Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Tantangan Duel!



Setelah menyerahkan sisanya kepada Professor Elin, Reinhart pergi ke kelasnya.


Karena tidak ada pelajaran, Reinhart sama sekali tidak tinggal di kelas begitu lama. Dia singgah sebentar sebelum pergi menuju ke perpustakaan untuk membaca dan menambah wawasannya. Dibandingkan dengan aktivitas luar ruangan yang membuat sakit sekujur tubuhnya, pemuda itu lebih suka membaca dalam ruangan tenang. Mengabaikan segala kekacauan yang ada di luar sana.


Beberapa jam berlalu begitu saja. Pada saat jam makan siang, Reinhart memilih untuk pergi ke kantin untuk makan. Meski dia sama sekali tidak lapar, bahkan bisa bertahan tanpa makan beberapa hari, pemuda tersebut telah membangun kebiasaan makan tiga kali sehari. Apabila tidak melakukannya, dia merasa agak kurang.


Sampai di kantin, penampilan mencolok Reinhart menjadi fokus banyak siswa. Mengabaikan mereka, dia pergi ke lantai dua.


Kantin sendiri adalah bangunan dua lantai yang besar. Siswa-siswi biasanya makan di lantai pertama, dimana ada kupon makan siang gratis. Tentu saja, ada juga beberapa menu berupa lauk dan makanan penutup yang memerlukan biaya sendiri.


Sedangkan di lantai dua, hanya ada sedikit siswa yang makan di sana. Kebanyakan dari mereka adalah senior sekaligus keturunan bangsawan tinggi. Lagipula, makanan di tempat tersebut mahal. Ya! Jenis mahal, bahkan bagi para keturunan pedagang atau bangsawan biasa!


Tentu saja, semua sesuai dengan harganya. Tempat lebih bersih dengan gaya indah. Suasana lebih tenang. Makanan juga sangat lezat, bukan hanya karena skill memasak koki, tetapi juga karena bahan-bahan kualitas premium yang digunakan.


Sebenarnya sedikit orang yang makan di tempat ini. Bahkan untuk para bangsawan tinggi atau pangeran, mereka tidak sering makan di sini karena terbatasnya uang saku yang diberikan oleh orang tua. Lagipula, mereka masih perlu menggunakan uang untuk keperluan lain. Memperbaiki senjata, armor, dan aksesoris. Membeli herbal untuk para alkemis, atau ramuan bagi murid biasa. Ada terlalu banyak tempat untuk menghabiskan uang!


Reinhart sendiri mendapatkan uang saku dari kedua orang tuanya. Namun karena pengalaman dari kehidupan sebelumnya, dia sama sekali tidak boros. Seperti di kelas satu, dia lebih sering membawa bekal daripada makan di kantin yang ramai atau kantin lantai dua yang mahal.


Sedangkan kenapa sekarang Reinhart memilih makan di tempat ini? Ada dua alasan.


Pertama, pemuda itu tidak sempat membawa bekal karena pelayannya juga dia tugaskan untuk mengurus Maria. Terakhir ... sekarang dia tidak kekurangan uang! Ya. Bukan uang dari orang tuanya, tetapi uang yang dia dapatkan dari menjual ramuan.


'Daripada menjadi penyihir atau ksatria yang mempertaruhkan nyawanya di medan perang, profesi alkemis lebih harum. Tidak hanya tidak terlalu berbahaya ... uang yang didapat juga cukup digunakan untuk hidup bergelimang harta!'


Tentu saja yang dimaksud oleh Reinhart adalah alkemis profesional dengan level tinggi dalam pembuatan ramuan.


Reinhart pergi memesan. Setelah memilih hidangan pembuka, makanan utama, hidangan penutup, serta minuman, pemuda itu pergi memilih tempat duduk.


Tanpa keraguan, Reinhart langsung memilih meja di sudut dekat jendela. Tempat dengan satu meja dan dua kursi, lebih dari cukup untuk dirinya sendiri.


Pemuda itu duduk di kursinya. Sambil menunggu pesanan datang, dia menopang dagu sembari menatap pemandangan indah sekolah lewat jendela. Menghirup napas panjang, Reinhart menjadi lebih tenang.


'Seandainya kehidupanku bisa terus tenang seperti ... ini?'


Ekspresi Reinhart berubah ketika melihat tiga orang yang naik ke lantai dua. Mereka adalah beberapa orang yang sebenarnya tak ingin dia temui.


'Aiden, Sophia, dan Caterina ...'


Melihat tiga orang itu, Reinhart tahu kalau waktu damainya telah terganggu.


