Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Bukankah Terlalu Berbahaya?



Jangan lupa gabung di grup 'L Wanderers' agar tidak ketinggalan update. (Cek profil Author)


Kalian juga bisa bincang-bincang bersama dengan Author dan teman-teman lainnya di sana!


---


Tanpa terasa, beberapa hari telah berlalu begitu saja.


Seperti yang diharapkan oleh Reinhart. Semua pangeran benar-benar masuk 16 besar.


Dalam 16 besar, grup telah dibagi lagi menjadi dua, yaitu grup A dan grup B. Setiap grup berisi delapan orang.


Pada grup A, ada Reinhart, Aiden, Zale, serta lima peserta dari akademi lainnya. Melihat ke arah bagan pertandingan, dalam dua match ke depan, Reinhart hanya akan melawan dua orang luar. Hal tersebut membuatnya bersyukur. Dirinya jelas langsung mendapatkan tiket ke empat besar.


Sedangkan Aiden dan Zale kemungkinan akan bertemu di perebutan empat besar.


Di grup B, ada Flint, Xylon, dan enam orang dari akademi lain. Berdasarkan Bagan pertandingan mereka, tampaknya keduanya akan lolos menuju ke empat besar.


Jadi jelas ... pertandingan Zale dan Aiden akan menjadi sengit karena yang kalah akan dikeluarkan dari posisi empat besar. Dianggap paling lemah di antara enam pangeran!


Setelah memeriksa jadwal, Reinhart berencana untuk kembali ke penginapan. Dia tidak lagi berniat untuk jalan-jalan. Pemuda itu juga menjadi lebih santai. Setidaknya, jika melawan Xylon atau Flint ... Reinhart masih percaya diri untuk menang sambil menutupi kemampuannya.


'Karena nomor tiga sudah di tangan ... tampaknya aku bisa lebih bersantai.'


Memikirkan hal tersebut, Reinhart segera kembali. Namun, saat itu, tampak sosok yang berdiri di depannya. Melihat orang itu, Reinhart tidak bisa tidak merasa bingung. Sambil memiringkan kepalanya, pemuda itu bertanya.


"Cindy?"


"Ini saya, Pangeran Reinhart."


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Menjemput anda."


"Hah?!"


"Tuan Putri telah menunggu di penginapan."


"..."


Meski agak bingung, Reinhart masih mengangguk lalu mengikuti Cindy kembali.


Di ruang tunggu lantai pertama penginapan, Vanessa telah menunggu dengan sebuah benda yang dibungkus oleh kain halus berwarna hijau. Hal tersebut cukup mencolok, bahkan langsung menarik perhatian Reinhart yang baru saja tiba.


"Apakah kamu memerlukan sesuatu, Vanessa?"


"Um ... Apakah kedatangan saya tidak diterima?"


Vanessa bertanya dengan nada sedih.


"Sama sekali bukan seperti itu."


Reinhart buru-buru menyangkal pemikiran Vanessa. Dia datang menghampiri gadis itu dengan senyum minta maaf.


"Aku hanya khawatir karena kamu terus-menerus keluar dari istana. Bukankah kamu sibuk? Apakah baik-baik saja untuk berkunjung?


Aku rasa, kita masih bertemu di waktu lain. Tidak perlu untuk terus berkunjung. Kamu juga bisa melihatku ketika bertanding."


"Terima kasih telah mengkhawatirkan saya, Sayang. Namun anda bisa santai, saya telah melakukan semuanya dengan baik. Selain itu ... saya datang untuk mengirim sesuatu."


"..."


Mendengar ucapan Vanessa yang terdengar manis sekaligus bangga, tampak banyak pemuda yang menatap Reinhart dengan tatapan iri.


Sebaliknya, Reinhart bingung. Jelas gadis itu memiliki kantong dimensi, tetapi masih membawanya dengan cara seperti itu. Artinya ...


Gadis itu tampaknya ingin pamer!


Menjadi gadis baik yang mengirimkan hadiah untuk tunangannya!


"Apakah aku boleh menerimanya di sini?"


"..."


Mendengar pertanyaan Reinhart, Vanessa menatapnya dengan sepasang mata bulat penuh dengan harapan. Merasa tidak tahan, pemuda itu akhirnya berkata.


"Karena bersifat pribadi, bagaimana kalau datang ke kamarku?"


"Baik," ucap Vanessa dengan nada malu-malu.


Akhirnya, mereka pun datang ke kamar Reinhart.


"Wah!"


Vanessa melihat kamar yang tertata rapi. Tidak tampak banyak barang bawaan dan tidak tampak berantakan. Hanya saja, ada beberapa rak buku kecil tambahan yang berada di dekat meja dekat jendela. Melihat pemandangan itu, gadis tersebut sangat senang. Namun ...


Setelah berada di dalam kamar sebentar, Vanessa mulai cemberut.


"Kenapa kamu juga ada di sini, Cindy?"


"Saya akan selalu di sisi anda untuk menjaga keselamatan anda, Tuan Putri!"


'Kenapa aku merasa dianggap sebagai penjahat yang menyukai gadis di bawah umur?'


