
Dua hari kembali berlalu.
Pada saat ini, anggota keluarga lain memandang ke arah Reinhart dengan ekspresi agak aneh. Bukan hanya tampak penasaran, tetapi juga cukup curiga.
Khususnya adik perempuan Reinhart, anak ke enam Raja Aaron, Valerie Runegarde.
Valerie memiliki paras mirip dengan ibunya. Tampak cantik dan anggun meski masih berusia sepuluh tahun. Belum lagi, cara dia menatap seseorang juga sangat menggangu. Jika tatapan sang ibu tampak dingin, tatapan gadis itu seperti tatapan predator yang mengincar mangsanya.
Bisa dibayangkan, karena cara Valerie memandang orang lain seperti musuh abadinya, gadis itu benar-benar tidak memiliki teman!
Meski anggota Keluarga Runegarde biasanya tidak memiliki banyak teman, tetapi biasanya mereka sangat dihormati dan dikagumi banyak orang. Namun kasus lain terjadi pada Valerie. Gadis itu dijauhi, bahkan agak dibenci orang-orang karena betapa sengitnya cara memandang.
'Jika aku bukan kakaknya, aku juga berpikir dia membenciku.'
Sedang makan dengan tenang, Reinhart merasakan tatapan dingin dari gadis yang duduk di sebelah kirinya.
'Benar-benar tidak menyenangkan. Sungguh ... kenapa kamu menatapku seolah aku berhutang satu juta keping koin emas kepadamu?'
Masih makan, pemuda itu berusaha mengabaikan. Namun tetap saja, dia benar-benar merasa tidak begitu nyaman.
Selesai makan siang bersama, Reinhart berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Edsel dan Edward.
"Kamu harus mengajari kami trik kemarin, Kakak Reinhart."
"Ya! Membuat cahaya bisa dilakukan dengan elemen petir, itu sangat keren."
Mendengar ucapan kedua adiknya, Reinhart tidak bisa tidak menghela napas panjang. Dia kemudian mengingatkan dengan serius.
"Aku bisa mengajari kalian. Namun, kalian harus berjanji untuk tidak menggunakan sihir buruk semacam ini ketika membuat circle pertama kelak."
"Kami janji, Kakak Reinhart!" ucap keduanya serempak.
Meski ekspresinya tampak begitu datar, mereka jelas senang ketika Reinhart menyetujui permintaan mereka.
Sebenarnya, apa yang Reinhart kepada kedua adiknya hanyalah salah satu dari sihir buatan pemuda itu. Tentu saja, bukan sihir original, tetapi hanya memodifikasi beberapa sihir seperti sihir mirip efek flashbang.
Dalam waktu enam bulan, selain latihan untuk menaikkan level, Reinhart juga mempelajari dan membuat cukup banyak sihir modifikasi. Tentu saja, bukan jenis sihir pamungkas. Sebaliknya, hanya beberapa sihir remeh yang mungkin tidak dianggap sihir level 1.
Salah satunya adalah sihir lighting (penerangan) yang Reinhart tunjukkan kepada adiknya.
Dibandingkan dengan sihir lightning flashbang yang meledakkan cahaya untuk mengejutkan indera penglihatan, sihir ini memiliki konsep berbeda. Sebaliknya, ini lebih mirip sihir lightning ball yang digunakan untuk menyerang.
Membuat bola dengan energi sihir petir.
Bedanya, jika lightning ball itu menggunakan energi sihir petir yang tirani, mengumpulkannya untuk memadatkan bola dan menggunakannya untuk menyerang. Di sisi lain, lighting adalah cara untuk mengumpulkan energi sihir untuk membuat manik kecil. Bedanya, energi sihir petir dalam manik itu terus dibuat bergerak dan bergesekan. Menjadikannya lampu penerangan kecil seterang lampu pijar lima watt. Bedanya cahaya putih dengan sedikit warna biru.
Seperti namanya, sihir itu bisa dikendalikan dengan mudah dan digunakan sebagai penerangan. Reinhart memodifikasi sihir semacam ini agar bisa digunakan pada saat-saat tertentu. Contohnya ketika lupa membawa lampu sihir ketika melakukan misi di lokasi tertentu atau ketika terjadi mati lampu.
Ya ... meski yang terakhir jelas mustahil.
Setelah sampai di kamar, Reinhart mulai mengajari kedua adiknya pengetahuan dasar sperilah sihir.
"Anda sudah mengulanginya beberapa kali, Kakak Reinhart!"
