
Sepulang sekolah.
Sosok Reinhart pergi menuju ke asrama yang berada tidak jauh dari akademi. Dia telah memiliki tujuan pasti, yaitu merekrut Noctis dan menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, barulah pemuda tersebut bisa fokus kepada tujuannya sendiri.
Setelah menunggu cukup lama di jalan menuju asrama, Reinhart akhirnya melihat sosok yang dia tunggu-tunggu.
Di sisi lain, tampak sosok pemuda jangkung. Kulitnya berwarna kecoklatan, dia memiliki rambut hitam dan mata zamrud. Rambut hitam dipotong agak pendek, disisir ke belakang dengan ujung lancip. Tampak sedikit liar, sama sekali tidak seperti bangsawan.
Pakaian Noctis juga tidak tampak lebih rapi dari pada Zale. Dia memiliki senyum penuh percaya diri sekaligus sombong di wajahnya. Tipikal remaja nakal yang belum melihat luasnya dunia.
"Noctis." Reinhart berkata dengan tenang.
Melihat sosok yang menghadang jalannya, Noctis sempat terkejut. Setelah dia melihat orang itu, ekspresinya menjadi lebih buruk.
"Kamu ... Reinhart ..." ucapnya sambil menahan amarah.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Aku tidak memiliki waktu untuk b-jingan sepertimu, jadi kembalilah."
Melihat bagaimana Noctis menatapnya dengan kesal, Reinhart memiliki ekspresi datar di wajahnya. Dia sama sekali tidak peduli apakah pemuda itu kesal atau tidak. Apa yang diperlukan hanya merekrut lalu menyelesaikan tugasnya.
"Aku tahu kamu membenci bangsawan, tetapi datang kemari bukan sebagai bangsawan. Aku datang sebagai senior yang menawari junior untuk bergabung-"
"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu. Bangsawan b-jingan yang suka bermain-main dengan wanita biasa dan tidak peduli dengan perasaan mereka ...
Aku membenci para bangsawan sepertimu."
Reinhart menghela napas. Dia tahu kalau Noctis mungkin lebih membencinya dibanding dengan bangsawan lain di akademi karena rumor tentang Maria dan dirinya. Pemuda itu sama sekali tidak berniat menjelaskan, tetapi malah berkata.
"Aku tidak peduli apakah rumor itu benar atau salah. Aku tidak peduli apakah Duke memaksa pelayan penginapan atau pelayan tersebut menggoda Duke. Aku sama sekali tidak peduli dengan asal usulmu.
Yang aku tahu, Duke masih memilih untuk bertanggung jawab. Dia membawamu kembali ke Dukedom dan membesarkanmu, memberimu makan dan pendidikan baik."
"B-jingan itu hanya menginginkan bakatku! Dia sama sekali tidak peduli dengan ibu!"
"Begitukah?" Reinhart memiringkan kepalanya. "Aku rasa kehidupanmu saat ini lebih baik. Meski Duke mungkin menyebalkan, dia masih memilih untuk merawatmu dan tidak membungkam dirimu serta ibumu."
"DIAM! PANGERAN YANG SELALU HIDUP DI ATAS TIDAK MENGERTI APA YANG AKU RASAKAN! AKU-"
"Kamu ingin membalas dendam?"
Mendengar pertanyaan Reinhart, ekspresi Noctis berubah. Saat itu juga, suara Reinhart kembali terdengar.
"Biar aku katakan ... balas dendam itu hanya angan-angan! Apanya yang berbakat? Penyihir petir circle 3 sepertimu ingin membunuh seorang Duke? Jangan bercanda denganku. Kamu hanya bunuh diri, Nak!"
"KAMU-"
"Diam dan dengarkan seniormu ini, Junior! Daripada bersikap impulsif, lebih baik kamu mengasah diri sambil mencari kebenarannya daripada menargetkan seseorang hanya karena emosi sepihak yang belum tentu kebenarannya."
"..."
"Apa? Kamu marah? Ingin bertarung denganku? Ayolah ... aku sudah memesan arena latihan. Aku ingin melihat betapa kuatnya 'PUTRA DUKE YANG BERBAKAT' ini sampai dia memiliki pemikiran untuk membunuh orang-orang yang tidak dia suka. Berperilaku seolah dia bisa menutup langit dengan tangannya!"
"AYO BERTARUNG! AKU MUAK DENGAN KATA-KATA PENUH TIPUAN ITU! AKU BENAR-BENAR MEMBENCI BANGSAWAN MANJA YANG HANYA BISA BICARA!"
Mendengar itu, Reinhart mengangkat sudut bibirnya.