Jawaban Cindy langsung membuat Reinhart bertanya-tanya dalam hatinya. Meski tidak melakukan sesuatu yang salah, dia benar-benar difitnah! Benar-benar menyakitkan!


Sementara Reinhart menatap kosong, Vanessa menghentakkan kakinya dengan pipi menggembung. Gadis kecil tersebut marah, tetapi malah tampak imut.


"Kalau begitu saya akan mengeluarkannya, Sayang."


Setelah mengatakan itu, Vanessa meletakkan benda yang dibungkus oleh kain hijau. Dia kemudian mengeluarkan kantong dimensi dan mengeluarkan sebuah kotak kayu.


Tidak fokus ke dalam bungkusan hijau, dia malah membuka kotak kayu.


Di sana, tampak armor ringan yang biasanya digunakan oleh ksatria. Warnanya hitam legam dengan banyak ukiran rumit dan indah. Melihat hal tersebut, Reinhart menjadi bingung.


"Ini adalah armor ringan yang digunakan oleh salah satu Raja terkenal dari Kerajaan Lautan Zamrud pada masa mudanya. Salah satu Raja terbaik yang pernah ada, sekaligus kakek buyut saya yang telah tiada.


Lengkap dengan jubah hitam, ini disebut sebagai set Black Storm."


Melihat armor ringan hitam yang tampak mengkilat sampai-sampai cahayanya hampir membutakan matanya, Reinhart merasa bingung.


Memiliki ekspresi aneh di wajahnya, Reinhart bertanya dengan nada setengah bercanda.


"Sungguh armor indah dan tampak mahal. Sama sekali tidak terlihat seperti tiruan.


Kamu tidak mencurinya dari ruang penyimpanan harta kerajaan kan, Sayang?"


"..."


Reinhart menatap ke arah Vanessa yang menunduk sambil memainkan jarinya dengan wajah malu-malu. Mengalihkan pandangannya, dia langsung menatap Cindy. Namun wanita itu langsung memalingkan wajahnya dengan ekspresi datar.


'TERNYATA BENAR-BENAR DICURI!!!'


Reinhart langsung berkeringat dingin. Merasa agak gugup, dia buru-buru berkata.


"Meski tampak indah dan baik, ini adalah pusaka keluarga, jadi tidak sepantasnya dikeluarkan seperti ini, Sayang.


Aku benar-benar berterima kasih atas kebaikanmu. Namun maaf, aku harus menolak."


Reinhart berkata dengan lembut, tetapi dalam hati berteriak.


'MAAF, AKU BELUM SIAP DIJEBLOSKAN PENJARA ATAU DIPANCUNG KARENA MENCURI PUSAKA KERAJAAN!'


"Eh???"


Vanessa tampak bingung. Dia awalnya sangat percaya diri, tetapi jawaban Reinhart membuatnya kecewa.


Sebenarnya, Cindy juga telah memperingatkan dirinya. Namun karena armor itu cantik dan pasti cocok dipakai Reinhart, dia masih membawanya dengan paksa.


"Kalau begitu, tolong terima hadiah ini, Sayang."


Vanessa membuka bungkusan kain hijau. Di sana, ada kotak kayu hitam yang tampak halus.


Ketika dibuka, tampak sebuah pedang katana hitam yang tergeletak di sana. Dari penampilannya saja, jelas itu barang berkualitas tinggi!


"Ini adalah pedang dengan gaya dari timur. Meski demikian, ini juga pedang yang bagus.


Pedang ini didapat oleh mendiang kakek buyut saya ketika melawan seorang assassin kuat dari timur. Hanya saja, pedang ini sama sekali tidak pernah digunakan karena dianggap tidak cocok.


Um ... Aku tidak tahu apakah kamu menyukainya atau tidak, jadi—"


Melihat ekspresi kecewa di wajah Vanessa, Reinhart buru-buru berkata.


"Tentu saja ini pedang yang bagus. Aku sangat menyukainya."


Reinhart langsung mengambil katana tersebut. Menarik katana dari sarungnya, tampak tubuh katana hitam legam yang sangat halus. Bagian bilah tajam berwarna merah darah.


Ketika ditarik dari sarungnya, udara dalam ruangan langsung turun beberapa derajat.


Melihat bilah katana yang tampak tajam, Reinhart dengan penasaran ingin menyentuhnya. Lagipula, masih bisa disembuhkan dengan potion.


Hanya saja, saat Reinhart hendak menyentuh, suara panik Vanessa terdengar.


"Tolong jangan sentuh, Sayang!"


"..." Reinhart menghentikan gerakannya.


"Pedang itu memiliki efek khusus yang disebut bleeding. Membuat orang yang tergores mengalami pendarahan yang sulit dihentikan.


Selain itu, pedang tersebut juga memiliki atribut api dan kegelapan. Bisa membuat orang yang terkenal tebasan terkena racun api dan kegelapan."


Mendengar itu, Reinhart terdiam. Dia tampak pucat dan kakinya menjadi lemas. Keringat dingin membasahi punggungnya ketika dirinya menatap katana yang dia pedang. Pemuda itu bahkan bertanya-tanya dalam hati, merasa agak tertekan karena Vanessa.


'Bukankah ... kamu memberiku sebuah senjata yang terlalu berbahaya, Sayang?'


>> Bersambung.