Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Lelah Menjadi Pengasuh Bayi



"Kamu tidak bercanda denganku kan, Roberta?"


Setelah selesai membaca semua informasi, Reinhart menatap Roberta dengan ekspresi dingin. Pemuda itu merasa sangat marah karena tidak menemukan apa yang dia inginkan.


"Apakah ada yang salah, Tampan?"


"Apa-apaan informasi ini. Apakah ketua gangster, kelompok petualang terkuat, dan penguasa kota ... orang paling kuat di kota ini adalah penyihir circle 3?"


"..."


Roberta terdiam. Entah kenapa, rasanya dia ingin memukul seseorang sekarang juga.


Melihat bagaimana Reinhart membicarakan penyihir circle 3 seolah seperti membicarakan preman membuatnya merasa marah. Lagipula, bagi banyak orang penyihir circle 3 itu sudah sangat kuat. Khususnya bagi orang-orang di kota wilayah kekuasaan Viscount atau Baron.


Sedangkan di wilayah Count, penyihir circle 3 memang cukup banyak jumlahnya. Namun, penyihir circle 4 juga masih jarang.


Di kerajaan ini saja, kebanyakan penyihir circle 4 adalah Marquis. Meski kecil, kerajaan ini sudah terkenal sebagai kerajaan sihir. Namun faktanya, Raja sendiri adalah penyihir circle 6!


"Bukankah itu sudah baik bagi kota kecil seperti ini, Tampan?"


"..."


Reinhart menghela napas panjang. Dia hanya mengangguk ringan. Pemuda itu akhirnya menerima kalau tolok ukur sendiri tergantung pada tempatnya.


Di kolam kecil, ikan koi sebesar kaki dianggap raksasa. Namun di sungai-sungai besar, ikan itu sama sekali tidak dianggap raksasa. Sedangkan di lautan ... apa itu koi? Bisakah dibandingkan dengan gurita raksasa, hiu, lumba-lumba, atau paus? Bahkan anak kecil pasti tahu jawabannya.


"Baiklah. Informasi ini agak kurang sesuai harganya, tapi tak masalah."


Setelah mengatakan itu, Reinhart bangkit dari kursinya lalu pergi.


PLAK!


Sebelum pergi, pemuda itu menampar bagian belakang Roberta dengan keras. Benar-benar membuat wanita itu terpana.


"Itu hukuman karena telah menggodaku."


Melihat pintu tertutup, Roberta menghentakkan kaki dengan rona merah di pipinya. Dia mendengus dingin.


"Hmph! B-jingan ini ..."


***


Keesokan paginya.


Sebelum matahari terbit, sosok Reinhart telah berjalan-jalan di sekitar kota. Hal tersebut dia lakukan ketika pergi ke sebuah kota yang belum pernah dikunjungi. Sama seperti biasanya, dia ingin menikmati sarapan di pasar sambil melihat para warganya. Sebuah kebiasaan yang pemuda itu mulai sejak dia kembali dari ibukota Kerajaan Lautan Zamrud.


"Sungguh kota kecil yang damai."


Duduk santai sambil memegang ubi panggang di tangan kanan dan segelas susu hangat dicampur rempah, Reinhart bergumam dengan ekspresi santai.


'Tentu saja, tetap ada sisi cukup gelap di setiap bagian dari dunia ini.'


Memikirkan itu, Reinhart melirik ke arah tertentu. Di sana, tampak beberapa anak kecil yang kurus dengan pakaian berantakan. Ekspresi mereka agak tumpul, menatap ke arah orang-orang lewat seperti sedang mencari targetnya.


Melihat ke arah Reinhart, anak-anak tersebut terkejut ketika pemuda itu ternyata mengawasi mereka. Padahal mereka sendiri sudah sangat berhati-hati.


'Meski aku bukan penguasa dunia atau sosok heroik yang bisa merubah dunia, aku harus coba untuk membuat Kerajaan Rembulan Perak. Setidaknya ... biarkan orang-orang hidup sedikit lebih baik.'


Menyelesaikan sarapannya, Reinhart kemudian bangkit. Segera kembali ke penginapan untuk melihat apakah para gadis sudah bangun dan bersiap untuk melakukan misi mereka.


Hanya saja, Reinhart agak kecewa ketika melihat para gadis bahkan belum bangun, apalagi mempersiapkan diri.


Reinhart kembali ke kamarnya dan keluar lagi setelah jam 8 pagi.


Keluar dari kamar, dia telah memakai pakaian rapi. Turun ke lantai pertama, pemuda itu melihat empat gadis yang sedang sarapan.


"Apakah anda baru bangun, Senior Reinhart?" tanya Delia dengan heran.


"Bagaimana mungkin pelanggan baru bangun." Pemilik penginapan yang kebetulan lewat sambil membawa alat penyiram tertawa. "Pelanggan ini telah keluar di pagi buta untuk jalan-jalan. Sekarang dia juga tampak lebih rapi. Jelas tidak seperti baru bangun tidur."


"Pemilik penginapan masih begitu berpengetahuan." Reinhart membalas santai. "Setidaknya aku tidak seperti beruang kecil yang sedang hibernasi di musim dingin."


Mendengar ucapan santai Reinhart, keempat gadis itu merasa agak malu.


