Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Pergantian Pemain



Keesokan paginya


"Kamu tampak sangat bahagia, Rein?"


Mendengar pertanyaan tersebut, Reinhart yang sedang sarapan menoleh untuk melihat Aiden yang baru saja tiba.


"Bukan apa-apa," ucap Reinhart dingin, tetapi tidak bisa menahan sudut bibirnya terangkat.


Sebagai pemuda yang "MERASA" dirinya menyelamatkan dunia dan ratusan ribu nyawa, meski tidak mengatakannya, Reinhart tampak cukup puas pada dirinya sendiri. Belum lagi, ini dia lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.


"Omong-omong, kenapa aku tidak melihat Leander?" tanya Reinhart.


"Oh. Dia pulang kemarin. Tampaknya lebih memilih tidur di rumah (istana). Tsk! Bocah manja."


Aiden mendengus dingin. Mengingat perdebatan sebelumnya, dia merasa sangat tidak puas.


"Tenang sedikit, Aiden. Jangan terlalu dipikirkan."


Reinhart mengambil kroket dengan sumpit lalu menambahkannya ke atas piring Aiden. Dia bahkan membatu temannya itu untuk mengambil beberapa hidangan lain.


Melihat ke arah Reinhart yang tenang, lemah lembut, ramah, dan baik membuat Aiden curiga.


"Kamu tidak sakit kan, Rein?"


Ucapan Aiden membuat Reinhart hampir mematahkan sumpitnya. Dia segera menenangkan diri lalu berkata dengan nada santai.


"Kamu terlalu berlebihan, Aiden. Aku hanya sedikit tercerahkan. Ini balas budi atas kebaikanmu, okay?"


"Rein, kamu ..."


Aiden merasa agak terharu. Menyeka air mata di sudut matanya, pemuda itu melanjutkan.


"Aku benar-benar tidak keberatan jika kamu bertunangan dengan adikku. Sungguh, kamu bahkan bisa memanggilku kakak mulai sekarang."


Klak!


Sumpit di tangan Reinhart langsung patah. Saat itu, dia menarik napas dalam-dalam. Ekspresinya berangsur-angsur menjadi lebih tenang. Kembali tersenyum, pemuda itu berkata.


"Sumpit buatan sekarang memang mudah patah. Omong-omong, itu tidak perlu, Aiden. Aku dengar adikmu terlalu muda, lagipula ... sudah ada Vanessa."


"Hmmm ... Kamu tampaknya sangat menyukai gadis itu."


Aiden berkata santai ketika mulai memakan sarapannya.


'Maksudku, aku sudah lelah menerima orang-orang bermasalah yang dikirim kepadaku, B-ngsat.'


Memiliki senyum ramah dan tidak berbahaya, Reinhart mengutuk dalam hati.


"Mungkin ini takdir," ucap Reinhart santai.


"Ya. Tak apa jikalau kamu berkata demikian. Namun ..."


"Namun???"


Reinhart yang mengambil sumpit baru melirik ke arah Aiden.


"Jangan menyesal karena adikku lebih cantik dan lebih imut daripada adik Leander. Ya, walau sedikit lebih manja."


Klak!


Sumpit di tangan Reinhart kembali patah.


'Jangan perlakukan aku seperti pedo yang mencari lolita ke sana-sini, B-ngsat!'


Sekali lagi Reinhart menarik napas dalam-dalam. Memikirkan apa yang telah dia lakukan, pemuda itu menjadi tenang.


'Jangan marah-marah, Reinhart! Itu bukanlah perilaku orang yang telah menyelamatkan dunia.'


Memikirkan itu, Reinhart menjadi lebih tenang. Melirik sumpit patah dan Aiden yang menatapnya tanpa sepatah kata, pemuda itu berkata.


"Sungguh. Kualitas sumpit yang buruk. Tampaknya aku harus menggunakan sendok dan garpu seperti biasa."


Reinhart kembali menunjukkan senyum lembut dan ramah di wajahnya.


"Apakah kamu baik-baik saja, Rein?"


"Tentu saja."


Reinhart mengangguk santai.


"Baguslah kalau begitu."


Setelah percakapan singkat, mereka berdua makan sarapan bersama. Setelah makan, Xylon yang baru saja turun tiba-tiba mendekati Reinhart.


"Professor Elin mencarimu. Baru saja aku ingin turun, dia menghentikan aku dan memintaku memanggilmu."


"Dimengerti."


Masih memiliki senyuman di wajahnya, pemuda itu membalas santai. Menarik napas dalam-dalam, dia menahan diri agar tidak berteriak.


'Setelah iblis kecil, iblis besar mencoba membuat masalah denganku?'


Memikirkan itu membuat mood Reinhart turun. Namun memikirkan bahwa penyelamat dunia tidak boleh mudah tersinggung, pemuda itu menjadi lebih tenang.


Setelah beberapa saat, Reinhart pergi ke ruangan Professor Elin.


Sampai di ruangan Professor Elin, dia melihat wanita itu telah duduk menunggu.


"Apakah anda mencariku, Guru?"


