Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Terlambat Sadar



Rambut pirang panjang bergelombang, kulit putih layaknya salju, iris mata ungu muda yang indah, dan sosok tubuh yang mempesona. Sama sekali tidak kalah dengan Helena atau para gadis bangsawan lainnya.


Akan tetapi, gadis yang baru saja tiba itu memakai pakaian sederhana. Hal tersebut membuat Reinhart berpikir keras. Dia memikirkan seluruh gadis yang menjadi saingan Heroine dan musuh, tetapi sama sekali tidak bisa mengingatnya.


'Perasaan ini ... mungkinkah cinta pertama?'


Pikir Reinhart yang tak dapat menemukan alasan lain.


Pemuda itu segera menggelengkan kepalanya. Dunia ini berbeda dengan game, banyak tempat yang tidak disebutkan dalam game. Tentu saja, banyak juga makhluk yang belum dijelaskan, serta banyak orang yang tidak muncul dalam game.


"Selamat siang, Paman. Ada yang ingin saya bicarakan."


Gadis itu berkata kepada pemilik bar. Lelaki di belakang menatap gadis tersebut sebelum menjawab,


"Kemarilah."


Gadis itu memasuki bar lalu ikut pria paruh baya ke dalam.


Saat itu, Reinhart juga bangkit dari tempat duduknya. Banyak mata yang langsung diarahkan kepadanya. Meski sebenarnya agak malu, dia menatap balik, membuat mereka semua menunduk ketakutan.


"Toilet," ucap Reinhart santai.


Setelah mengatakan itu, dia pergi ke toilet. Tentu saja, dia memang ingin buang air kecil. Namun, entah kenapa, pemuda itu merasa tertarik dengan gadis tadi. Jadi ...


Meski kurang sopan, Reinhart benar-benar menguping pembicaraan mereka.


Setelah beberapa saat, dia kembali ke tempat duduknya. Pemuda itu minum seolah tidak ada yang terjadi.


Melihat gadis tadi keluar dari bar, beberapa saat kemudian, Reinhart memutuskan untuk membayar lalu pergi.


Keluar dari bar, pemuda itu mengikuti ke arah gadis tadi pergi. Sebenarnya sosok gadis itu tidak lagi terlihat, tetapi sebelumnya Reinhart telah mendengar langkah kaki samar kemana gadis itu pergi. Jika ada yang tahu, mereka pasti berpikir kalau Reinhart memiliki bakat untuk menjadi stalker.


Reinhart dan Hachiko kemudian mengikuti ke arah gadis itu pergi. Beberapa saat kemudian, mereka melihat gadis tersebut dari kejauhan. Tentu saja, untuk menghindari rasa curiga, mereka membuntuti dari jarak yang terbilang jauh. Pada akhirnya, mereka mengikuti gadis tersebut sampai ke pinggir kota.


Di sana, ada sebuah rumah sederhana di atas bukit yang dipenuhi bunga. Melihat rumah tersebut, Reinhart memikirkan sesuatu. Namun, sebelum dia mengingatnya, suara jeritan membuat pemuda itu terkejut.


"IBU!!"


Mendengar teriakan itu, Reinhart tanpa sadar langsung berlari menuju ke rumah tersebut secepat mungkin. Hachiko juga segera mengikutinya.


Sampai di sana, Reinhart melihat pintu rumah yang terbuka lebar. Meski sempat ragu, dia segera masuk ke dalam rumah. Pemuda itu kemudian melihat gadis tadi di kamar sambil memegang tangan seorang wanita dewasa yang cantik, tetapi tampak lemah.


Wanita tersebut berbaring di ranjang dengan ekspresi pucat. Tampaknya, dia sudah benar-benar berada di ujung tanduk.


Wanita dan gadis itu terkejut ketika melihat sosok pemuda tampan tiba-tiba menerobos masuk rumah mereka.


"Eh?"


Gadis bernama Maria itu tampak kebingungan. Saat itu juga, sang ibu tiba-tiba menunjukkan senyum lega.


"Syukurlah, tampaknya aku tidak perlu khawatir lagi."


Wanita itu menatap ke arah Reinhart dengan tulus.


"Meski baru pertama melihatmu, aku tahu kamu bukan lelaki jahat. Aku harap kamu bisa menjaga dan membahagiakan Maria, Anak Muda.


Aku merestui hubungan kalian."


"???"


Maria dan Reinhart langsung merasa kebingungan.


Maria, gadis itu sadar terlebih dahulu. Mengetahui bahwa ibunya telah salah paham, wajahnya langsung merah.


Sementara itu, Reinhart yang otaknya sedikit berjalan lemot ketika membahas hal semacam itu malah menghampiri wanita tersebut. Dia tiba-tiba menegang tangan wanita itu. Setelah beberapa saat, pemuda itu memiringkan kepalanya.


'Tubuh terlalu lelah dan terkikis, demam parah, kekurangan gizi ...'


Sadar kalau wanita itu sebenarnya tidak memiliki penyakit berbahaya, Reinhart merasa aneh. Dia tanpa ragu mengeluarkan satu botol potion lalu memberikannya kepada wanita tersebut.


"Tolong minumlah."


Mendengar permintaan pemuda itu, sang itu merasa agak bingung. Melihat kemulusannya, dia akhirnya memutuskan untuk menerima dan meminum potion tersebut.


Beberapa saat kemudian, kulit wanita itu berangsur-angsur membaik. Maria yang merasa terkejut dan senang tiba-tiba memeluk Reinhart dengan senyum di wajahnya. Namun, saat itu juga, pemuda itu teringat ... dan benar-benar tercengang.


Tokoh paling penting dalam cerita, tetapi juga sangat jarang muncul dalam game karena yang muncul biasanya adalah target atau rival.


Tokoh paling cerah yang muncul di cover, memiliki peran paling penting dalam game.


Tokoh yang nama dasarnya Maria, tetapi bisa diganti sesuai yang diinginkan pemain.


Ya ...


Reinhart ternyata bertemu dengan gadis yang sangat ingin dia hindari ...


Si Heroine!!!


>> Bersambung.