Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Ujian Dimulai!



Setelah menyelesaikan pemeriksaan, lebih dari seratus siswa kelas satu disuruh untuk mengikuti Kakek Garvin dan Nenek Olive.


Mereka masuk ke hutan, tetapi tidak terlalu dalam. Meski demikian, pemandangan hutan yang padat dan rimbun telah muncul di depan mata para murid. Menurut Kakek Garvin, lingkaran luar sendiri memiliki beberapa jenis binatang buas. Dari makhluk yang tidak memiliki level dan dianggap sebagai hewan normal, sampai monster level 1 dan 2.


Untuk lingkaran tengah hutan, banyak dihuni oleh kawanan monster level 2. Ada juga monster level 3. Sedangkan level 4, kebanyakan dari mereka adalah pemimpin kawanan. Tentu ada juga jenis monster yang suka menyendiri.


Untuk lingkaran dalam, banyak monster di level 4 dan 5. Namun, menurut rumor, terkadang muncul monster level 6 yang sangat kuat dan berbahaya di lingkaran dalam.


Tidak hanya itu, ada juga pusat Hutan Kabut Ungu yang belum dijelajahi sampai sekarang. Lagipula, makhluk level 6 saja sudah bisa menjadi ancaman sebuah kerajaan kecil. Jadi, tidak ada pasukan kerajaan yang mencoba untuk masuk lebih dalam.


Setelah berjalan kurang-lebih dua jam, mereka sampai di lokasi yang luas dan cukup bersih. Tampak seperti tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan hijau pendek. Bedanya, di tengah tanah lapang tersebut terdapat sebuah tunggul pohon dengan diameter sekitar lima belas meter. Jelas, seharusnya dulunya ada sebuah pohon yang sangat besar berdiri di sana.


"Berhenti di sini!" ucap Kakek Garvin.


"Kalian boleh beristirahat sebentar." Nenek Olive berkata dengan ramah.


Murid-murid, khususnya para gadis akhirnya menghela napas lega. Mereka akhirnya memilih tempat untuk beristirahat.


Sementara mereka mulai memilih lokasi untuk beristirahat, Nenek Olive mulai menjelaskan.


"Tempat ini akan menjadi zona aman, tempat kalian mulai dan kembali. Tentu, kalian tidak diizinkan untuk tinggal di area ini. Ya ... setidaknya sebelum kalian menyelesaikan tugas.


Intinya, kalian akan berangkat untuk memburu. Untuk yang merasa takut, aku sarankan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari tempat ini.


Selain itu, selama kalian selesai berburu, kalian boleh segera kembali dan berkumpul di tempat ini. Mendirikan tenda dan menunggu murid lain sampai hari terakhir ujian. Setelah itu, barulah kita akan kembali bersama-sama."


Beberapa orang tampak agak bingung dengan penjelasan Nenek Olive. Pada saat itu, suara kasar Kakek Garvin terdengar.


"Singkatnya, jika kalian pengecut yang tidak memiliki kemampuan, tangkap tujuh ekor ayam dan kembali ke sini. Dirikan tenda dan tunggu selama satu minggu sebelum kembali!"


Jelas, pernyataan dari Kakek Garvin membuat banyak murid merasa tidak senang karena direndahkan. Meski level mereka tidak terlalu tinggi, mereka masih merasa tidak puas karena orang-orang 'mulia' seperti mereka benar-benar diejek dengan cara semacam itu.


Pada saat itu, salah satu siswa mengangkat tangannya.


"Apakah kamu mau protes, Nak?"


"Tidak, Pak!" Murid itu menggelengkan kepalanya. Menatap ke arah Kakek Garvin, dia kemudian menambahkan. "Tidak ada peraturan yang melarang kami untuk saling bekerja sama, kan?"


"Hou ... kamu cukup teliti, Bocah."


Mendengar jawaban tersebut, mata para murid berbinar. Kelelahan di tubuh mereka langsung terhapus. Remaja-remaja itu langsung bangkit dan mulai mencari teman untuk membuat kelompok.


Reinhart dan Aiden saling memandang. Sosok Flint dan Xylon juga berdiri di tempat mereka dengan tenang. Meski demikian, banyak murid yang mendekati mereka.


Siswa yang paling mencolok adalah Zale. Sebagai pemimpin kelompok kecil yang berisi murid-murid nakal, dia langsung dikerumuni. Benar-benar langsung dianggap seperti kakak laki-laki.


Reinhart dan Aiden melihat tiga gadis yang tidak asing berjalan mendekati mereka. Ya ... ketiganya adalah Helena, Sophia, dan Caterina.


"Selamat siang, Pangeran Aiden ... Pangeran Reinhart."


Helena menyapa dengan sopan. Aiden tampak tak acuh, sementara Reinhart mengangguk ringan sebagai jawaban.


