu, Hilda."
Maria berbicara dengan penuh semangat.
Melihat senyum cerita di wajah Maria, Hilda tertegun sejenak. Dia kemudian menggelengkan ringan.
"Jika memiliki kesempatan, aku akan datang."
"Bagus!" ucap Maria.
"Hanya saja, saya sedikit penasaran. Apakah saya boleh bertanya kepada anda, Pangeran Reinhart?" tanya Hilda.
"Katakan," balas Reinhart.
"Tampaknya ... anda dan Maria sangat dekat? Apakah saya boleh tahu alasannya?"
Mendengar pertanyaan itu, Reinhart dan Maria saling memandang. Pemuda itu kemudian mengangguk ringan sebelum berkata.
"Sebenarnya, alasan kenapa Maria mendaftar ke akademi adalah ajakanku. Aku juga yang merekomendasikannya.
Sedangkan bagaimana kami mengenal, biarkan Maria sendiri yang menceritakannya."
Setelah menerima jawaban Reinhart, Hilda menatap ke arah Maria.
Gadis itu awalnya gugup. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai menceritakan semuanya.
Selesai mendengar cerita Maria, Hilda menatap ke arah gadis itu dengan senyum lembut di wajahnya.
"Kamu benar-benar luar biasa, Maria."
Ucapan Hilda membuat Maria merasa senang. Gadis itu menggaruk belakang kepalanya dengan senyum malu-malu.
"Saya tidak menyangka kalau ada cerita seperti itu, Pangeran Reinhart. Anda benar-benar baik, sosok yang pantas untuk menjadi putra mahkota. Raja Kerajaan Rembulan Perak berikutnya!
Omong-omong, apakah anda berniat untuk merekrut Maria setelah kelulusannya, Pangeran?"
"Eh? Merekrutku?" tanya Maria bingung.
"Ya. Walau tidak banyak, tetapi terkadang ada beberapa orang biasa yang memiliki bakat sihir. Mereka yang bisa mendapatkan beasiswa dan lulus dari akademi sihir biasanya akan direkrut oleh bangsawan.
Tentu saja, bagi mereka yang percaya diri, mereka memilih untuk menjadi petualang. Sedangkan yang tidak, mereka bekerja untuk bangsawan dan mendapatkan upah berupa uang serta bahan latihan berupa alat, tanaman, ramuan, atau hal-hal yang membantu penyihir lainnya.
Bayarannya sendiri berbeda tergantung kontrak. Sedangkan kontrak biasanya ditentukan oleh seberapa hebat penyihir tersebut. Semakin kuat dan memiliki banyak keahlian, bayarannya akan semakin mahal."
Mendengar ucapan Hilda, mata Maria berbinar.
Sementara itu, Reinhart menatap gadis itu dengan ekspresi aneh. Dia bahkan merasa kalau Hilda memiliki pemikiran yang terlalu berani.
'Merekrut Penyihir Suci yang akan selalu berhadapan dengan berbagai kejahatan dan bencana?'
'Hahahaha! Lelucon itu agak gelap."
'Aku tidak ingin naga tiba-tiba turun di ibukota Kerajaan Rembulan Perak dan memusnahkan rakyatku. Jadi maaf ... Aku menolak!'
>> Bersambung.