
Setelah kembali ke akademi, Reinhart langsung pergi melapor kepada Professor Elin.
Selesai melapor, dia langsung kembali ke tempat tinggalnya. Mengingat pengalaman tidak masuk akal sebelumnya, Reinhart tidak bisa tidak menghela napas panjang.
Jika bukan karena keberadaan Heroine, dia tidak percaya penyihir api tingkat empat bisa muncul begitu saja!
Bahkan jika hal semacam itu terjadi, seharusnya semuanya terjadi sebelum mereka datang atau setelah mereka pergi. Muncul ketika mereka hampir menyelesaikan misi, Reinhart tidak habis pikir kenapa hal semacam itu bisa terjadi.
"Tuan!!!"
Melihat ke arah Reinhart yang kembali, Lyn langsung berlari. Gadis kecil itu tampak begitu bersemangat.
"Aku kembali, Lyn. Tampaknya kamu sangat senang. Ada apa?"
"Lihat, Tuan! Lihat!"
Lyn berdiri di depan Reinhart dengan ekspresi serius. Dia kemudian membaca mantera dengan ekspresi serius di wajah kecilnya. Setelah beberapa saat, sebuah bola api berwarna ungu muncul di depan kedua telapak tangannya.
Setelah beberapa saat, api itu padam. Gadis tersebut kemudian menyeka keringatnya lalu tersenyum ke arah Reinhart dengan mata penuh kilau. Tampaknya menunggu pujian dari Reinhart.
"Kerja bagus, Lyn."
Reinhart tersenyum lembut sambil mengelus kepala Lyn. Gadis kecil itu tertawa dengan gembira.
"Namun kamu harus ingat sesuatu, Lyn. Kamu tidak boleh menunjukkan sihir di depan orang lain. Selain itu, kamu juga tidak boleh berlatih sendirian."
"Eh? Kenapa, Tuan?" tanya Lyn dengan ekspresi bingung.
"Itu berbahaya. Aku tidak ingin kamu terluka, jadi kamu harus menurut, okay?"
"Baik, Tuan!" ucap Lyn dengan tegas, tetapi malah tampak imut.
Setelah berbicara dengan Lyn, Reinhart juga berbicara dengan Isana. Setelah beristirahat sebentar, dia terkejut ketika melihat Maria mengetuk pintu rumahnya.
"Ada apa, Maria? Kenapa kamu datang ke sini? Apakah kamu tidak beristirahat?"
"Anu ... Guru memanggil anda, Pangeran Reinhart!"
"Hah?!"
Mendengar itu, Reinhart tercengang. Setelah beberapa saat, dia tidak bisa tidak mengeluh.
"Seharusnya dia membicarakan langsung daripada memintaku mondar-mandir."
"..." Maria hanya diam.
"Kalau begitu mari pergi."
"Baik!"
Mereka pun pergi ke akademi, langsung menuju ke kantor Professor Elin.
Masuk ke dalam ruangan, Reinhart langsung mengeluh.
"Tidakkah kamu bisa melakukannya lebih awal, Guru? Kamu sengaja membuatku mondar-mandir, kan?"
"Kalau begitu kamu tidak memedulikan temanmu."
Pemuda itu menerimanya dengan ringan. Setelah membuka dan membaca isinya, ekspresinya sedikit berubah.
"Ini bukan lelucon, kan? Maksudku, Aiden jelas suka membuat lelucon."
"Tidak ada orang yang suka membuat lelucon tentang kematiannya sendiri, Rein."
Professor Elin menggelengkan kepalanya.
"Lalu ... Si bodoh itu benar-benar beruntung untuk menemukan reruntuhan kuno dan pergi menjelajahinya?" tanya Reinhart dingin.
"Ya." Professor Elin mengangguk.
Sudah jelas, dalam plot game sama sekali tidak ada yang berhubungan dengan reruntuhan kuno di gurun pasir. Mengingat kalau alur melenceng terlalu jauh, Reinhart hanya bisa menghela napas panjang.
"Aku akan menyeretnya kembali," ucap Reinhart.
"Apakah kamu yakin akan melakukannya? Kamu harus ingat, reruntuhan kuno bukanlah tempat yang ramah."
"Karena aku mengetahuinya, aku tetap akan pergi. Lagipula, si bodoh itu pasti sedang menunggu seseorang untuk mengeluarkannya dari sana."
"Kalau begitu aku akan ikut!"
Pintu kantor terbuka, sosok Zale memasuki ruangan dengan senyum di wajahnya.
"Apakah kamu sudah kembali?"
"Ya." Zale mengangguk ringan. "Kita berdua kembali lebih awal. Ya ... meski aku yang pertama kali kembali!"
Melihat Zale yang tampak bangga, Reinhart menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak akrab dengan Aiden, kamu tidak perlu repot-repot, Zale."
"Tidak mungkin!" ucap Zale tegas.
"Kalau begitu kamu begitu peduli dengan Aiden?"
"Tentu saja tidak! Maksudku ... Harta di reruntuhan kuno. Ya! Itu karena harta di reruntuhan kuno!
Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kucing Liar itu!"
"Hou~"
"Sudah aku bilang! Aku tidak peduli padanya!"
Sementara Reinhart mengejek Zale, suara Professor Elin terdengar.
"Kalau begitu bawa gadis ini. Sihir cahayanya mungkin berguna bagi kalian."
Mendengar itu, entah kenapa, Reinhart menjadi lebih gugup. Dia tidak bisa tidak bertanya dalam hatinya.
'Tidak ada makhluk level 6 yang tiba-tiba muncul dari dalam reruntuhan kuno, kan?'
>> Bersambung.