"Ya! Bagaimana kalau praktik langsung?"
"Sihir bukanlah sesuatu yang digunakan untuk main-main. Sihir itu berbahaya!
Selain itu, apakah kalian tidak ingin seperti ayah atau ibu? Menjadi penyihir yang kuat?"
"Tentu saja kami mau! Itu tujuan kami!" ucap kedua bocah itu bersamaan.
"Jika kalian mau, kalian harus mengetahui, bahkan sepenuhnya menguasai hal-hal yang menyangkut dasar sihir karena hal itu adalah pondasi bagi semua penyihir.
Untuk membamgun menara yang tinggi, cantik, megah, dan kokoh. Pondasi yang sangat kuat diperlukan! Apakah kalian mengerti?"
Melihat bwtapa serius Reinhart, Edsel dan Edward mengangguk dengan ekspresi tegas. Sebagai bocah yang dipaksa berpikiran lebih dewasa dibandingkan anak-anak di usia yang sama karena gelar dan tanggung jawab mereka, keduanya masih bisa menerima apa yang diajarkan Reinhart dengan baik.
Sejak dua hari yang lalu, tiga hari termasuk sekarang, Reinhart mengajari kedua adiknya tentang dasar-dasar sihir. Namun, mereka tidak bisa menggunakan sihir karena mana dalam tubuh mereka masih sangat sedikit dan belum terbangun.
Jika itu anak-anak normal, mereka biasanya tidak mungkin menggunakan sihir di usia seperti itu. Namun, untuk kedua adiknya yang merupakan keturunan dua penyihir kuat, hal tersebut masih bisa dilakukan. Tentu saja, hanya sihir tanpa level. Bahkan mereka juga memerlukan waktu cukup lama untuk menguasai sihir tanpa level.
Reinhart mengarahkan jari telunjuknya ke atas. Detik berikutnya, bola cahaya berukuran kelereng muncul beberapa centimeter di atas jarinya. Bola cahaya tersebut menjadi sedikit lebih terang, memulai menerangi sudut-sudut kamar Reinhart yang cukup gelap.
Setelah itu, Reinhart mulai mengendalikan bola cahaya tersebut. Hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan tanpa menggunakan gerakan khusus, bola cahaya tersebut mulai terbang di sekitar ruangan.
Reinhart kemudian menjentikkan jari, saat itu juga, bola cahaya meletup lalu menghilang. Benar-benar tidak menyisakan apa-apa.
Edsel dan Edward menatap itu dengan ekspresi terkejut serta bersemangat di wajah mereka.
"Ternyata masih bisa dilakukan dengan cara seperti itu!"
"Itu hebat! Ajari kami, Kakak Reinhart!"
Mendengar permintaan kedua adiknya, Reinhart sedikit mengangkat sudut bibirnya.
Meski tampak sederhana, sihir ini sebenarnya juga bisa dikembangkan lebih jauh. Bahkan setelah melewati banyak uji coba dan kegagalan, Reinhart telah membuat sebuah sihir kuat dengan dasar sihir tersebut.
Kegagalan adalah kunci kesuksesan. Kalimat tersebut sama sekali tidak bohong.
Jika seseorang mencoba untuk mencaritahu kesalahan, memperbaiki bagian itu, lalu mencoba melakukannya lagi, bahkan jika tidak berhasil, pasti akan ada perbedaan. Apabila itu terus dilakukan, apa yang disebut kesuksesan juga bisa diraih setelah banyak usaha dan perjuangan.
Melihat ke arah kedua adiknya yang begitu bersemangat, Reinhart mulai mengajari kedua adiknya.
Dengan begitu, waktu dengan cepat berlalu.
***
Selesai mengajari adiknya, Reinhart melakukan latihan sore seperti biasa.
Usai mandi dan berpakaian rapi, pemuda tersebut bersiap untuk pergi makan malam.
Pada saat makan malam bersama dengan keluarganya, Reinhart merasa kalau ibunya sesekali melirik ke arahnya. Hal tersebut membuatnya agak bingung. Bahkan dia juga memiliki dugaan cukup aneh.
Meski tampak dingin dan sadis, Reinhart tidak merasakan ancaman dari sosok ibunya. Hal tersebut membuatnya merasa agak aneh. Oleh karena itu, setelah kembali ke kamar dan mulai belajar, pemuda itu juga membuat sebuah catatan kecil yaitu ...
Coba untuk mencari rahasia yang sebenarnya ibu sembunyikan!
>> Bersambung.