
"P-Pangeran???"
Maria menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya. Kepalanya tidak mengingat dengan jelas. Lebih tepatnya, hanya tahu kalau sosok 'penyelamat' dalam hidupnya sedang menimba ilmu di Akademi Cahaya Bintang.
Dari sikap dan penampilan Reinhart, Maria sudah menduga kalau pemuda itu bangsawan. Namun tidak menyangka kalau sosok itu adalah seorang pangeran.
"Sebaiknya kamu ikut denganku, Maria."
Sambil memijat pelipisnya, Reinhart mengundang gadis cantik itu untuk datang ke kediamannya. Meski agak bingung dan gugup, Maria masih menurut dan mengikuti Reinhart.
***
Di ruang tamu rumah Reinhart.
Maria duduk di kursi dengan gugup. Melihat benda-benda indah dan mengkilap di sekitarnya, gadis itu merasa telah masuk ke dunia lain.
Saat itu, sosok Lyn kecil yang mengenakan pakaian pelayan muncul sambil membawa teh dan beberapa camilan. Dia meletakkannya di atas meja lalu berkata dengan nada kekanak-kanakan.
"Silahkan dinikmati."
"Eh? Anu ... B-Baik!" balas Maria dengan gugup.
Beberapa saat kemudian, sosok Reinhart yang mengenakan pakaian lebih santai muncul. Dia kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Maria. Pemuda itu mengambil cangkir lalu menyesap teh kemudian kembali meletakkannya.
"Jangan gugup, kamu bisa meminumnya. Aku tidak akan memasukkan racun atau hal semacamnya ke dalam teh."
"B-Baik!" ucap Maria gugup.
Melihat ke arah Maria yang minum teh sambil melirik sekitar, Reinhart merasa rumit. Dia benar-benar tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi kacau. Setelah menghela napas, pemuda itu sedikit membungkuk.
"Maafkan aku."
"Eh? T-Tidak! Anda sama sekali tidak salah. Saya sendiri yang terlalu percaya diri, sama sekali tidak mengetahui tempat saya yang sebenarnya."
Maria menjawab dengan panik sebelum ekspresi sedih muncul di wajahnya. Tampaknya benar-benar kecewa karena tidak bisa masuk akademi.
"Maaf, seharusnya aku memberimu surat rekomendasi sehingga bisa mengikuti penilaian lebih mudah. Omong-omong, kamu tinggal di mana sekarang? Di penginapan mana?"
"Eh. S-Saya tidak tinggal di penginapan. Saya tidak memiliki cukup uang untuk menginap berminggu-minggu."
Ekspresi Reinhart berubah ketika membayangkan sosok Maria tinggal di bawah jembatan atau gang sempit. Tindakan semacam itu sangat berbahaya karena mungkin ada orang jahat yang menargetkannya. Belum lagi, cuaca di musim dingin jelas tidak cocok untuk tinggal di luar.
"S-Saya kebetulan bertemu seorang nenek yang baik hati. Beliau mengizinkan saya tinggal di rumahnya. Beliau berkata dirinya juga senang menerima saya karena tidak lagi memiliki kerabat."
'Apakah ini keberuntungan heroine atau semacamnya? Benar-benar mendapatkan bantuan di saat yang dibutuhkan?'
Reinhart menatap ke arah Maria dengan ekspresi heran. Sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu bisa begitu beruntung. Berbanding terbalik dengan dirinya yang dipaksa berenang di laut utara di musim dingin!
"Lain kali kamu harus berhati-hati. Meski tidak tampak berbahaya, banyak penjahat yang berpura-pura menjadi wanita tua lemah atau semacamnya. Kamu harus hati-hati."
Mendengar nasihat Reinhart, Maria mengangguk seperti burung pelatuk. Jika bukan karena terpaksa dan hampir mati kedinginan, gadis itu sebenarnya juga tidak ingin melakukan tindakan sembrono semacam itu. Hanya saja, karena bertekad untuk masuk ke akademi, dia berjudi. Untungnya nenek yang membantunya benar-benar baik. Sama sekali tidak memiliki maksud tertentu.
"Besok kamu bisa ikut denganku ke akademi. Aku akan memperkenalkanmu pada seseorang. Dia akan mengujimu. Jika cocok, kamu bisa masuk ke akademi dan mulai mengikuti pelajaran dua hari kemudian."
"T-Tidak perlu, Pangeran! Saya sadar diri kalau-"
"Itu perlu. Aku sudah memintamu datang tanpa banyak perhitungan. Kamu sempat dalam bahaya, jadi bagaimana bisa aku bertindak seolah tidak terjadi apa-apa. Setidaknya izinkan aku untuk membantumu mencoba.
Jika kamu tidak bisa melewati ujian, kamu boleh kembali."
"..."
