
Reinhart menghela napas pendek. Menatap ke arah tiga gadis itu, dia kemudian berkata dengan suara monoton.
"Delia, May, Hilda ... Apakah kalian pikir ujian ini hanya permainan atau acara piknik?"
Delia adalah gadis pendek dengan tubuh normal, tidak begitu menonjol tetapi masih memiliki apa yang harusnya para perempuan miliki. Kulitnya berwarna putih pucat, memiliki rambut cokelat sebahu, dan mata berwarna biru.
May adalah gadis yang tampak ramah. Gadis itu sedikit lebih tinggi daripada Delia. Tubuhnya juga lebih menonjol, tetapi dalam kisaran wajar. Dia memiliki rambut hitam lurus, kulitnya putih, dan matanya berwarna biru.
Sedangkan ketika melihat Hilda, kata 'gyaru/gal' mungkin bisa menggambarkan penampilannya. Kulit kecoklatan, rambut pirang, iris mata hazelnut ... penampilan aslinya sama sekali tidak berbeda dengan 'gyaru/gal' yang Reinhart ingat. Belum lagi, tubuhnya bisa dibilang 'menonjol' untuk gadis seusianya. Tidak kalah dengan para wanita dewasa!
Apa yang membuat Reinhart sedikit memperhatikan Hilda bukan hanya penampilannya yang menonjol, tetapi juga fisiknya yang cukup terlatih. Sedikit mirip dengan Isana versi lebih muda. Meski menonjol, tetapi tubuhnya cukup padat dan terlatih dengan baik!
Nama-nama junior ini, Reinhart jelas telah melihatnya dalam kertas misi. Hanya saja, ada sebuah masalah yang membuat pemuda itu merasa sakit kepala.
Mereka bertiga adalah bangsawan dari Kerajaan Rembulan Perak!
Delia, May, Hilda ... putri dari Count, Viscount, dan Viscount. Mungkin bukan bangsawan tingkat tinggi seperti Marquis atau Duke, tetapi sikap kepala sekolah yang begitu disengaja membuatnya merasa lelah!
"Anda mengenal kami, Pangeran Reinhart?!"
Delia tampak terkejut. Bukan hanya dia, dua gadis lain juga begitu terkejut. Sama sekali tidak menyangka kalau sosok Pangeran Reinhart yang terkenal mengenali mereka.
"Kalian fokus pada hal yang salah.
Tentu saja, sebagai pengawas, aku mengenal kalian semua. Oleh karena itu, sebaiknya kalian menjadi lebih serius.
Jika kalian main-main dan memiliki kinerja buruk, aku tidak akan segan untuk memberi nilai buruk. Jangan pikir aku akan bersikap lunak hanya karena mengenal kalian, atau karena kalian berasal dari Kerajaan Rembulan Perak.
Aku memperlakukan kalian dengan cara sama! Menilai kalian sebagai siswi Akademi Cahaya Bintang!"
Melihat mereka masih terpana, Reinhart kembali berkata.
"Pergi ke ruang ganti lalu ubah dengan pakaian tempur, sekarang!"
"B-Baik!"
Ketiganya menjawab bersamaan dengan nada gugup. Mereka kemudian segera pergi ke ruang ganti.
Diam-diam Reinhart bersyukur karena memilih untuk mengumpulkan para junior di akademi sebelum berangkat. Jika ada di jalan, hal itu benar-benar merepotkan!
Reinhart kemudian melirik ke arah Maria.
"Kamu juga ganti dengan pakaian tempur, Maria."
"B-Baik!" balas gadis itu dengan canggung.
Setelah menunggu hampir setengah jam, keempat junior itu kembali. Melihat penampilan mereka, Reinhart mengerutkan keningnya.
Mereka memang memakai pakaian tempur, tetapi masih terlihat cukup mencolok. Kata 'bangsawan' tergambar jelas dari penampilan ketiga gadis. Sedangkan Maria, gadis itu memakai seragam praktik tempur akademi. Tampak mencolok meski sederhana.
Delia dan May melirik ke arah Maria dengan ekspresi tidak puas di wajah mereka, bahkan memiliki sedikit ejekan di wajah mereka. Hilda hanya sedikit mengerutkan kening, tetapi tampak tidak begitu peduli.
Maria jelas merasa malu. Tidak hanya malu, dia juga merasa canggung karena penampilannya terlalu berbeda dengan rekan-rekannya. Belum lagi, dia membawa tas dan koper besar.
