Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Reinhart Jatuh



"Kenapa kamu tampak pucat, Rein?"


Melihat wajah Reinhart, Aiden langsung berbicara dengan nada khawatir.


Leander segera menghampiri Reinhart lalu menepuk pundaknya.


"Hahaha! Mungkin di hanya khawatir karena segera menemui tunangannya."


Ucapan santai Leander langsung membuat para pangeran lain mengalihkan pandangannya ke arah Reinhart.


"Apa??? Tunangan Reinhart???"


Mendengar teriakan terkejut serempak itu, sudut bibir Reinhart berkedut.


"Kenapa kalian berbicara seolah aku adalah tipe lelaki yang tidak menyukai perempuan dan tidak akan menikah?!"


"Aku kira kamu memang tidak menyukai perempuan?" Zale berbicara dengan ragu.


"Aku laki-laki normal!!!"


"Oh ..."


Melihat reaksi datar teman-temannya, pemuda itu menjadi semakin tertekan. Sementara itu, Aiden tampak agak pucat.


"Kamu kenapa, Aiden?"


Mendengar pertanyaan Reinhart, Aiden menoleh ke arah sahabatnya dan berkata.


"Bukankah seharusnya kamu menjadi suami adikku?"


"AKU TIDAK MUNGKIN MENIKAHI ANAK DI BAWAH UMUR!!!"


Reinhart benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke meja. Dia merasa tertekan karena tampaknya, tidak ada orang waras yang ada di sekitarnya.


"Omong-omong, gadis seperti apa tunangan Reinhart?" Zale tiba-tiba memiringkan kepalanya dan bertanya.


"Coba tebak."


Leander membuka kedua tangannya sambil menunjukkan senyum main-main. Langsung menyuruh mereka menebak gadis seperti apa adiknya.


"Seharusnya gadis tenang dan agak tak acuh," ucap Xylon.


"Sebaliknya, karena Reinhart tenang, tampaknya gadis itu harus menjadi sosok wanita aktif." Flint langsung menyangkal.


"Cih! Pasti wanita itu dingin dan memiliki kepribadian agak sadis," ucap Zale.


"Tidak bisakah calon istri Reinhart tampak seperti gadis cantik dan polos?" Aiden berkata dengan penuh keraguan.


Memiliki ekspresi serius di wajah masing-masing, pada pangeran saling memandang dengan sengit. Mereka semua tampaknya memegang teguh keyakinan mereka sendiri.


Melihat pemandangan itu, Reinhart bingung harus menangis atau tertawa.


'Bahkan aku belum melihat dan tidak tahu apakah akan menerima atau menolak, tapi kenapa malah kalian yang memperdebatkannya?'


Reinhart bersandar pada kursinya. Mendongak menatap langit-langit, pemuda itu menghela napas panjang.


'Seperti apapun itu, aku harap ... setidaknya dia normal!'


***


Satu hari kemudian, kapal terbang akhirnya tiba di ibukota Kerajaan Lautan Zamrud.


Ketika kapal terbang yang ditumpangi oleh Leander, Reinhart, dan pangeran lainnya tiba ... banyak ksatria berkuda yang menyambut mereka. Bahkan ada kereta kuda yang menunjukkan simbol keluarga kerajaan di sana.


Reinhart yang berniat kabur setelah turun benar-benar merasa kakinya lemas.


Turun dari kapal terbang, Professor Elin memimpin para perwakilan kelas satu dan para asistennya.


"Selamat datang di rumah, Pangeran Leander!"


Para ksatria berteriak serempak sambil memberikan hormat. Melihat pemandangan itu, Leander tersenyum dan mengangkat tangannya dengan santai.


Pada saat itu, pintu kereta kuda terbuka. Dengan dua ksatria yang menjaga di kanan dan kiri pintu, tiga orang keluar dari salam kereta kuda.


"Senang akhirnya kamu bisa kembali, Leander."


Seorang pria tampan dengan rambut perak agak panjang berbicara. Tubuhnya tegap, iris mata bak emerald itu langsung menyapu ke arah orang-orang di sekitar Leander. Pria itu adalah Raja dari Kerajaan Lautan Zamrud.


