
"Ini salah paham, Senior!"
Delia langsung menjelaskan. Melihat ekspresi aneh di wajah Reinhart, dia merasa cemas. Gadis itu tidak ingin orang lain tahu kalau dirinya melakukan hal buruk, apalagi salah paham kalau dirinya melakukan hal buruk padahal tidak!
"Delia benar, Senior! Kami berempat sama sekali tidak melakukan apapun kepada Tommy!" tambah May.
"Jadi ... kalian bilang Tommy berguling-guling di lumpur sendiri tanpa alasan yang jelas?"
"YA!" jawab mereka berempat serempak.
"Bukankah itu aneh? Maksudku, kenapa dia harus melakukan hal semacam itu? Belum lagi, ekspresinya pucat dan tampak ketakutan.
Sama sekali bukan ekspresi orang yang sedang melakukan tindakan ceroboh atau semacamnya."
'MANA KAMI TAHU!'
Keempat gadis berseru dalam hati. Mereka tidak bisa tidak melihat ke arah Tommy dengan ekspresi penuh kebencian. Sudah jelas kalau mereka berempat tidak melakukan hal salah, tetapi pria itu benar-benar melakukan hal buruk.
Pura-pura menjadi korban tanpa alasan jelas.
Reinhart memiringkan kepalanya.
"Aku harap kalian tidak mengancam yang lebih lemah. Perilaku semacam itu sama sekali tidak baik."
Merasakan tatapan kejam di mata keempat gadis itu, Reinhart menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berniat untuk membela Tommy, tetapi dia juga merasa kalau sikap keempat gadis yang suka melakukan bully itu tidak baik.
Ya ... walau terkadang dia juga melakukan hal yang sama.
"Omong-omong, sebelumnya anda pergi ke mana, Senior?" tanya Hilda.
"Aku? Jalan-jalan."
Reinhart berkata dengan ekspresi santai. Dia kemudian melirik ke arah Tommy dengan senyum ramah. Sebuah senyum ramah untuk mengingatkan kalau pria itu harus tutup mulut dan berpura-pura tidak tahu.
"Syukurlah anda baik-baik saja, Tuan Muda."
Tommy yang bangkit menyeka keringat dingin di dahinya. Dia benar-benar takut membayangkan bagaimana jadinya jika Reinhart benar-benar mati di tempat terpencil seperti ini.
"Terima kasih kepada kalian karena telah mengkhawatirkan aku. Sebagai gantinya, nanti aku akan memasak daging beast tingkat tiga untuk kalian.
Seperti yang aku bilang sebelumnya. Itu langka. Bukan hanya rasanya lebih enak, daging tersebut juga bergizi dan ...
Mahal."
Glup!
Kelima orang itu langsung menelan ludah. Mereka benar-benar merasa kelaparan hanya dengan mendengar penjelasan Reinhart.
"Nantikan saja makan malam. Untuk saat ini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan!"
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, sama sekali tidak ada kendala lain. Mereka dengan lancar mencapai titik dimana mereka akan berkemah.
"Aku akan pergi mandi. Lebih baik kalian tidak berpergian jauh karena sulit untuk mencari jika sesuatu terjadi."
Reinhart langsung berkata dengan ekspresi datar di wajahnya. Meski pemuda itu tidak lebih kotor dari empat gadis atau Tommy, dia merasa ingin mandi. Entah itu karena kebiasaan atau apa, pemuda tersebut merasa tidak nyaman jika belum mandi.
Ya. Bahkan jika di alam liar.
Setelah mengatakan itu semua, Reinhart langsung pergi. Hanya saja, dia tidak menyangka kalau keempat gadis itu ternyata memiliki ide aneh di kepala mereka.
"Tommy!" teriak Delia dengan ekspresi marah di wajahnya.
"I-Iya?"
Tommy tergagap. Benar-benar tidak menyangka kalau dirinya akan ditargetkan tepat setelah Reinhart pergi.
"Kamu pasti tahu kalau apa yang kamu lakukan telah mencoreng nama baik kami, kan?" Delia memelototi Tommy.
"S-Saya minta maaf!" ucap Tommy gugup.
"Tentu saja kami akan memaafkan kamu, tapi ... semua ada syaratnya!"
"Apakah ada yang bisa saya bantu?!"
"Karena kamu mengetahui medan sekitar, seharusnya kamu tahu sungai paling dekat dari sini."
"Eh?" Tommy tertegun.
"Apakah aku harus menjelaskannya? Apakah kamu sengaja? Hmph!"
Delia mendengus dingin. Dia berkata dengan rona merah di wajahnya. Saat itu juga, suara Maria terdengar.
"A-Anu ... Bukankah ... Bukankah itu buruk, Delia?"
"Tentu saja tidak! Kita ... Kita hanya memastikan kalau Senior Reinhart baik-baik saja! Tidak lebih dari itu!"
Delia langsung mencoba mencari alasan untuk membenarkan diri. Anehnya, tiga gadis lain tampaknya juga setuju.
Melihat itu, Tommy tidak bisa tidak mengeluh dalam hati.
'Bukankah tugas mengintip biasanya dilakukan oleh laki-laki? Kenapa perempuan ingin melakukan hal semacam itu?
Sungguh! Apakah para gadis bangsawan memiliki pemikiran begitu terbuka?'
>> Bersambung.