Melihat bagaimana gurunya berbasa-basi, sudut bibir Reinhart berkedut. Menghela napas panjang, pemuda itu segera berkata.


"Tolong katakan saja ada keperluan apa, Guru."


"Oh?"


Melihat ekspresi Reinhart, Professor Elin mengangkat alisnya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.


"Kamu pasti tahu, pertandingan dimulai besok."


"Iya?" Reinhart memiringkan kepalanya. "Apakah ada masalah?"


"Ada. Bahkan masalah yang sangat penting."


Entah kenapa, mendengar itu membuat Reinhart merasa tidak nyaman. Memikirkan berbagai kemungkinan, pemuda itu mulai gelisah.


"Tolong katakan, ada masalah apa, Guru?"


Reinhart memberanikan diri untuk bertanya.


"Sebenarnya, karena terpaksa, kamu telah ditugaskan untuk mengikuti turnamen."


"Hah???"


Reinhart tercengang.


"Bukankah semua sudah tertulis pada list peserta? Kenapa ada perubahan yang begitu tiba-tiba?"


"Sebenarnya, kemarin malam Leander diracuni. Dia terkena racun yang sangat kuat. Meski tidak membahayakan nyawanya, racun itu memang membuatnya tidak dapat berpartisipasi."


"Lalu ... bukankah dia akan tereliminasi? Kenapa aku tiba-tiba masuk?"


"Itu ... Sebenarnya kamu ada benarnya."


Professor Elin mengangguk. Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk jujur.


"Hanya saja, karena tuan rumahnya adalah Kerajaan Lautan Zamrud, tampaknya mereka mau membukakan pintu belakang agar kamu bisa menggantikan Leander."


"..."


Mulut Reinhart terbuka lebar ketika mendengar hal tersebut.


'Aku tidak membutuhkan kursi kosong itu!'


Reinhart meraung dalam hati dengan putus asa. Pemuda itu merasa kalau semua kejadian menjadi semakin aneh dan mencurigakan.


'Leander diserang? Mungkinkah Wings of Chaos?'


Pikiran itu memasuki kepala Reinhart.


Professor memberikan selebaran tentang jadwal turnamen. Menerima itu, otak Reinhart merasa blank sejenak. Setelah beberapa saat membaca, pikirannya mulai mengembara.


Reinhart ingat dengan jelas. Ketika dia jalan-jalan bersama dengan Vanessa, ada beberapa orang yang bersembunyi sambil mengawasi mereka. Semuanya memakai jubah hitam, jadi pemuda itu tidak mengenali mereka.


Awalnya, Reinhart pikir mereka adalah orang-orang yang ditugaskan untuk melindungi dirinya dan Vanessa ketika bertemu dengan masalah. Namun sekarang ...


Petir di tangan muncul di tangan Reinhart dan langsung mencabik-cabik selebaran dan menghancurkannya menjadi debu. Mengingat sekelompok orang berjubah itu, ekspresi baik di wajah pemuda itu menjadi dingin. Bahkan lebih dingin daripada biasanya!


'Wings of Chaos ... Beraninya kali kalian menghancurkan kehidupan tenang yang aku dambakan!!!'


Reinhart langsung memberi cap kelompok Wings of Chaos sebagai musuh abadinya.


***


Sementara itu, dalam istana Kerajaan Lautan Zamrud.


"Aku harap anda segera sembuh, Kakak."


Vanessa berkata dengan nada khawatir kepada Leander sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar pemuda itu dan kembali ke kamarnya.


Sampai di kamarnya, gadis itu menutup pintu kamarnya dan bersandar pada dinding.


"Ini tidak salah, kan?" gumam Vanessa.


Gadis itu berjalan menuju ke kursi depan meja rias. Duduk di sana, dia membuka laci lalu melihat botol kristal kosong.


"Lagipula, Kak Leander seharusnya lebih rendah hati. Selain itu, aku hanya membantu suamiku.


Suamiku terlalu baik dan rendah hati. Dia tidak tega untuk menyakiti temannya sendiri, apalagi pamer. Namun ... dunia harus tahu bahwa suamiku memang yang terbaik!


Sebagai istri, aku harus membantunya, kan? Itu tidak salah, kan?


Aku tidak membunuh kakakku sendiri. Ibu bilang, dibalik lelaki yang hebat, ada istri yang kuat. Jadi ... apa yang aku lakukan jelas tidak salah."


Vanessa terus bergumam dengan nada datar seolah bingung tentang suatu hal. Dalam cermin ke arah cermin, tampak sosok seorang gadis cantik. Gadis itu memegang foto lalu mengecupnya dengan lembut.


"Ah! Aku sangat mencintaimu, Suami. Aku akan selalu ... dan selalu mendukungmu."


Pada saat itu, Vanessa menatap cermin dengan senyum di wajahnya. Namun, daripada senyum manis dan polos ...


Malah tampak senyum sadis dan obsesif di wajahnya.


Lengkap dengan sepasang mata merah bak delima serta aura gelap yang mengelilinginya.


>> Bersambung.