Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Air dan Api



"T-Tapi Bos ... dia benar-benar Reinhart!"


Mendengar itu, Zale menatap ke arah Reinhart dengan curiga.


"Apakah kamu membohongiku?"


"Apakah saya tampak seperti pembohong di depan anda, Pangeran Zale?"


Tidak menjawab, Reinhart balas bertanya dengan senyum di wajahnya.


Melihat wajah 'polos' dan senyum ramah Reinhart, Zale menjadi bingung. Mengingat sesuatu, dia akhirnya berkata.


"Bukankah mereka bilang Reinhart itu hampir bisu dan dingin? Jelas pemuda ini ramah!" ucap Zale dengan nada polos.


"..."


'Siapa yang bilang aku bisu dan dingin? Keluar!'


Reinhart meraung dalam hati, tetapi masih mengenakan senyum profesional di wajahnya. Sama sekali tidak tampak marah, ya ... walau hatinya sudah panas.


"T-Tapi Bos! Meski dia ramah, dia masih Pangeran Reinhart! The Sleeping Lightning Dragon, Reinhart!"


"..."


'Apakah kamu yang menyebarkan rumor tentang sebutan memalukan itu? Aku telah mengingat wajahmu dengan jelas, Bung.'


Reinhart menatap si botak dengan khidmat, tampaknya mengukir jelas wajah 'pelaku' yang telah mencemarkan nama baiknya itu.


"Kamu jelas salah memilih informasi! Bukankah Reinhart itu seperti pemuda apatis yang tidak bisa berekspresi? Jelas dia—"


"YO! Aku telah mencarimu ke mana-mana, Rein! Ternyata kamu di sini!"


Sosok Aiden tiba-tiba muncul di jalan belakang Reinhart. Pemuda itu melambai kepada pangeran berambut perak itu dengan senyum ramah di wajahnya. Dari perilakunya, orang bodoh bahkan tahu, kalau Aiden benar-benar mengenal dan akrab dengan pemuda berambut perak itu.


"..."


Suasana langsung menjadi canggung. Zale yang baru saja berurusan dengan si botak tercengang. Orang-orang yang mengikutinya juga terdiam. Sementara itu, senyum hilang dari wajah Reinhart. Ekspresinya benar-benar tampak seperti awan gelap ...


Seperti badai yang akan segera datang!


"Apakah saya mengenal anda?" tanya Reinhart yang masih memaksakan perannya.


"Haha! Apakah kamu sedang belajar akting, Rein? Sudahlah, mari segera pergi. Ujian tengah semester kali ini pasti akan berat, jadi ..."


Ucapan Aiden berhenti tiba-tiba. Melihat ke arah Zale yang muram, dia menunjuk kepada pangeran berambut biru itu dan berkata dengan nada heran.


"Bukankah itu Pangeran Zale? Yo! Bagaimana kabarmu, Bajak Laut? Tampaknya kamu masih menggunakan otot daripada otakmu. Apakah kamu baik-baik saja? Hahaha!"


"Diam, Kucing Pengecut. Mengikuti pangeran dari kerajaan lain seperti pelayan. Cih! Orang semacam itu masih pantas dipuji sebagai ahli waris terbaik? Pasti orang-orang dari kerajaanmu telah kehilangan akal mereka karena api menguapkan ide-ide mereka!"


"..."


Suasana langsung menjadi tegang ketika Aiden dan Zale saling menatap dengan tatapan ganas.


Api dan air tidak cocok, begitulah hubungan mereka. Meski sekarang mereka ada di masa damai, tetap saja bekas masa lalu tidak akan hilang begitu mudah. Sama seperti hubungan antara dua kerajaan dimana Zale dan Aiden berasal. Mereka saling bersaing dan membenci. Ya ... walau sekarang tidak ada perang besar, tetapi kedua kerajaan itu saling bersaing untuk membuktikan siapa yang lebih baik!