"Seperti yang diungkapkan oleh Kakek Garvin sebelumnya. Jelas, membuat kelompok adalah cara efektif untuk melakukan ujian dengan lancar. Selain mempermudah ujian, berkelompok jelas lebih aman daripada melakukannya sendiri, jadi ...


Kami datang untuk bertanya, apakah kami bisa membentuk kelompok seperti sebelumnya?


Lagipula, kita cukup akrab. Jadi, saya rasa, kelompok yang dibuat pasti akan menjadi lebih teratur. Selain itu—"


"Tunggu!"


Aiden langsung menyela Helena yang berbicara. Dia menatap sosok gadis itu dengan tatapan dingin sebelum akhirnya melanjutkan.


"Tampaknya kalian salah paham. Menjaga martabat seorang pangeran, tentu ujian ini bukan hanya penilaian sekolah bagi kami. Ini benar-benar ujian nyata untuk mengukur kemampuan individual, jadi sejak awal ... aku tidak berniat untuk membuat kelompok.


Jadi jangan samakan aku dengan bocah sombong yang suka ketika dikelilingi para adik laki-laki yang menjilati dirinya!"


Aiden berkata dengan ekspresi bangga, tetapi juga tampak mengejek. Tentu saja, semua orang tahu siapa yang sedang diejek oleh pangeran pirang tersebut.


"Siapa yang kamu maksud bocah sombong, dasar kucing liar!"


"Apakah kamu merasa tersinggung, Pangeran Zale? Padahal, aku tidak ingat pernah membicarakan perompak amis yang suka berjemur di atas kapal!"


"Ggrrrrrttt ..."


Zale menggertakkan gigi. Menatap ke arah Aiden dengan tatapan penuh dengan kebencian, dia kemudian berkata.


"Berhenti memuntahkan omong kosong jika kamu benar-benar lelaki, Kucing Liar!"


"Lalu apa yang kamu inginkan, Cacing Laut!?"


Keduanya saling menatap dan berseru bersamaan.


"AYO BERTARUH!!!"


"SIAPAPUN YANG MEMILIKI NILAI LEBIH BURUK, AKUI KALAU DIRINYA BODOH DAN MINTA MAAF!!!"


"..."


Melihat keduanya yang berisik, sudut bibir Reinhart berkedut. Meski tampaknya mengakui bahwa dirinya bodoh dan minta maaf tampak terlalu sederhana, tetapi memiliki arti lebih dalam.


Intinya, sebagai pangeran dan perwakilan kerajaan, daripada membuang uang ... membuang martabat jelas lebih menyakitkan.


Jadi, bertaruh ribuan emas itu tidak sebanding dengan meminta maaf di depan umum!


"KITA LIHAT SAJA NANTI, KUCING LIAR!"


"KAMU SENDIRI YANG AKAN MENYESAL, CACING LAUT!"


Mereka berdua saling menunjuk dan berteriak sambil pergi ke arah berlawanan. Tampaknya langsung pergi menuju ke arah hutan untuk mencari target buruan!


Mungkin terpancing oleh semangat mereka, para bangsawan yang masih begitu naif itu juga mulai menyebar. Mereka tampak bersemangat untuk menunjukkan bahwa mereka itu 'hebat' dan 'pantas', ya ... setidaknya itu yang mereka pikirkan.


Akan tetapi, tidak semua murid begitu naif. Sebagian dari mereka tampaknya juga masih berniat untuk membuat kelompok. Helena, Sophia, dan Caterina menatap ke arah Reinhart.


Melihat mereka bertiga, Reinhart mengangkat bahu dan berkata dengan nada monoton.


"Maaf, aku juga berniat untuk melakukan perjalanan sendiri."


Setelah mengatakan itu, pemuda itu berjalan menuju ke arah Kakek Garvin dan Nenek Olive.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu?"


"Katakan, Nak!" ucap Garvin kasar.


"Dimana habitat Jade Horned Rabbit dan Leop-Salmon, Pak?"


"..."


Garvin tertegun di tempatnya. Sementara itu, Nenek Olive yang sadar lebih awal berkata.


"Jade Horned Rabbit ada di arah timur, di dataran yang lebih luas. Sedangkan Leop-Salmon ada di sungai besar arah barat. Apakah ada sesuatu?"


Mendengar jawaban Nenek Olive, Reinhart mengelus dagu dengan ekspresi serius. Pemuda itu bergumam pelan.


"Arah berlawanan ... tampaknya benar-benar tidak mungkin untuk mendapatkan keduanya."


"..."


Mendengar gumaman Reinhart, Kakek Garvin dan Nenek Olive saling memandang. Mereka diam-diam bertanya dalam hati dengan penuh keraguan.


'Bukankah kamu datang ke sini untuk ujian, Nak? Apa yang kamu tanyakan adalah monster level rendah dengan kualitas daging bagus. Serius ...


Apakah kamu benar-benar datang untuk piknik?'


>> Bersambung.