
Malam hari setelah pertemuan dengan Raja, Ratu, dan Vanessa.
Berbaring di ranjang, Reinhart mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Perlahan-lahan, kesadarannya pun akhirnya tenggelam dalam kegelapan.
Membuka matanya, Reinhart mendapati dirinya duduk di sebuah kursi kayu berwarna hitam dalam sebuah ruangan putih, tanpa setitik pun warna lain. Hanya saja, selain dirinya, ada empat sosok lain yang berdiri jauh dari dirinya.
Masing-masing dari mereka ada di depan, belakang, kanan, dan kiri Reinhart. Mereka semua berdiri memunggungi sosok Reinhart yang duduk di tengah-tengah ruangan tersebut.
"Ini ... dimana?"
Setelah mengatakan itu, Reinhart langsung berpikir. Dia langsung berpikir bahwa dirinya berada dalam pengaruh ilusi atau hal semacam itu.
"Menganalisis situasi dan tetap tenang dalam kondisi membingungkan. Ya, masih patut dihargai."
Suara datar terdengar jauh dari depan Reinhart.
Reinhart menatap sosok pria dengan berambut hitam, beberapa tahun lebih tua daripada dirinya yang sekarang, memakai pakaian tentara sambil berdiri memunggungi dirinya.
"Menurutku, seperti saat ini, kamu yang mendengar suaramu sendiri merasa agak takut ... itu sangat wajar."
Suara santai terdengar jauh dari sisi kiri Reinhart.
Reinhart langsung menoleh. Di sana dia melihat sosok pria dengan tinggi mirip dengan sosok yang berdiri jauh di depannya tadi. Hanya saja, rambutnya berwarna hitam dengan ujung diwarnai pirang. Dia memakai jaket dengan ukuran besar berwarna putih, celana panjang berwarna hitam, dan sepatu sneaker berwarna putih.
Ada sebuah earphone berwarna putih menggantung di lehernya. Sosok itu juga membawa sebuah skateboard di tangan kanannya. Tampak seperti pria bebas yang menikmati hidupnya. Hanya saja membawa sedikit rasa melankolis jika dilihat dari punggungnya.
"Menjadi dewasa bukan berarti memiliki kebebasan. Sebaliknya, malah semakin terikat dengan rantai aturan. Benar-benar menyedihkan."
Suara anak-anak yang dingin dan tak acuh terdengar jauh dari sisi kanan Reinhart.
Kali ini Reinhart menoleh ke kanan. Saat itu dia melihat sosok bocah pendek dengan rambut perak, mengenakan pakaian bangsawan yang indah, berdiri memunggungi dirinya.
Meski tampak mulia, Reinhart merasakan beban berat yang sepertinya ditanggung oleh punggung kecil bocah berambut perak tersebut. Membawa rasa getir, benci, dan putus asa.
Entah kenapa, melihat mereka bertiga membuat seluruh tubuh Reinhart dipenuhi oleh keringat dingin. Dengan ekspresi kaku, dia menoleh ke belakang, menatap sosok terakhir yang berdiri jauh di belakangnya.
"..."
Di sana, tampak sosok hitam legam. Reinhart tidak bisa melihat dengan jelas. Hanya saja, sosok itu berwarna hitam dan diselimuti oleh kabut hitam. Memancarkan aura dingin dan mematikan. Hanya berdiri diam di sana tanpa mengucapkan apa-apa.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?"
Mendengar pertanyaan dari Reinhart, kecuali sosok hitam itu, ketiga sosok lain berkata serempak.
"Kamu sudah tahu jawabannya."
Jawaban mereka membuat pikiran Reinhart semakin kacau. Dengan tubuh yang dipenuhi oleh keringat dingin, pemuda itu hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara tidak bisa muncul. Pada saat dia bingung, suara pria dengan jaket putih terdengar.
"Sepertinya sudah saatnya."
Ucapan tersebut membuat Reinhart bingung.
Belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Reinhart melihat lantai putih di bawahnya mulai retak. Retakan mulai menyebar, lantai hampir runtuh.
Reinhart mencoba untuk lari, tetapi dirinya tidak bisa bangkit karena kedua tangan dan kakinya diborgol ke kursi hitam tersebut.
Lantai runtuh ... dan Reinhart pun akhirnya jatuh. Sekali lagi, pandangannya dipenuhi oleh kegelapan.
***
Membuka matanya, Reinhart melihat langit-langit yang familiar.
Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Napasnya naik-turun tak beraturan. Bangkit dari tempat tidurnya, pemuda itu merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Melihat jam sihir yang masih menunjukkan pukul tiga pagi, Reinhart menghela napas panjang.
"Sepertinya aku harus jalan-jalan."