"Padahal baru beberapa minggu, tetapi kamu begitu cepat dewasa, Leander."


Di samping raja, ada wanita cantik dengan rambut hitam panjang dan mata bak emerald. Dalam pandangan sekilas, Leander memang mirip dengan wanita tersebut. Dia adalah ibu Leander sekaligus Ratu dari Kerajaan Lautan Zamrud.


"Saya kembali bukan untuk pulang, tetapi memenangkan kejuaraan, Ayah, Ibu."


Leander berkata dengan sopan. Ucapannya langsung membuat para ksatria dan penonton bertepuk tangan.


Pemuda itu tiba-tiba menepuk punggung Reinhart dan berbisik, "Jangan lupa mengucap salam, Saudaraku."


'Saudara dengkulmu!'


Reinhart mengutuk dalam hati. Namun dia masih meletakkan tangan kanan di dada kiri, tangan kiri di belakang punggung, sembari sedikit membungkuk, pemuda itu berkata.


"Reinhart dari Kerajaan Rembulan Perak memberi hormat pada Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu. Tentu, saya juga memberi kepada Tuan Putri."


Mendengar itu, mata ibu Leander langsung berkilauan. Sementara itu, ayah Leander juga mengelus dagu dengan ekspresi puas.


Selain Reinhart, para pangeran lain juga memberi hormat. Hanya saja, setelah membalas singkat, Raja dan Ratu langsung menghampiri Reinhart.


"Kami dengar kamu sempat terkena racun kegelapan, apakah kamu baik-baik saja, Nak?"


Ratu bertanya dengan nada khawatir layaknya seorang ibu yang khawatir kepada putranya.


"Apakah itu juga alasan kamu tidak mengikuti perlombaan antar akademi ini? Tidak perlu khawatir, masih ada tahun depan."


Raja menepuk lembut pundak Reinhart.


Melihat kedua orang yang sangat antusias, Reinhart merasa punggungnya basah dengan keringat dingin. Daripada situasi seperti ini, dia malah merindukan saat dirinya dikejar sekelompok Serigala Bayangan dalam Lembah Hitam.


"Selamat datang kembali, Kakak. Selamat datang di Kerajaan Lautan Zamrud, Suami."


Suara lembut dan penuh hormat terdengar.


"Oh! Gadis ini menjadi semakin berani."


Ratu menutup mulutnya dengan ekspresi bahagia yang tidak bisa ditutup-tutupi.


Menoleh ke sumber suara, semua orang melihat gadis cantik yang hanya muncul di negeri dongeng.


Kulit seputih salju, rambut perak mirip milik raja yang lurus sampai pinggang, iris mata zamrud dengan pupil berbentuk '+' perak yang tampak indah dan misterius. Gadis itu memakai gaun putih dengan hiasan emas bertatahkan zamrud yang cocok dengannya. Sebuah tiara (mirip mahkota kecil bagi perempuan) tampak pas di atas kepalanya.


"Kamu pasti telah mendengar dari ayah dan ibumu, Nak Reinhart. Namanya adalah Vanessa, Tunanganmu."


Mendengar ucapan Raja, Reinhart nyaris jatuh ke tanah tetapi langsung ditahan Leander.


Vanessa memang tampak cantik, sopan, berbudaya, dan ramah. Namun yang membuat Reinhart nyaris memuntahkan sesuap darah lalu pingsan adalah ...


Gadis itu terlalu muda!


Tinggi nyaris tak sampai dadanya. Dalam sekali lihat, dia jelas-jelas berusia 11-12 tahun!


"Apakah anda baik-baik saja, Suami?"


Mendengar Vanessa mengatakan itu dengan nada khawatir, Reinhart ingin jatuh berlutut. Namun karena tubuhnya ditahan, dia hanya bisa meraung dalam hati.


"OMONG KOSONG MACAM APA LAGI INI! KENAPA AKU TIBA-TIBA DIJODOHKAN DENGAN GADIS DI BAWAH UMUR!!!


SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB DI SINI?! KELUAR UNTUKKU, K-PARAT!!!"


>> Bersambung.