Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Salah Tempat!



Mendengar pertanyaan Reinhart, Edsel dan Edward saling memandang dengan tatapan cemas. Meski ekspresi mereka masih datar, tetapi mereka jelas ketakutan.


"K-Kami ingin menanyakan sesuatu kepada Kakak ke-3."


Edsel berkata dengan ekspresi ragu.


Reinhart menyeka keringat dengan handuk yang diberikan oleh Isana. Dia kemudian menatap ke arah kedua adiknya dengan heran. Seingatnya, kedua bocah ini biasanya tidak pernah berbicara dengan saudara atau saudari lainnya. Mereka selalu bersama dan tidak terpisahkan.


Jadi ketika mereka datang untuk menanyakan sesuatu kepadanya, Reinhart merasa terkejut sekaligus penasaran.


"Katakan, apa yang ingin kalian tanyakan?"


"Kakak ke-3, apakah ibunda selalu seperti itu?"


"..."


Pertanyaan Edward langsung membuat Reinhart terdiam sejenak di tempatnya. Pada saat itu juga, ingatan buram muncul dalam benaknya.


Pada saat dia masih kecil, tersandung lalu menangis, ibunya datang untuk membantunya tanpa mengucapkan sepatah kata.


Sedikit lebih besar, Reinhart sering kali mencapai banyak pencapaian yang tidak bisa dilakukan anak seusianya. Namun, ibunya masih diam.


Mengingat semua kenangan tentang sosok ibunya, Reinhart tiba-tiba merasa kalau punggungnya basah oleh keringat dingin. Baik ketika dirinya mencapai sesuatu atau melakukan sebuah kesalahan, Ratu Evelyn benar-benar hanya memandanginya dengan mata dingin tanpa mengucapkan sepatah kata.


Mungkin karena kekurangan kasih sayang seorang ibu, Reinhart dalam cerita asli benar-benar memilih untuk melakukan segalanya sendirian dan berakhir terbunuh.


'Kenapa rasanya benar-benar lebih parah daripada orang tuaku yang sebelumnya?'


Reinhart menyeka keringat dengan handuk sambil berpikir keras. Ayah yang hanya berbicara soal aturan, hukuman, kemuliaan, dan hal-hal semacam itu. Ibu yang bahkan tidak mengubah ekspresinya ketika melihat anak-anaknya terluka. Bisa dibayangkan anak-anak seperti apa yang terlahir dari orang tua seperti itu.


Reinhart mencoba mengingat beberapa sosok saudara-saudarinya. Kecuali Edsel dan Edward, tampaknya semua anak memiliki ekspresi datar dan tampak penyendiri. Karena sudah terbiasa melakukan segalanya sendirian, tampaknya mereka benar-benar tidak acuh dengan keberadaan saudara-saudari yang lain.


'Ini ... Agak horor, bukan? Apakah aku benar-benar harus hidup di keluarga semacam ini seumur hidup?'


Saat memikirkan hal tersebut, Reinhart tiba-tiba menyadari bahwa kedua adiknya itu berbeda. Karena keduanya selalu bersama sejak bayi, tampaknya mereka memiliki kepekaan lebih baik tentang kehangatan keluarga. Setidaknya, lebih baik daripada semua keturunan utama Raja Aaron.


"Kenapa kalian mencariku untuk bertanya hal semacam ini?"


Mendengar pertanyaan datar Reinhart, kedua bocah itu tanpa sadar mundur satu langkah. Sebelum datang, mereka tampaknya sudah siap dimarahi atau bahkan dipukul oleh kakak mereka. Jadi meski tampak takut, keduanya tidak melarikan diri.


'Apakah tampangku sedingin itu?'


Pertanyaan itu langsung muncul dalam benak Reinhart. Namun, saat itu jawaban kedua saudaranya menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.


"K-Kakak ke-6 yang menyuruh kami bertanya kepada Kakak ke-3."


Edsel berkata dengan nada gagap.


"Iya. Kakak ke-6 bilang, jika kami ingin bertanya, kami harus bertanya kepada Kakak ke-3."


Edward menambahkan.


Reinhart terdiam. Dia kemudian mengingat saudara-saudarinya. Anak pertama dan anak ke-2 berusia 19 tahun dan sudah menikah. Jelas, kedua bocah ini tidak berani bertanya kepada mereka. Anak ke-3 satu tahun lebih tua daripada Reinhart, usia 16 hampir 17 tahun. Dia bersekolah di akademi Kerajaan Rembulan Perak. Namun, gadis itu adalah keturunan Ratu Charlotte.


'Jadi, mereka mencariku karena aku adalah anak nomor dua dari keturunan ibu? Tunggu sebentar ...'


Ekspresi Reinhart kembali berubah. Dia kemudian ingat dengan jelas kalau dirinya dan saudara-saudari lain biasanya saling memanggil dengan angka. Saudara ke-4, Saudari ke-6, dan seterusnya.


