Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Solusi



"Tidak bisakah kamu berbicara dengan normal? Jangan menyebutkan ucapan ambigu yang membuat orang salah paham!"


Reinhart langsung memarahi Aiden yang tiba-tiba berteriak di tempat umum. Lagipula, bukan hanya mereka yang ada di restoran. Belum lagi, Aiden belum masih ke dalam ruangan pribadi dan tiba-tiba berteriak di sana.


Sadar bahwa banyak orang yang menatap ke arah mereka, Aiden langsung pura-pura batuk.


"Uhuk! Maksudku, ini masalah Helena dan Sophia."


"Oooh ..." ucap Zale dan Leander dengan ekspresi agak kecewa.


Melihat mereka, sudut bibir Reinhart berkedut. Dia kemudian berkata.


"Masuk dan makan dulu. Kita bahas hal itu nanti."


Setelah mengatakan hal itu, Reinhart langsung menyeret Aiden masuk lalu menutup pintu. Mereka kemudian duduk dan makan bersama tanpa mengucap sepatah kata.


Selesai makan hidangan utama dan hanya tersisa camilan dan anggur, mereka semua saling memandang.


Reinhart menuang anggur ke gelas. Tanpa menoleh ke arah Aiden, dia bertanya.


"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"


"Ini soal Helena dan Sophia."


Aiden berkata dengan ekspresi berat.


"Memangnya ada masalah apa dengan mereka?" tanya Reinhart.


"Tunggu! Ini tidak adil! Seharusnya kamu memberikan saran kepadaku terlebih dahulu, Rein!" protes Zale.


"..."


Reinhart terdiam. Sebagai serigala kesepian alias jomblo dalam dua kehidupan, dia benar-benar memiliki nol besar pengalaman dalam menghadapi urusan cinta. Apa yang menjadi buku pedomannya hanya game dan drama yang dia lihat.


Jadi, Reinhart benar-benar merasa tidak nyaman ketika beberapa orang menganggapnya sebagai master of love, sampai-sampai meminta saran soal cinta kepadanya. Mungkin, dia mengalami apa yang disebut pacaran. Namun, pemuda itu masih tidak yakin.


Lagipula, apa yang diminta para pangeran kepadanya adalah saran untuk memilih istri, bukan pacar yang bisa berganti sesuka hati jika memang tidak cocok.


'Budaya yang terlalu kaku juga agak merepotkan.'


Pikir Reinhart ketika bingung harus menjawab apa. Melihat ke arah Aiden dan Zale yang tampak tertekan membuatnya cukup bingung.


"Maaf, aku tidak begitu baik dalam perkara seperti ini. Sama seperti kalian, aku pun juga dijodohkan.


Hanya saja, kebetulan aku mendapatkan pasangan gadis baik dan ramah. Ya, meski masih terlalu muda. Namun, itu cocok untukku yang belum memiliki minat untuk segera menikah."


Mendengar ucapan Reinhart, ketiga pangeran lain terkejut.


"Apa kamu bilang tadi, Rein? Maksudku, kalimat terakhirnya?" tanya Aiden.


"Aku belum berniat untuk menikah?"


Reinhart memiringkan kepalanya. Merasa sedikit bingung, sekaligus merasa tiba-tiba waspada.


"Jadi, kamu tidak akan segera menikah setelah lulus?"


"Benar." Reinhart mengangguk.


"T-Tapi, bukankah kita harus bertunangan di usia 15 tahun sebelum masuk akademi lalu menikah setelah lulus? Segera berkeluarga dan mengambil pekerjaan di kerajaan, bahkan mewarisi tahta?"


"Tentu saja tidak benar. Tidak ada peraturan tertulis tentang kapan kita harus menikah.


Setelah lulus, aku ingin berkelana mengelilingi dunia. Melihat luasnya dunia daripada terjebak di dalam sangkar dengan banyaknya tumpukan kertas yang harus diurus."


Mendengar ucapan Reinhart, mata ketiga pangeran lain tiba-tiba berbinar.


"Ide yang bagus! Daripada buru-buru menikah, kita harus mencari waktu dan pasangan yang pas!" ucap Zale penuh semangat.


"Sebagai rekan, aku tidak mungkin membiarkan kamu pergi ke tempat-tempat berbahaya sendirian, Rein! Aku akan ikut denganmu!" tambah Aiden.


"Benar! Aku muak setiap hari harus belajar ini, belajar itu, lalu disuruh mengerjakan banyak tugas. Petualangan tampak lebih mendebarkan! Jangan tinggalkan aku, aku juga ikut!" Leander berkata dengan ekspresi bahagia.


Melihat ke arah tiga pangeran yang tampak begitu bahagia, Reinhart berkeringat dingin. Jelas, jika para pangeran generasi ini memilih untuk berpetualang dengan gila-gilaan, mereka akan dicap sebagai pemberontak, generasi terburuk dalam sejarah benua!


'Seharusnya aku tidak membicarakan ini!'


Teriak Reinhart dalam hati.


Setelah beberapa saat, Reinhart akhirnya menghela napas panjang. Dia menemukan beberapa ide yang pantas diucapkan.


"Sepertinya ini tidak cocok untuk kalian. Maksudku, daripada kalian pergi menjauh tanpa alasan yang jelas dan buang-buang waktu. Aku memiliki ide yang lebih baik. Aiden?"