Mengatakan itu, Reinhart akhirnya turun. Dia pergi ke kamar mandi, mencuci wajah, menggosok gigi, tak lupa membersihkan seluruh keringatnya dan berganti pakaian.
Ketika semua orang di penginapan masih tidur, Reinhart keluar dari penginapan. Angin dingin langsung menerpa wajahnya, membuat pemuda itu langsung menggigil kedinginan. Mengembuskan napas, uap putih muncul karena suhunya yang dingin.
Kebanyakan dari mereka juga memberikan dukungan untuk pertandingan final yang akan dimulai nanti siang.
"Menurutmu, apa yang Pangeran Reinhart lakukan di pagi dingin seperti ini? Aku tidak mengendus aroma alkohol atau parfum wanita."
"Memangnya kamu pikir Pangeran Reinhart memiliki otak kotor seperti kamu!"
"Lalu?"
"Kemungkinan besar tidak bisa tidur, merasa agak gugup karena nanti harus bertanding di final. Seharusnya Pangeran Reinhart berjalan-jalan untuk menenangkan diri dan berusaha sedikit bersantai."
"Meski dia selalu mengalahkan lawannya dengan mudah?"
"Tekanan yang dibawa final itu berbeda, Sobat! Berbeda! Lagipula, lawannya juga kuat."
"Benar ... lawannya juga berbahaya."
"Aku harap nanti bisa melihat pertarungan yang luas biasa."
"Aku juga."
"..."
Mendengar pembicaraan para penjaga dari kejauhan, Reinhart baru sadar.
"Jadi nanti pertandingan final," bisik Reinhart dengan ekspresi datar.
Reinhart menggelengkan kepalanya. Sekarang, apa yang memenuhi kepalanya adalah mimpi yang dia lihat sebelumnya. Pada saat pemuda itu bingung, dia tiba-tiba teringat si kucing abu-abu gemuk ... Tom.
"Kenapa aku malah memikirkan hal tak penting seperti itu," gumam Reinhart.
Reinhart kemudian berjalan-jalan menuju ke area pasar. Tidak seperti tempat lain yang masih sepi, sudah banyak orang yang ada di sana. Mulai berdagang, menjual dan membeli kebutuhan masing-masing.
Melihat pemandangan seperti itu, Reinhart merasa telah melihat dunia yang belum pernah dia lihat.
Kebetulan Reinhart lewat di depan sebuah warung yang menjajakan susu kedelai panas yang masih mengepul dan juga sejenis umbi kukus, dia terhenti. Melihat ke arah para pelanggan dari berbagai usia dari tua sampai muda yang tersenyum dan tertawa hangat, entah kenapa dia merasa tidak pada tempatnya.
Reinhart menghela napas panjang sebelum akhirnya berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, dia merasakan seseorang menarik coat miliknya.
Menoleh, Reinhart melihat sosok gadis kecil dengan pakaian biasa menarik pakaiannya.
"Saya melihat kakak memandangi warung kami terus, jadi ini untuk kakak!"
Gadis kecil itu memberikan segelas susu kedelai hangat yang masih mengepul kepada Reinhart. Hal tersebut membuat pemuda itu linglung.
Reinhart kemudian menerima segelas susu kedelai tersebut. Belum sempat dia berterima kasih, gadis kecil itu sudah berlari kembali. Merasakan kehangatan di telapak tangannya, Reinhart bingung harus berkata apa.
Reinhart kemudian melirik ke arah beberapa daftar menu yang terpajang. Melihat harganya sangat murah, sekitar beberapa koin tembaga ... pemuda itu merogoh sakunya.
Mengeluarkan sebuah koin emas. Dia menjentikkan jarinya dengan santai, membuat koin tersebut terlempar dan jatuh dengan lembut di depan pedagang tersebut.
Hal tersebut langsung membuat pemilik kios dan putrinya terkejut.
Reinhart melambaikan tangan santai sambil tersenyum hangat sebelum berkata.
"Kembaliannya untuk mentraktir semua orang yang ingin membeli."
Selesai mengatakan itu, Reinhart berbalik pergi dengan segelas susu kedelai hangat di tangannya. Berjalan cukup jauh, dia menyesap susu kedelai tersebut. Rasa hangat langsung merasuk ke dalam tubuhnya.
Masih memiliki senyum di wajahnya, pemuda itu bergumam pelan.
"Siapa sangka, kebahagiaan bisa didapatkan dengan cara sesederhana ini ..."
Melihat ke arah matahari yang terbit, Reinhart menjadi lebih tenang. Dia kemudian berjalan kembali menuju penginapan.
Bersiap untuk pertandingan final!
>> Bersambung.