Tentu saja, dunia tidak begitu damai seperti yang para bangsawan muda itu pikirkan. Reinhart telah mencari banyak informasi. Gesekan prajurit di perbatasan, kelaparan, wabah penyakit, pemberontakan, hal-hal kacau semacam itu masih mendominasi di seluruh penjuru benua.


Hal-hal kejam dan mengerikan sebenarnya telah ditutupi dengan lapisan putih yang disebut 'Perdamaian'.


"KAMU ..."


Zale dan Aiden berteriak bersamaan. Mereka tiba-tiba mengeluarkan senjata mereka.


Melihat keduanya langsung melakukan casting mantra tingkat 3, ekspresi Reinhart berubah. Dia langsung menengahi mereka.


"MATI UNTUKKU, BAJAK LAUT BODOH!"


"AKU AKAN MEMBUNUHMU, PENIPU ULUNG!"


Sebelum Reinhart menyelesaikan ucapannya, sinar merah dan biru muncul bersamaan, kemudian ...


BLARRR!!!


Ledakan keras tercipta, membuat kebisingan di sekolah yang seharusnya aman dan damai.


***


Satu jam kemudian, di depan toilet sekolah.


"Seperti yang saya bilang sebelumnya, Sir John, bukan saya ... tetapi mereka yang merusak properti sekolah!"


Memiliki ekspresi pahit di wajahnya, Reinhart menunjuk ke arah Zale dan Aiden yang saling memandang sambil memegang pel.


Jika bukan karena Sir John ada di sana, Reinhart yakin kalau mereka berdua akan adu gebuk dengan pel seperti anak kecil! Dari penampilan keduanya, jelas mereka sama sekali tidak berdamai!


"Tapi kamu terlibat dalam prosesnya, Reinhart. Juga, ada yang bilang kalau kamu adalah orang yang mengawali semuanya."


"Serius???" ucap Reinhart dengan ekspresi kosong.


"Tentu saja aku serius, Reinhart. Jadi ..."


Sir John memberi pel kepada Reinhart. Setelah itu, dia mengacungkan jempol sambil berkata.


"Selamat bersenang-senang untuk membersihkan seluruh sekolah, Reinhart!"


"..."


Melihat pria kekar berbaju pink pergi, sudut bibir Reinhart berkedut. Pada saat itu juga, dia mendengar Zale dan Aiden mulai melakukan cekcok lagi. Sebelum keduanya saling pukul, teriakan tidak sabar tiba-tiba terdengar.


"Berhenti memuntahkan omong kosong, K-parat! Ambil pel dan segera bersihkan toilet ini!


Setelah itu, kita masih harus membuang sampah dan melakukan beberapa pekerjaan lain ... tanpa sihir!


Omong kosong suci ... aku hanya ingin segera pulang sebelum makan malam. Jadi berhentilah mengoceh dan segera bekerja, K-parat!"


"..."


Zale dan Aiden tercengang. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Pangeran berambut perak yang biasanya tenang dan tak acuh itu masih bisa mengutuk dan berbicara kasar seperti berandal. Saling memandang dengan tidak puas, mereka hanya mendengus sebelum bekerja ... sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan. Namun, beberapa saat kemudian suara Reinhart kembali terdengar di toilet.


"Kenapa semuanya malah belepotan!"


"Hey! Kenapa kamu tidak memeras pelnya terlebih dahulu!"


"Kenapa kamu malah menggunakan sabun untuk mengepel!"


"..."


Pada saat itu, Reinhart merasa kalau dia lebih lelah tiga kali lipat ketika harus menjaga 'dua anak nakal' tersebut. Apa yang membuatnya sadar dan merasa tertekan adalah ...


Kedua pangeran itu sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan rumahan!


Menyadari bahkan para anak bangsawan manja itu tidak pernah merapikan kamar mereka sendiri ketika berada di rumah masing-masing, jelas mereka belum pernah mengepel lantai atau memasak.


Saat itu juga ... Reinhart sadar kalau pekerjaan untuk membersihkan sekolah tanpa menggunakan sihir lebih berat daripada apa yang dia kira.


>> Bersambung.