"Iya?" balas Aiden dengan ekspresi bingung.


"Di dunia ini, pria memiliki lebih dari satu pasangan dianggap wajar. Jika kamu lihat, banyak Raja dari kerajaan kecil dan menengah memiliki satu istri serta beberapa selir. Jadi, daripada bingung, bagaimana kalau menerima semuanya?"


"Maksudku, Helena, Sophia, dan Caterina adalah sahabat. Daripada membuat hubungan mereka dan keluarga di belakang mereka hancur berantakan, lebih baik menerima semuanya.


Jika mereka menjadi pasanganmu, bukankah hubungan mereka akan baik-baik saja? Dibandingkan dengan ratu dan para selir yang seharusnya saling menusuk, bukankah mereka malah menjadi lebih akrab dan nyaman?"


Mendengar ide gila tetapi tampak sedikit masuk akal dari Reinhart, Aiden tertegun. Otaknya bekerja begitu cepat sebelum akhirnya benar-benar terasa panas sampai menguap.


Meminum segelas anggur dalam sekali tegukan, Aiden kemudian menggebrak meja dengan ekspresi semangat.


"Itu dia! Itu yang aku butuhkan!"


Melihat ke arah Aiden yang bahagia, Reinhart merasa puas. Namun masih mendoakan keselamatan temannya itu dalam hati.


'Rute b-jingan telah dipilih! Semoga ketiga gadis itu tidak memotong tongkat sakti milikmu, Kawanku!'


Setelah mendoakan Aiden, Reinhart kemudian melihat ke arah Zale.


"Zale!"


"Iya?" balas Zale dengan ekspresi bingung.


"Jika kamu berkelana dan Barbara menikah dengan lelaki lain, apakah kamu yakin ayahmu tidak akan mengikat lalu menenggelamkan dirimu di samudera?"


"..."


Membayangkan itu, Zale langsung berkeringat deras. Dia jelas tahu seberapa pentingnya keluarga Duke di belakang Barbara. Tampak putus asa, dia langsung bertanya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?!"


"Pulang dengan membawa gadis yang kamu anggap cantik dan cocok denganmu!"


"Maaf?"


Zale membalas dengan ekspresi tercengang. Baginya, apa yang Reinhart katakan jelas lebih mirip bunuh diri.


"Bawa gadis cantik dan tunjukkan pada Barbara seperti apa wanita cantik itu! Biarkan gadis itu sadar diri kalau penampilannya mengerikan!


Aku yakin, selama memiliki niat, Barbara bisa berubah. Jika tidak memiliki tubuh berlebihan dan menghapus riasan tebal itu, aku yakin dia tampak begitu cantik. Mungkin setara dengan Helena.


Selain membuat dia sadar diri atas penampilannya, kamu harus mendidiknya."


"M-Mendidiknya?"


"Kamu bilang kamu ingin menjadi orang terkuat di generasi ini, kan?! Jika itu benar, maka kamu harus merubah sikap istrimu sendiri terlebih dahulu!


Baru kemudian, kamu bisa merubah orang-orang lain! Membuat mereka percaya padamu! Menjadi pendukung dan sekaligus orang-orang yang bisa kamu andalkan!"


"Itu benar!" Zale menggebrak meja. "Aku, Zale yang perkasa! Tidak mungkin kalah hanya karena seorang wanita!"


Melihat ke arah Zale yang bersemangat, Reinhart merasa lega. Ternyata apa yang dia katakan bukan hanya buang-buang napas. Dia kemudian melihat ke arah pangeran paling merepotkan.


Menggertakkan gigi, Reinhart memeras senyuman di wajahnya sembari memanggil dengan nada halus dan sopan.


"Kak Leander?"


"Eh? Iya?"


Leander membalas dengan ekspresi terkejut. Hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"A-Aku tahu kalau Kak Leander merasa bosan harus berhadapan dengan hal-hal berbau politik. Namun, aku yakin Ayah dan Ibu pasti melakukan ini untuk masa depanmu.


Bukan hanya untuk menjadi pemimpin Kerajaan Lautan Zamrud. Namun, bukankah kamu harus menjadi contoh yang baik untuk Vanessa, Kak Leander?"


Mendengar itu, Leander sudah tersenyum cerah. Dia kemudian menepuk kedua sisi pundak Reinhart dengan wajah bahagia.


"Kamu benar, Adik ipar! Meski membosankan, ini memang tanggung jawab yang harus aku terima. Ayah dan Ibu pasti senang, aku akan menulis ini dalam surat.


Lain kali kamu datang, jangan begitu formal! Panggil aku kakak! Juga, jangan panggil Yang Mulia Raja dan Ratu, tapi Ayah dan Ibu!


Hahahaha! Ini sangat membahagiakan!"


Leander terus menepuk pundak Reinhart sambil tertawa-tawa bahagia.


Hanya saja, Reinhart merasa tepukan ringan Leander itu seperti palu godam. Benar-benar menyakitkan. Bukan secara fisik, tetapi secara mental!


Menjilat orang seperti itu membuat harga diri Reinhart merasa dijatuhkan dan diinjak-injak! Rasanya agak berdarah!


Meski merasa tidak sabar dan ingin memukul calon kakak iparnya itu, Reinhart masih memasang senyum sambil berpikir.


'Dengan ini, paling tidak ... skenario terburuk tidak akan terjadi, kan?'


>> Bersambung.