Memikirkan itu, Reinhart sekali lagi tercengang.


'Pantas saja hubungannya terlalu dingin dan kaku! Kami bahkan tidak saling memanggil nama! Ini sudah keterlaluan!'


"Edsel, Edward ... kalian tidak perlu begitu kaku. Kalian bisa memanggilku Kakak Reinhart atau Kak Rein."


Mendengar ucapan datar Reinhart, kedua bocah itu terkejut. Mereka saling memandang dengan ekspresi bingung.


Setelah beberapa saat, Edsel berkata.


"T-Tapi, jika kami memanggil dengan cara seperti itu, bukankah kami tidak menghormati anda, Kakak ke-3?"


"Kami ... Kami tidak melanggar senioritas?" tambah Edward.


'Peraturan tidak berguna macam apa itu! Orang yang membuat peraturan ini di antara pangeran dan putri itu b-jingan bodoh dan menyebalkan!


Reinhart meraung dalam hati, tetapi masih memasang ekspresi datar di wajahnya. Benar-benar memiliki akting aktor tingkat internasional.


Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu kemudian berkata dengan nada tenang.


"Jika kalian mau, kalian boleh memanggilku seperti itu. Sama seperti caraku memanggil kalian. Aku memanggil kalian langsung dengan nama kalian, tanpa menggunakan gelar apapun.


Apakah kalian keberatan?"


Edsel dan Edward kembali saling memandang. Setelah beberapa napas, mereka menjawab serempak.


"Kami tidak keberatan, Kakak Reinhart."


Mendengar jawaban itu, Reinhart mengangguk.


"Bagus. Kalau begitu, kalian kembali terlebih dahulu. Kalian boleh melakukan apa yang kalian inginkan.


Setelah makan siang bersama, nanti kalian boleh mengikutiku ke kamarku. Aku akan menjawab pertanyaan yang ingin kalian tanyakan. Namun, setelah jam 2 kalian harus pergi. Aku memerlukan istirahat sebelum melanjutkan latihan sore.


Apakah kalian mengerti?"


"Kami mengerti, Kakak Reinhart!"


Mendengar itu, Reinhart sedikit mengangkat sudut bibirnya dan berkata.


"Kalau begitu tunggu apa lagi?"


"Kami pergi dahulu, Kakak Reinhart!"


Melihat kedua adiknya, Reinhart tampak cukup puas. Meski ekspresi di wajah mereka itu begitu datar sampai-sampai dianggap apatis, tapi setidaknya mereka masih memiliki perasaan.


Reinhart kemudian menutup pintu. Dia kemudian mengambil ramuan pemulihan energi lalu menatap ke arah Isana.


"Kita lanjutkan latihannya, Isana."


Melihat ke arah Reinhart dengan ekspresi terkejut, wanita cantik itu tiba-tiba tersenyum sebelum menjawab.


"Seperti yang anda inginkan, Tuan!"


***


Siang hari, di kamar Reinhart.


Reinhart duduk di kursi belajar miliknya sementara kedua adiknya duduk di tepi tempat tidur. Melihat kedua adiknya, pemuda itu membuka mulutnya.


"Jadi, kalian ingin tahu soal ibu, kan?"


"Iya!" Keduanya menjawab dan mengangguk bersamaan.


"Jujur saja, aku juga tidak terlalu paham. Lagipula, sejak aku kecil, ibu juga masih sama seperti ini. Namun kalian tidak perlu kecewa.


Apakah kalian pernah terluka?"


Keduanya mengangguk bersamaan dengan tatapan bingung.


"Meski ibu tampak tak acuh, tidak seperti khawatir dengan apa yang kita lakukan. Namun, jika kalian ingat baik-baik, saat kita sakit atau terluka, ibu pasti ada di sana.


Ya ... meski masih tampak tak acuh. Ibu sebenarnya mengobati luka kita, bukan?


Jadi bisa disimpulkan, ibu sebenarnya peduli dengan kita. Itu juga bukti kalau ibu menyayangi kita!"


Reinhart membongkar semua isi kepalanya. Berusaha menemukan beberapa bukti untuk membodohi kedua adiknya. Meski dia tidak tahu apakah di mata ibunya mereka itu hanya alat atau memang dianggap sebagai anak-anak mereka, setidaknya, dia tidak ingin kedua anak itu merasa tertekan karena kebenaran kejam.


Melihat ke arah kedua bocah yang memiliki mata berkilauan, Reinhart merasa agak pahit. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah membohongi kedua adiknya.


Merasa ingin menangis tanpa air mata, Reinhart hanya bisa mengeluh dalam hatinya.


'Maafkan kakakmu ini, Bocah. Namun, jika kalian mencari kehangatan di Keluarga Runegarde ...


Kalian benar-benar mencari di tempat yang salah.'


>> Bersambung.