
Aroma daging kelinci bakar dan sup ikan menyebar, membuat orang-orang di tenda lain merasa kelaparan. Reinhart duduk di kursinya dengan ekspresi tenang di wajahnya.
Selesai memasak, Reinhart langsung membaginya. Setengah dari total sate kelinci dan satu ikan utuh masuk ke dalam piring serta mangkuknya. Dia kemudian memisahkan beberapa untuk orang lain. Beberapa tusuk sate dan semangkuk sup dengan setengah ikan, membaginya menjadi empat bagian.
Mengabaikan hujan deras, Reinhart membawa dua nampan, satu di setiap tangan lalu pergi ke luar tendanya.
Sebuah kubah yang terbuat dari mana muncul di atas kepalanya, tampak seperti bagian atas payung yang melayang untuk melindungi pemuda itu dari hujan.
"Untuk kalian," ucap Reinhart ketika memberikan satu nampan berisi dua mangkuk sup dan beberapa tusuk sate.
Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi ke tenda lain. Pemuda itu kemudian kembali ke tendanya sendiri lalu mulai makan miliknya sendiri.
Keempat gadis terkejut oleh keramahan Reinhart. Jelas pemuda itu telah berbicara kepada mereka agar tidak begitu mengandalkannya. Namun siapa sangka, ternyata dia masih begitu peduli.
Sementara itu, Tommy hanya bisa memakan biskuit terkompresi dengan jengkel. Pemuda itu benar-benar merasa sangat dirugikan, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa.
Selesai makan, Reinhart membersihkan peralatan. Dia kemudian bersantai di dalam tenda. Pemuda itu mulai minum anggur sambil menikmati suasana hutan ketika hujan.
"Dengan begini, setidaknya mereka tidak akan terlalu lemas."
Pemuda itu bergumam pelan sebelum menutup matanya.
***
Malam harinya.
Setelah cukup lama, hujan akhirnya reda. Saat semua orang mulai mengantuk, sosok Reinhart yang berada dalam tendanya membuka mata.
"Jangan membuatku kecewa," gumam pemuda itu.
Reinhart kemudian keluar dari tenda. Pergi ke dalam hutan lalu menghilang.
Sementara itu, di dalam tenda lain. Para gadis yang hendak tidur tiba-tiba bangun ketika mendengar lolongan serigala yang begitu tiba-tiba. Mereka sempat panik, tetapi segera menyesuaikan diri.
Setelah beberapa saat, mereka langsung bersiap. Keempat gadis itu keluar dari tenda dengan pakaian tempur dan senjata lengkap.
"Kita terlalu ceroboh!" ucap Hilda dengan ekspresi kesal.
Sebelumnya dia menyarankan untuk berjaga seperti sebelumnya. Namun karena hujan deras, mereka merasa kalau kebanyakan binatang buas juga berteduh. Jadi seharusnya cukup aman.
Selain itu, para gadis berpikir kalau Reinhart akan membangunkan atau mungkin mengurus masalah untuk mereka. Lagipula, meski tampak dingin, bagi mereka ... pangeran berambut perak itu masih cukup perhatian.
Hanya saja, ketika melihat tenda dengan lampu padam dan kosong, ekspresi mereka berubah total.
Jelas, pemuda itu mengetahui semuanya dan malah pergi meninggalkan mereka sendiri!
"Kejam!" ucap Delia dengan ekspresi kesal.
"Bagaimana ini?" gumam May panik.
"Ini juga kesalahan kita." Hilda tersenyum pahit. "Pangeran Reinhart jelas mengatakan kalau dirinya tidak akan ikut campur, tetapi kita masih terlalu berharap."
"Apakah kita harus segera melarikan diri?" tanya Maria dengan ekspresi gugup.
"Sudah terlambat." Hilda menggelengkan kepalanya.
Belasan mata berwarna hijau berkilat dari dalam hutan gelap. Belasan makhluk itu telah mengelilingi tenda, sama sekali tidak memberi ruang bagi para gadis untuk melarikan diri.
"Bersiap untuk bertarung!" seru Hilda.
Setelah mengatakan itu, Hilda langsung menghunus pedangnya. Dia juga mulai melantunkan mantera. Bukan hanya gadis itu, tetapi tiga rekannya juga melakukan hal sama. Hanya saja ...
Tiga rekannya adalah penyihir tradisional! Hanya membawa tongkat (staff) dan tidak memiliki kemampuan bertarung jarak dekat yang baik!
"Perlindungan bumi!" ucap Hilda.