Mendengar ucapan Reinhart, Maria merasa tersentuh. Dia merasa ingin menangis, tetapi masih bisa menahannya. Benar-benar tidak menyangka akan diperlakukan baik seperti ini.
Reinhart sendiri memiliki rencana. Dia tidak mungkin mengizinkan heroine pulang dan hidup di pedesaan dengan damai. Jika gadis itu pulang, siapa yang akan menghadapi sekelompok orang gila di luar sana? Reinhart tidak siap untuk hidup di dunia yang kacau semacam itu!
"Terima kasih banyak, Pangeran Reinhart!" ucap Maria dengan mata memerah.
"Sama-sama." Reinhart tersenyum lembut. "Karena sudah ada di sini dan akan merepotkan jika kamu kembali, lebih baik kamu tinggal di sini malam ini."
Wajah Maria menjadi merah seperti apel. Memikirkan berbagai hal dalam benaknya, gadis itu merasa gugup. Namun akhirnya dia mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.
***
Keesokan paginya.
Reinhart berjalan menuju akademi dengan Maria yang mengenakan gaun indah. Jika penampilan sebelumnya seperti bunga yang mekar di tanah tandus, sekarang gadis itu mirip bunga suci di taman peri. Benar-benar tampak mempesona.
Hanya saja, ekspresi di wajah Maria tampak agak kosong. Gadis itu melirik ke arah Reinhart lalu menghela napas secara diam-diam. Dia merasa beruntung karena pangeran berambut perak itu merawatnya dengan sungguh-sungguh. Namun gadis itu sebenarnya sedikit kecewa karena pemuda tersebut tidak datang ke kamarnya tadi malam.
Benar-benar berbeda dari fantasi jahat yang ada di kepalanya!
"Apakah kamu baik-baik saja, Maria?"
"Saya baik-baik saja, Pangeran Reinhart."
"Apakah kamu tidak suka sarapan sebelumnya?"
"Saya sangat menyukainya."
"Kamu agak murung, jadi aku pikir kamu tidak enak badan. Kamu benar-benar tidak apa-apa?"
"Saya tidak apa-apa, Pangeran Reinhart." Maria menegaskan.
"Syukurlah kalau begitu."
Melihat Reinhart yang terus berjalan, Maria diam-diam mengerucutkan bibirnya. Benar-benar merasa tidak puas karena si pangeran tidak peka.
Keduanya masuk ke dalam akademi tanpa ada masalah. Penjaga gerbang sama sekali tidak menghentikan mereka.
Reinhart dan Maria kemudian pergi menuju ke ruang guru. Lebih tepatnya, ke kantor Professor Elin.
Setelah mengetuk pintu, mereka masuk ke dalam kantor. Di sana, Maria terkejut ketika melihat sosok wanita cantik yang duduk di kursinya. Sementara itu, Professor Elin juga mengangkat alisnya ketika melihat Reinhart datang dengan gadis cantik di sisinya.
Reinhart dan Professor Elin berbincang sejenak. Mengetahui maksud kedatangan muridnya dengan seorang gadis di sisinya, dia menghela napas.
"Aku pikir dia hamil lalu kamu ingin bertanggung jawab atau semacamnya."
Mendengar ucapan gurunya, sudut bibir Reinhart berkedut.
"Tolong jangan menganggapku sebagai pemuda ceroboh semacam itu."
"Siapa tahu? Lagipula, kamu berkeliling dengan bebas di liburan musim panas sebelumnya."
"Kamu yang memberikanku tugas beberapa meter panjangnya, Guru! Jangankan menikmati malam romantis dengan gadis-gadis, tulang punggungku sakit sampai-sampai tidak bisa tidur di malam hari meski sudah sangat kelelahan!"
"Hehehe~"
Melihat Professor Elin tersenyum malu-malu, Reinhart benar-benar ingin memukulnya.
'Tunggu sampai aku di level 6! Aku tidak percaya dua elemen level 6 dan tubuh ksatria level 5 tidak bisa mengalahkanmu!'
Mengabaikan Reinhart yang meraung dalam hati, Professor Elin menatap Maria. Tanpa sedikitpun keraguan, dia berkata, "Tunjukkan sihirmu!"
"B-Baik!" ucap gadis itu dengan nada gugup.
Maria mengulurkan kedua tangannya ke depan. Saat itu, cahaya lembut muncul dari kedua tangannya. Itu hanya sihir level nol, tetapi memang sihir elemen cahaya yang langka.
Saat itu juga, Professor Elin langsung melirik ke arah Reinhart. Menatap ke arah muridnya dengan curiga.
Merasakan tatapan itu, Reinhart tidak bisa tidak mengeluh.
"Apakah kamu benar-benar masih mencurigaiku, Guru?"
Melihat ekspresi lelah di wajah muridnya, Professor Elin akhirnya tertawa bahagia. Tampaknya merasa puas dengan 'pencapaiannya'.
>> Bersambung.