Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Menjadi Baik?



Guk! Guk! Guk!


Hachiko menggonggong ke arah Reinhart. Makhluk itu benar-benar tampak panik ketika melihat tuannya bersandar di pohon sambil menatap langit dengan ekspresi kosong. Bukan ekspresi tenang ketika dia menahan sakit sebelumnya, tetapi tampaknya ...


Pemuda itu benar-benar telah melupakan tangan kanannya yang sedang terluka parah!


'Tunangan ... Tunangan ... Kenapa tiba-tiba aku harus memiliki tunangan?'


Menurut game yang dia mainkan sebelumnya, selain karena beberapa bad ending, karakter Reinhart terkenal karena benar-benar unik dalam dunia dating sim.


Biasanya, jika ada target, pasti akan ada gadis yang akan menjadi pesaing Heroine. Namun, tidak dengan kasus karakter Reinhart. Meski begitu, dia sangat terkenal karena tingkat kesulitan untuk mendapatkan cintanya.


Jika dijelaskan dengan data, hitung saja karakter lain membutuhkan 100 poin agar bisa benar-benar jatuh cinta kepada Heroine. Sedangkan karakter Reinhart memerlukan 300 poin agar bisa jatuh cinta dengan Heroine.


'Bukankah karakter Reinhart seharusnya adalah pemuda apatis, dingin, kejam, dan jomblo tingkat akut? Bahkan tidak ada happy ending, jadi ...


Kenapa aku tiba-tiba harus bertunangan?'


"Reinhart ... Reinhart ... Hey!"


Merasakan tubuhnya diguncang, Reinhart tersadar dari lamunannya. Melihat sosok Leander yang berada di depannya dengan ekspresi khawatir, tanpa sadar pemuda itu secara refleks menendang perut Leander.


"Ugh! Kenapa kamu tiba-tiba menendang perutku, Reinhart?"


Leander tersenyum kecut ketika memegangi perutnya. Di sana, tampak bekas sepatu kotor di pakaian indahnya. Namun, pemuda itu sama sekali tidak tampak marah.


"Maaf, refleks ..." ucap Reinhart dengan ekspresi datar.


"Tidak apa-apa, Reinhart. Sebagai kakak, tentu aku—"


"Maaf, Pangeran Leander. Pertunangan kami sama sekali belum pasti, jadi tidak perlu begitu dekat."


"Eh? Kenapa? Bukankah itu sudah pasti? Kamu pasti juga menyukai adikku, kan? Lagipula, dia adalah gadis paling cantik di Kerajaan—"


"Mari bicarakan itu lain kali, Pangeran Leander."


Reinhart langsung menyela pemuda di depannya. Dia bahkan mengeluh dalam hatinya.


'Aku bahkan tidak mengenal adikmu! Bagaimana aku bisa suka, apalagi cinta! Pasti ada yang salah dengan kepalamu!'


Sebenarnya, Leander sendiri tidak salah. Hanya saja, Reinhart belum membiasakan diri dengan aturan dunia ini. Jangankan harus bertemu, bahkan, banyak perjodohan yang dilakukan sebelum sang anak dibuat!


Contoh, jika Marquis A dan Marquis B akrab, mereka ingin beraliansi jangka panjang, cara paling mudah adalah menyatukan keluarga mereka melalui pernikahan. Jadi, mereka membuat perjanjian. Jika anak keduanya laki-laki dan perempuan, maka mereka akan dinikahkan.


Aneh? Namun begitulah adanya.


"Kamu pasti tidak akan menyesal, Reinhart. Itu karena, adikku adalah gadis yang sangat ... sangat cantik!"


"Apakah kamu siscon?" ucap Reinhart tatapan kosong.


"Siscon? Apa itu?" Leander memiringkan kepalanya.


"Tidak." Reinhart menggelengkan kepalanya. "Lupakan saja."


"Tunggu, daripada itu ... bisakah kamu memerintahkan peliharaanmu untuk berhenti menggigitku?"


Mendengar ucapan Leander, Reinhart yang baru sadar langsung melihat ke arah kaki Leander.


Di sana, ketiga kepala Hachiko menggigit kaki kiri Leander dengan ganas. Tampaknya tidak berniat melepaskan pemuda itu!


"Apa yang kamu lakukan, Hachiko?! Lepaskan!"


Mendengar ucapan tuannya, Hachiko merasa bersalah. Awalnya makhluk itu ingin membangunkan tuannya, tetapi diganggu oleh lelaki aneh yang memandang tuannya dengan tatapan jahat. Jelas, sebagai peliharaan yang baik, dia langsung menggigit lelaki aneh itu!


Siapa sangka, Reinhart malah memarahinya.


Guk! Guk! Guk!


Hachiko duduk di depan Reinhart dengan ekspresi polos. Menjulurkan lidahnya, menjual keimutan agar tidak dimarahi oleh tuannya.


'Siapa yang bilang Naberius itu ganas? Bukankah itu Shiba Inu versi lebih besar? Dengan tiga kepala dan sepasang sayap tambahan?'