"Sepakat!"
***
Setengah jam kemudian, di arena latihan yang sunyi.
Sebelum kembali dan menunggu Noctis, Reinhart telah bicara kepada Professor Elin dan kepala sekolah. Jadi sekarang pemuda itu bisa menggunakan lapangan latihan ini dengan bebas.
Di sisi lain, sosok Noctis tampak memakai armor hitam dengan garis emas. Dia membawa halberd (sebuah gabungan tombak dan kapak), menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi tidak puas.
Mendengar itu, Reinhart menyentuh kantong dimensi di pinggangnya. Saat itu, sebuah halberd berwarna perak bertatahkan safir muncul. Memikul halberd tersebut tanpa merubah pakaiannya, pemuda itu berkata.
"Memakai armor agak merepotkan. Aku rasa seperti ini sudah cukup."
"KAMU ..."
Melihat Reinhart tidak memakai armor dan tidak menggunakan pedang (yang paling dia kuasai), Noctis tahu kalau pemuda di sisi lain sama sekali tidak menganggapnya sebagai lawan. Sebaliknya, rasanya diperlakukan seperti anak kecil!
Melihat bangsawan sombong seperti itu, Noctis semakin marah. Dia ingin memukul dan menginjak-injak orang semacam itu.
"Jangan menyesalinya!" ucap Noctis dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Majulah." Reinhart membalas tanpa perubahan ekspresi.
Sosok Noctis bergegas ke arah Reinhart dengan penuh kemarahan. Dia kemudian langsung membanting halberd ke arah pangeran berambut perak dengan ekspresi kejam, sama sekali tanpa keraguan.
KLANG!
Suara tabrakan logam terdengar. Dua halberd berbenturan dengan keras. Saat itu, suara setengah bercanda terdengar.
"Apakah kamu belum makan siang, Junior? Kamu terlalu lelah untuk menggunakan sihir?"
BANG!
Sosok Noctis terpental mundur beberapa meter. Melihat ke arah Reinhart yang memegang halberd hanya dengan satu tangan dan menyerang santai, ekspresinya berubah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak itu memiliki fisik yang begitu luar biasa.
"Kalau begitu aku akan serius," gumam Noctis.
Memegang erat halberd dengan dua tangan dalam posisi kuda-kuda, pemuda itu memulai rapalan mantra. Tiga lingkaran sihir muncul, dua di punggung tangan kanan dan kiri, sementara satunya di bagian kepala halberd.
Kilatan petir berwarna ungu menari-nari seperti ular di sekitar tangan dan senjata Noctis. Petir tersebut melapisi senjata, dan akhirnya membentuk sebuah senjata raksasa mirip halberd yang keseluruhannya terbuat dari petir ungu.
"Menarik ..."
Mendengar suara itu, Noctis menoleh ke arah Reinhart. Melihat sosok pangeran berambut perak itu melakukan hal yang sama, ekspresinya berubah. Dia menjadi lebih marah karena merasa terhina ketika melihat halberd petir raksasa berwarna biru di tangan kanan Reinhart.
"AKU AKAN MENGHANCURKANMU, B-JINGAN!!!"
Sosok Noctis langsung bergegas ke arah Reinhart dengan ekspresi penuh kemarahan.
"BIARKAN SENIOR INI MENGAJARIMU TATA KRAMA, K-PARAT!"
Sosok Reinhart juga bergegas ke arah Noctis lalu mengayunkan halberd petir raksasa di tangan kanannya.
BLARRR!!!
Ledakan keras tercipta. Sosok Noctis dan Reinhart sama-sama terpental mundur.
Kepulan asap membumbung tinggi. Noctis batuk beberapa suap darah. Asap di depannya tiba-tiba terbelah. Saat itu, sosok Reinhart yang seluruh lengan kanannya dilapisi petir muncul. Ditemani dengan suara dingin, pemuda itu langsung menyerang.
"Lightning Great Bear's Palm!"
Telapak tangan kanan Reinhart langsung menabrak pelindung dada Noctis dengan keras. Suara retakan diikuti ledakan keras terdengar.
BANG!!!
Sosok Noctis langsung menabrak dinding pembatas dengan keras. Membuat Sebuah cekungan penuh retakan mirip jaring laba-laba. Bukan hanya pelindung dada yang rusak, beberapa tulang rusuk pemuda itu rusak karena serangan tersebut.
Sebelum Noctis sepenuhnya kehilangan kesadaran, suara wanita terdengar di telinganya.
"Kamu benar-benar terlalu kejam kepada juniormu, Rein."
>> Bersambung.