"Aku kira tadi salah lihat, Rein! Siapa sangka kamu benar-benar makan di tempat ini?"


"Apakah aku tidak boleh makan di sini?" Reinhart langsung mengangkat alisnya.


"Tentu saja boleh! Aku malah senang jika kamu terus makan di sini!" ucap Aiden dengan senyum di wajahnya.


'Aku yang tidak senang melihatmu, Bung. Bisakah kamu tinggalkan aku sendiri?'


Reinhart mengeluh dalam hati. Menggelengkan kepalanya, dia kemudian bertanya.


"Apakah sekarang kamu selalu makan di tempat ini? Tampaknya ayah dan ibumu benar-benar memanjakanmu."


"Hehehe. Sejak dianggap sebagai lelaki dewasa, mereka benar-benar memberiku lebih banyak. Lagipula, mereka tidak ingin aku memperlakukan Sophia dan Caterina dengan buruk!"


"Berhentilah pamer." Reinhart menghela napas. "Bagaimana dengan Helena?"


"Ugh! Dia ... nah, ini agak rumit."


"Aku tahu kalian masih berhubungan, masih bertunangan. Meski orang tua kalian setuju, kamu harus memikirkan perasaan gadis itu. Bersenang-senang tanpa dirinya sambil berpikir kalau semua akan baik-baik saja pada waktunya ...


Itu adalah sikap yang kurang baik, Aiden."


"Apa?"


"Kamu benar-benar tidak mau mengaku?"


"Apa?"


Aiden menatap ke arah Reinhart dengan curiga. Setelah beberapa saat, dia kemudian berkata.


"Aksi heroik yang kamu lakukan kemarin menjadi topik pembicaraan panas di akademi. Benar-benar cerita seorang ksatria menyelamatkan kecantikan.


Aku dengar kamu juga membawanya pulang. Apakah kamu menyukainya? Cinta pada pandangan pertama? Kamu akan menjadikan dia sebagai selir? Atau kalian akan kabur dan melarikan diri karena hubungan tidak disetujui?"


"..."


Mendengar rentetan pertanyaan dari mulut Aiden yang menyerangnya seperti peluru, sudut bibir Reinhart berkedut. Dia benar-benar tidak menyangka apa yang dia lakukan bisa menyebar sampai seperti sekarang.


"Jadi itulah alasan kenapa banyak orang menatapku dengan ekspresi semacam itu," gumam Reinhart.


"Omong-omong, kamu harus berhati-hati, Rein."


"Kenapa?" tanya Reinhart dengan ekspresi serius.


Pemuda itu langsung memikirkan segala kemungkinan. Salah satu yang dia khawatirkan adalah keberadaan organisasi hitam dan kultus jahat. Jika sampai identitas penyihir cahaya Maria menyebar, mereka pasti tidak akan tinggal diam. Pasti banyak hal berbahaya terjadi di tahun ini ... jelas membuat Reinhart merasa agak gugup dan tertekan.


"Tampaknya Leander marah besar."


"En?" Reinhart mengangkat alisnya. "Maaf? Kamu bisa mengulanginya?"


"Sepertinya Leander sangat marah kepadamu, jadi kamu harus hati-hati."


"Maksudmu karena hubunganku dengan adiknya?" tanya Reinhart ketika mengingat gadis imut dan baik hati dari Kerajaan Lautan Zamrud.


"Siapa lagi?" ucap Aiden.


"Kamu terlalu banyak berpikir, Aiden. Aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Maria. Aku hanya membantunya karena dia memiliki bakat yang pantas dibimbing oleh akademi sihir.


Belum lagi, Leander bukanlah lelaki yang melakukan sesuatu tanpa berpikir. Dia pasti mampu memilah informasi dengan baik. Tidak akan melakukan hal sembrono semacam itu."


Mendengar penjelasan Reinhart yang penuh dengan keyakinan, Aiden hanya bergumam dengan suara yang dia bisa dengar.


"Semoga saja seperti itu."


***


Sore hari sepulang sekolah, Reinhart benar-benar terdiam ketika melihat sosok Leander yang menghadang jalannya.


"Aku sudah mempercayakan adik kesayanganku kepadamu, tetapi beraninya kamu bermain-main dengan gadis lain di belakangnya!"


Swoosh!


Leander melemparkan sarung tangan, jatuh tepat di depan Reinhart.


"Aku menantangmu berduel, Reinhart!"


Melihat ke arah Leander yang sama sekali tidak rasional, sudut bibir Reinhart berkedut. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.


'Siscon tanpa otak ini ...'


>> Bersambung.