Melihat Hachiko di depannya, Reinhart mulai meragukan informasi yang dia dapatkan dari buku-buku.


'Lupakan! Mari didik dia dulu ...'


"Kamu tahu, Hachiko, lain kali kamu dilarang untuk langsung menggigit musuh. Lihat musuhmu terlebih dahulu.


Bagaimana jika lawan yang kamu gigit ternyata mengandung racun? Membuatmu sakit perut karena keracunan?"


Mendengar penjelasan tuannya, mata Hachiko berbinar. Tampaknya makhluk itu senang karena tuannya khawatir. Melirik ke arah Leander, Hachiko memberi tatapan yang cukup manusiawi. Benar-benar memandang pemuda itu dengan ekspresi jijik di ketiga kepalanya.


"Hey, tampaknya ada yang salah di sini, Reinhart?! Kenapa kamu berbicara seolah-olah aku ini sarang penyakit atau semacamnya?!"


"Aku bilang, jika bertemu lawan-lawannya. Banyak makhluk beracun dan berbahaya di alam liar, kan? Kamu terlalu banyak berpikir."


"..."


Pada saat itu, ekspresi Leander tampak berubah. Melirik ke arah kaki kirinya yang bengkak dan berwarna hitam, dia tercengang.


"Bukankah ini racun kegelapan? Bukankah aku yang malah keracunan?"


"Bisakah kamu berhenti berteriak, Leander? Hanya racun kecil semata, lihat tangan kananku! Bahkan sekarang tidak bisa digerakkan! Ini bahkan lebih menyakitkan."


"..."


Leander yang biasanya tenang dan cukup cerdas merasa dibodohi. Hanya saja, dia tidak tahu bagian mana Reinhart menipunya. Kata-kata pemuda berambut perak itu tidak sepenuhnya salah. Sebenarnya cukup tepat, tapi ...


Jelas ada beberapa hal yang salah!


"Lebih baik kamu beristirahat, Leander. Sihir kegelapan itu sangat jarang, aku juga tidak memiliki penawarnya. Aku bertanya pada para petugas, mereka pun juga tidak membawanya. Lagipula, makhluk elemen kegelapan itu jarang, dan obat penawar juga sangat mahal.


Jadi jika tidak diobati di kota, tampaknya kita benar-benar harus menunggu sampai kembali ke Akademi Cahaya Bintang."


"Haruskah kita menahannya begitu lama?"


"Tenang, itu sama sekali tidak mematikan. Lagipula, kamu tidak sendirian, kan? Ada aku yang juga keracunan."


"Ya ..."


"Duduklah. Kamu bisa menceritakan tentang adikmu."


"Eh? Sungguh?"


"Tentu."


"Baiklah!" Leander duduk tidak jauh dari Reinhart. "Jadi begini ..."


Melihat Leander yang mengoceh tentang adiknya, Reinhart mengangguk. Tampaknya dugaannya benar, lelaki di depannya adalah siscon yang merasa senang dan melupakan segalanya ketika membicarakan adiknya.


Reinhart langsung melirik ke arah Hachiko. Naberius yang memasang ekspresi polos ketika menatapnya, jadi pemuda itu hanya bisa melepaskannya.


Sebenarnya, ada alasan kenapa Reinhart yang dingin tiba-tiba baik kepada Leander.


Seperti yang Reinhart bilang sebelumnya, penangkal racun kegelapan langka dan mahal. Masalahnya bukan di sana, tetapi terletak pada Hachiko.


Sebagai peliharaan Reinhart, apa yang Hachiko perbuat adalah tanggung jawab pemuda itu. Jadi, dengan kata lain ... dia harus membelikan Leander obat penawar.


Masalahnya, uang yang Reinhart dapatkan benar-benar tipis. Selain karena produk yang dia jual kepada Viscount Vinn belum sepenuhnya habis, pendapatan yang diterima masih harus dibagi dengan iblis tamak ... tidak, maksudnya, Professor Elin.


Memikirkan biaya latihan harian untuk dirinya, ketiga pelayannya, dan sekarang ditambah dengan seekor peliharaan ... Reinhart benar-benar merasakan krisis keuangan!


Jadi apa yang Reinhart lakukan sekarang mirip yang dilakukan oleh para pengusaha kotor di kehidupan sebelumnya.


Berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa sehingga dibebaskan dari pajak atau denda!


Melirik ke arah Leander, Reinhart tidak bisa tidak menghela napas panjang.


'Maafkan aku, Bung. Salahkan dirimu sendiri yang terlalu terobsesi dengan adikmu. Ya, sudah kuduga ...'


Reinhart tersenyum masam.


'Kasih sayang dan cinta berlebihan itu membuat IQ seseorang turun menjadi nol besar! Benar-benar membuat orang-orang itu melakukan hal-hal tidak masuk akal!'


Sambil mendengarkan ocehan Leander, Reinhart hanya bisa berharap mereka segera kembali ke akademi. Lalu jauhi orang ini dan anggap tidak ada yang terjadi!


>> Bersambung.