Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Bicara Soal Etika



"Benar-benar tidak nyaman ..."


Aiden yang mengikuti Reinhart dan Devy menghela napas. Bukan hanya dia, tapi Helena yang berada di belakangnya juga setuju.


Agar tidak ditemukan oleh pasukan patroli Kelompok Emerald Spider, mereka harus memilih jalan memutar. Mereka berjalan melalui beberapa jalan yang sangat kotor, bahkan harus melewati tempat pembuangan sampah dengan bau menjijikkan. Aiden dan Helena benar-benar mual dan menahan diri agar tidak muntah.


Sementara itu, Reinhart sendiri tampak tenang karena ...


Dia memakai masker kain yang telah dia siapkan sebelumnya!


Bahkan dengan masker, terkadang pemuda itu masih menggerutu kening. Hanya Devy yang bertahan tanpa mengatakan apa-apa, seolah aroma mengerikan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.


Setelah beberapa waktu, mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan luas dua lantai. Meski tidak tampak mewah, tetapi itu adalah bangunan paling besar di antara bangunan-bangunan lain di sekitarnya.


Sebagai bangunan berlantai dua sebagai pusatnya, ada beberapa rumah yang tampak terang. Semua itu adalah bagian yang termasuk ke dalam markas Emerald Spider.


Melihat bangunan-bangunan cerah di depan mata mereka, Aiden dan Helena tampak lega. Sementara itu, ekspresi Reinhart menjadi lebih serius.


"Kita sudah sampai di sini. Lalu, kita akan membagi tugas. Seperti yang ditunjukkan oleh Devy, Aiden akan pergi untuk membuat beberapa keributan. Helena, kamu pergi bersama dengan Devy untuk menyelamatkan adiknya."


"Lalu, apa yang kamu lakukan, Rein?"


Mendengar pertanyaan Aiden, Reinhart menoleh.


"Aku akan menyelinap ke tempat pemimpinnya, dan menghabisinya."


"Hah???"


Aiden dan Helena, bahkan Devy juga terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Reinhart yang biasanya tenang akan bersikap begitu sembrono.


Benar-benar berniat melawan Bos Emerald Spider sendirian!


"Kamu tidak berniat bercanda kan, Rein? Jika sampai terjadi kecelakaan—"


"Karena aku memilih melakukannya sendiri, tentu aku telah memiliki rencana."


"Bagaimana kalau rencana itu gagal?!"


"Lalu gunakan rencana B."


"Jika rencana B gagal?!"


"..."


Reinhart melirik Aiden yang khawatir. Meski sebenarnya khawatir adalah hal yang baik, tetapi entah kenapa pemuda itu merasa kalau temannya itu sedang mengutuk agar rencana-rencana yang dia buat gagal! Benar-benar membuat kesal!


Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu akhirnya melanjutkan.


"Bahkan jika semua rencana yang aku siapkan gagal, aku akan melarikan diri dengan selamat, okay?!"


"Baiklah."


Aiden mengangguk dengan ekspresi berat.


Reinhart menatap ke arah Helena dan Devy. Tidak mengubah ekspresinya, pemuda itu berkata dengan nada lebih lembut.


"Aku akan baik-baik saja, jadi kalian bertiga juga harus baik-baik saja. Mengerti?"


Mengalihkan pandangannya ke arah markas Emerald Spider, Reinhart kemudian berkata.


"Kalau begitu ... misi dimulai!"


***


Satu jam kemudian.


Di sebuah ruang luas dalam markas Emerald Spider. Tampak sosok lelaki paruh baya botak dengan tubuh penuh dengan otot. Dia hanya mengenakan celana panjang, memamerkan otot bagian atas tubuhnya.


Pria itu memiliki kulit cokelat tembaga, wajah persegi dengan sepasang iris hijau cerah. Di sisi kiri kepala, tampak tato laba-laba sampai belakang kepalanya. Tampak aneh, tetapi simbol itu juga alasan kenapa dia dijuluki sebagai Emerald Spider.


"Biarkan saya menuangkan anggur untuk anda, Bos."


Emerald Spider duduk di sofa kulit panjang, di kanan dan kirinya tampak dua wanita cantik dengan pakaian yang nyaris tidak menutupi bagian-bagian penting tubuhnya.


Salah satu wanita itu tampak centil, menggoda Emerald dengan senyum di wajahnya.


Bagi para wanita yang tidak lagi memiliki harapan untuk keluar dari Kelompok Emerald Spider, mereka lebih memilih untuk bersikap patuh. Mereka mencoba untuk menggoda dan menarik perhatian atasan agar hidup mereka lebih baik.


Jika beruntung, tidak hanya bisa makan enak dan mengenakan pakaian lebih baik, mereka juga akan mendapat status tertentu dalam kelompok tersebut. Ya ... Lebih banyak daripada para wanita yang diperlakukan seperti barang, digunakan atau dijual begitu saja tanpa mementingkan perasaan mereka.


"Hahaha! Bagus!"


Emerald Spider tertawa bahagia. Dia tanpa ragu memeluk pinggang kedua wanita tersebut, bahkan menjelajahi beberapa tempat dengan tangannya. Membuat kedua wanita menahan suara mereka.


Pria itu tertawa sebelum akhirnya meminum anggur dalam cawan. Namun ketika meminum satu tegukan, ekspresinya tiba-tiba berubah.


"SIAPA!!!"


Emerald Spider berdiri. Dia langsung menampar kedua wanita itu dengan kejam, membuat mereka berdua jatuh ke lantai dengan memar di wajah mereka.


Tap ... Tap ... Tap ...


Suara langkah kaki samar terdengar. Beberapa saat kemudian, sosok lelaki berjubah hitam masuk ke dalam ruangan sambil memegang pedang.


Memegang pedang penuh dengan darah yang menetes ke lantai.


"Ya ... jangan salahkan mereka, karena mereka sama sekali tidak tahu apa-apa. Meski bukan racun tingkat tinggi, aku tidak menyangka kamu bisa mengetahuinya dengan mudah.


Tidak buruk juga."


"Siapa kamu? Untuk siapa kamu bekerja? Berani-beraninya kamu menggunakan cara licik seperti menggunakan racun! Dasar pengecut!"


"Hmmm ..."


Sosok berjubah hitam dan mengenakan topeng itu mengelus dagu dengan tangan kirinya. Dia kemudian menatap ke arah Emerald Spider sebelumnya berkata.


"Berhadapan dengan pencuri, pembunuh, penjual budak, dan orang semacam dirimu ..."


Lelaki itu memiringkan kepalanya.


"Haruskah aku masih berbicara soal etika?"


>> Bersambung.