Hilda menatap ke arah Reinhart lalu bertanya, "Apakah anda sudah sarapan, Senior Reinhart? Bagaimana kalau makan bersama?"


"Aku sudah makan. Aku akan pergi mengurus sesuatu sebentar. Setelah selesai sarapan, kalian langsung berangkat atau pergi ke pemberi misi terlebih dahulu?"


"Kami akan pergi ke pemberi misi terlebih dahulu," jawab Delia.


"Haruskah aku ikut untuk memastikan keamanan kalian?" tanya Reinhart setengah bercanda.


"Tolong!" jawab mereka berempat bersamaan.


"..."


Dalam benaknya, dia bahkan mulai mengurangi nilai mereka.


"Kalau begitu tunggu aku kembali. Paling lama satu setengah jam."


Setelah mengatakan itu, Reinhart pergi keluar dari penginapan.


Pemuda itu kemudian segera pergi ke arah yang pasti seolah telah tinggal lama di kota kecil tersebut. Dia langsung menuju ke area kumuh dimana banyak pencuri, pengemis, dan penjahat.


Reinhart menuju ke bangunan paling besar dan paling bagus di area tersebut.


Di depan pintu, tampak dua orang penjaga yang mengantuk.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Bocah? Tersesat?"


"Suruh saja Crazy Boar untuk turun menemuiku.


Aku tidak berniat untuk mempermalukan kalian. Jadi lakukan saja."


Pintu depan rumah langsung terbuka. Sosok pria kekar berkulit coklat dengan tubuh penuh luka keluar dari rumah.


"Kamu yang menakut-nakuti kelompok Night Hound? Sudah aku duga kamu datang ke sini cepat atau lambat."


Pria paruh baya itu menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi serius. Sama sekali tidak ada jejak penghinaan atau hal-hal semacamnya.


"Night Hound? Aku belum pernah mendengarnya." Reinhart menggelengkan kepalanya. "Jika yang kamu maksud empat orang petualang yang dipimpin master knight. Mungkin apa yang kamu maksud benar."


"Ketua, tidak mungkin bocah halus seperti itu menakuti—"


"Diam."


Ketika penjaga berkata dengan nada tidak percaya, Crazy Boar langsung menyela. Dia sama sekali tidak berniat membuat masalah untuk kelompoknya.


"Apa yang kamu inginkan? Menaklukkan kelompok kami kemudian menyuruh kami menjadi bawahanmu?"


"Tentu saja tidak." Reinhart menggelengkan kepalanya. "Aku hanya datang untuk bicara."


"Kalau begitu masuk."


Mendengar undangan tersebut, Reinhart mengangguk. Dia kemudian mengikuti Crazy Boar masuk ke dalam rumah.


Di ruang tamu, Crazy Boar dan Reinhart duduk berseberangan sambil saling menatap dalam diam.


"Jadi ... Apa yang kamu inginkan sehingga repot-repot datang ke tempat kumuh seperti ini?"


"Aku hanya meminta bantuan dan memberi peringatan."


"Meminta bantuan? Memberi peringatan?"


"Ya."


Reinhart mengangguk. Dia kemudian mengeluarkan sebuah lencana lalu meletakkannya di atas meja.


"Lencana Starlight Scholar. Bisa dibilang, organisasi kecil yang terdiri dari para siswa-siswi berprestasi di Akademi Cahaya Bintang.


Kami memiliki tugas untuk mengawasi murid yang melaksanakan misi mereka.


Di sini aku meminta kelompokmu agar tidak menyentuh murid-murid dari akademi. Jika tidak, hasilnya pasti merepotkan."


"Kenapa kamu berpikir kami akan menyerang murid dari Akademi Cahaya Bintang?" tanya Crazy Boar heran.


"Tidak ada masalah dengan kepalamu. Namun anak buahmu pasti berpikiran sempit seperti penjaga sebelumnya. Mereka pasti tidak bisa menahan godaan ketika melihat empat gadis cantik. Ya ... mirip monyet pada musimnya.


Setelah itu, anak buahmu yang lemah dipukuli keempat gadis. Kemudian mengadu, beberapa senior yang lebih kuat akan membantu untuk mengurus keempat gadis. Lalu dipukuli lagi.


Kamu, sebagai ketua gangster pasti tidak terima martabat diinjak-injak. Kamu akan menargetkan mereka. Mereka akan terpojok dan aku dipaksa turun.


Setelah itu? Aku harus berperan seperti ksatria yang melindungi kecantikan sambil membunuh seluruh anggota kelompokmu.


Maksudku ... sungguh? Apakah kita harus melakukan rutinitas seperti itu?


Aku lelah bertindak seperti pengasuh bayi! Beri aku istirahat!"


Mendengar ucapan Reinhart, Crazy Boar membayangkan kalau hal semacam itu memang bisa saja terjadi. Menatap ke arah pemuda tampan yang mungkin datang untuk menyatakan kebenaran atau hanya menakut-nakuti dirinya, pria paruh baya itu dengan ragu bertanya.


"Kalau boleh ... bisakah aku mendapatkan bukti atau—"


Tekanan penyihir petir circle empat langsung memenuhi ruangan. Petir menari-nari di udara, membuat Crazy Boar kehilangan kata-katanya.


Ketika Reinhart menarik kembali tekanannya, dia menghela napas lalu berkata.


"Apa itu cukup?"


>> Bersambung.