"Delia, May, Hilda ... kalian memiliki kantong dimensi?" tanya Reinhart heran, tidak menyangka kalau para gadis bangsawan saat ini begitu kaya.
"Saya menitipkan barang bawaan saya kepada Delia, Pangeran Reinhart." May berkata dengan senyum di wajahnya.
"Saya membawa kantong dimensi sendiri, Pangeran Reinhart," jawab Hilda sopan.
"Apakah ada dari kalian yang bisa membawakan barang Maria?" tanya Reinhart.
Mendengar pertanyaan pemuda itu, suasana tiba-tiba menjadi lebih canggung.
Setelah sedikit ragu, Hilda mengangkat tangannya lalu menjelaskan.
"Mohon maaf, Pangeran Reinhart. Tas dimensi saya hanya berukuran satu meter kubik dan sudah terisi penuh. Saya tidak bisa membawakan barang Maria."
"Tidak apa-apa," ucap Reinhart.
"Tidak apa-apa," ulang Reinhart.
Pemuda itu melirik ke kantong dimensi milik mereka berdua. Milik Hilda tampak lebih sederhana sementara milik Delia tampak indah, tetapi dalam sekali lihat, Reinhart tahu kalau keduanya sama-sama kantong dimensi tingkat rendah.
Satu meter kubik, empat meter kubik ...
Reinhart sebenarnya tahu kalau Delia enggan membawakan barang Maria, tetapi dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan gengsi para bangsawan atau semacamnya.
Reinhart kemudian menghampiri Maria lalu berkata, "Aku akan membawakan tas dan kopermu. Letakkan saja."
"Eh???" Maria tampak terkejut.
"Apakah aku harus mengulanginya?"
"T-Tidak perlu, Pangeran Reinhart."
Maria merasa agak tidak nyaman. Belum lagi ketika tiga pasang mata menatapnya dengan rasa iri dan benci.
"Letakkan saja. Ini perintah!
Tas dan kopermu itu hanya akan mengganggu pergerakan dalam perjalanan. Benda itu juga terlalu mencolok dan menarik perhatian."
Mendengar ucapan Reinhart, Maria akhirnya menyerah. Dia kemudian melepaskan tas miliknya dan menaruhnya di bawah bersama kopernya.
Reinhart langsung memasukkan keduanya ke dalam tas dimensi miliknya. Karena ruangnya sangat luas, dia sama sekali tidak begitu peduli dengan hal sepele semacam itu.
Mengabaikan ekspresi malu di wajah Maria, Reinhart bertanya, "Kalian semua membawa jubah, kan? Pakai saja kemudian kita akan berangkat."
"Baik!" jawab tiga gadis bersamaan.
Saat itu, Reinhart melihat ke arah Maria yang menunduk malu. Mengingat kalau koper dan tas berada dalam kantong dimensi miliknya, pemuda itu menghela napas panjang. Tidak ingin repot-repot mengambil tas atau koper lalu membongkarnya, Reinhart mengeluarkan jubah hitam mirip yang dia pakai dari dalam kantong dimensi.
"Gunakan saja ini. Terlalu merepotkan untuk membongkar tas atau koper."
Maria menerima jubah itu dengan ekspresi malu. Dia kemudian membungkuk sopan.
"Terima kasih, Pangeran Reinhart."
"Sama-sama."
Reinhart mengangguk. Setelah itu, dia kembali berkata.
"Kalau begitu, kita berangkat!"
Bersamaan dengan ucapan Reinhart, mereka berlima pun akhirnya berangkat untuk menjalankan tugas.
Untuk mencapai kota besar tempat mereka akan menyewa atau membeli kereta kuda, perlu waktu dua hari.
Dua hari ini berlalu dengan lancar karena mereka naik kereta dan menginap di penginapan. Namun, semuanya berubah di hari ke tiga.
Setelah Reinhart membeli kereta kuda lalu membawa empat juniornya pergi menuju ke tujuan mereka, kekhawatirannya akhirnya terjadi.
Pertama, Delia dan May buruk dalam mendirikan tenda.
Ke dua, Delia, May, dan Hilda buruk dalam memasak.
Ke tiga, empat gadis itu cukup ceroboh di alam liar. Sama sekali tidak berhati-hati!
Ke empat ...
Memikirkan banyak kesalahan yang mereka perbuat, Reinhart menggelengkan kepalanya. Dia merasa kalau para gadis itu sangat tidak bisa diandalkan.
'Sungguh ... Apakah mereka masih mengharapkan nilai bagus?'
>> Bersambung.