Energi kuning langsung melapisi seluruh tubuhnya. Gadis itu tidak langsung maju. Dia memilih untuk mengawasi situasi dan menunggu musuh menyerang terlebih dahulu.
Beberapa serigala keluar dari hutan. Sebagian dari mereka adalah binatang buas tingkat satu, sedangkan beberapa berada di tingkat dua.
"Berkah cahaya!"
Selesai melantunkan mantera, Maria langsung berseru dengan wajah serius. Cahaya mengembun di ujung tongkat sihirnya sebelum berpencar, melapisi dia dan tiga gadis lain di sekitarnya.
Merasakan peningkatan kekuatan fisik dan hilangnya pikiran-pikiran negatif dalam kepala membuat Hilda, Delia, dan May terkejut. Tidak menyangka kalau sihir cahaya tingkat 1 bisa begitu ajaib!
"Kalau begitu kita tidak bisa kalah, May!" ucap Delia.
"Ya!" balas May.
Keduanya melantunkan mantera bersama-sama. Menunjuk ke arah serigala yang masih ragu-ragu untuk menyerang, mereka berseru bersamaan.
"Potongan angin!" seru May.
"Bola air!" seru Delia.
Bilah angin berwarna hijau dan bola air berwarna biru langsung melesat cepat ke arah serigala. Membunuh serigala tingkat satu dengan mudahnya.
Melihat rekannya diserang, para serigala langsung bergegas menyerang para gadis dengan gila.
"Memangnya aku akan membiarkan kalian melakukannya!" seru Hilda dengan ekspresi marah.
Bang!
Sosok Hilda langsung menebas salah satu serigala dan memukul mundur beberapa serigala dengan teknik pedangnya.
Hilda berada di barisan depan dan bertugas untuk bertahan. Delia dan May bertugas menjadi penyerang. Sedangkan Maria, dia bertugas untuk melakukan support. Menyembuhkan luka Hilda dan kelelahan dua gadis lain.
Untuk pertarungan pertama ... kerjasama mereka tidak begitu buruk!
Sekitar satu jam kemudian, pertarungan akhirnya selesai.
Keempat gadis itu langsung merosot, jatuh ke tanah dengan ekspresi lelah di wajah mereka. Khususnya Hilda yang bertugas untuk menahan serangan lawan-lawannya. Dia tampak lebih lelah dibandingkan dengan tiga gadis lain.
"Meski melelahkan, tetapi kita tidak dalam bahaya. Ini masih baik-baik saja." Delia menghela napas panjang.
"En." Hilda mengangguk. "Kamu benar. Untung saja tidak ada tingkat tiga dalam rombongan serigala. Jika tidak, kita benar-benar akan kerepotan."
"Syukurlah~" Maria menghela napas panjang.
"Meski jumlahnya cukup banyak, tetapi mereka agak lemah. Selain itu, terkadang para serigala berburu dengan jumlah kelompok lebih banyak.
Menurut informasi, mereka biasanya menyerang dengan satu atau dua serigala tingkat tiga memimpin. Aku tidak tahu apakah kita beruntung atau tidak."
Hilda menggelengkan kepalanya. Dia tidak terlalu memikirkannya. Selama mereka baik-baik saja, itu lebih dari cukup.
"Hanya saja ... aku tidak tahu kalau ada lelaki yang begitu memalukan."
Mendengar ucapan Delia, tiga gadis lain melihat ke tenda Tommy. Melihat bagaimana pemuda itu meringkuk di sudut, pura-pura mati dan tidak keluar membuat mereka semua merasa jijik.
Tommy sendiri adalah penyihir tingkat dua tahap awal. Meski tidak begitu kuat, dia seharusnya masih bisa membantu. Bakatnya sendiri lebih baik daripada Nenek Agatha yang hanya berada di circle 2 (akhir). Namun pemuda itu terlalu pengecut.
Selain beberapa kali menyombongkan diri kalau dirinya memiliki pengetahuan luas, tidak ada yang bisa dilihat darinya!
Saat mereka semua merasa kesal, suara santai tiba-tiba terdengar di telinga keempat gadis itu.
"Kerja bagus."
Mereka semua menoleh. Melihat sosok Reinhart yang baru muncul ketika semuanya telah selesai, para gadis merasa tidak puas. Namun ekspresi mereka langsung berubah ketika memperhatikan ada beberapa bercak darah di jubah pemuda itu.
Melihat para gadis yang tertegun, Reinhart berkata dengan senyum di wajahnya.
"Bagaimana pengalaman pertama kalian? Apakah itu menyenangkan?"
>> Bersambung.