Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Masa Lalu Reinhart!



"Apakah kamu sudah gila?!"


Mendengar pertanyaan itu, Reinhart memiringkan kepalanya. Mengganti ekspresi mengerikan di wajahnya dengan senyum ramah, pemuda itu berkata.


"Tentu saja tidak! Tenang saja, banyak yang bilang kalau aku ahli membidik. Lightning magic ..."


Lingkaran sihir raksasa di belakang Reinhart menjadi semakin terang.


"Thousand Lightning Sparrows!"


Bersamaan dengan ucapan Reinhart, beberapa lightning sparrow ditembakkan dari lingkaran sihir seperti peluru.


Ya ... tidak langsung melepaskan mereka semua bersamaan.


Sebaliknya, Reinhart benar-benar menggunakannya seperti senapan. Langsung membidik satu per satu musuhnya.


Untuk beberapa prajurit atau penyihir tingkat rendah. Mereka langsung ditabrak oleh lightning sparrow sebelum mereka merespon. Beberapa dari mereka langsung meninggal, sementara yang lainnya hidup. Namun mereka menderita parah karena kaki atau tangan mereka diledakkan!


Melihat pemandangan kejam seperti itu, Reinhart sama sekali tidak memiliki rasa kasihan. Meski sebenarnya agak pengecut, pemuda itu masih memegang prinsip.


Mata ganti mata, gigi ganti gigi!


Karena lawan-lawannya mencoba menyakiti dirinya, Reinhart tidak akan segan untuk membalasnya dengan cara lebih kejam.


Hanya saja, pemuda itu merasa bingung ketika melihat satu per satu nyawa orang direnggut oleh sihirnya. Daripada takut atau jijik, entah bagaimana ... dia malah merasa sangat tenang.


Anehnya ... dalam lubuk hatinya, pemuda itu merasa sangat nyaman.


Setelah sihir itu berhenti dan Reinhart melihat pemandangan mengerikan di depannya, tubuhnya tiba-tiba gemetar. Beberapa kenangan buruk terlintas dalam benaknya. Dia mundur beberapa langkah.


Melihat ke arah kedua tangannya, Reinhart terbayang-bayang bahwa kedua tangannya berlumuran darah. Padahal, kedua tangannya sangat bersih. Bahkan serangan musuh tidak menggores sudut pakaiannya!


Melihat sosok Goerge serta ksatria dan penyihir tingkat 3 yang masih selamat, niat membunuh kuat muncul dari dalam diri Reinhart.


"Beraninya kalian ..."


Elemen petir menyelimuti seluruh tubuh Reinhart sekaligus senjata di tangannya.


"Beraninya kalian membuatku mengenang kenangan busuk itu!!!"


Sosok Reinhart menghilang dari tempatnya.


Pada saat muncul, pemuda itu sudah melompat di atas salah satu ksatria. Pria itu langsung mengangkat pedangnya secara horizontal untuk menahan serangan. Namun ...


Crack!!!


Suara pedang patah langsung mengejutkan pria itu. Dia segera melompat mundur, tetapi masih mendapatkan sebuah luka tebasan di pundaknya.


Reinhart sendiri melompat mundur. Ketika mendarat, dia sedikit terhuyung karena tidak mengendalikan kekuatannya dengan baik.


"Apakah kamu baik-baik saja, Rein?!"


Suara itu langsung mengejutkan Reinhart. Dia tidak menyangka sosok Leander tiba-tiba muncul disusul dengan munculnya para ksatria.


Melihat para ksatria, George mendecak tak puas sebelum berteriak.


"Segera mundur!!!"


Mendengar ucapan George, beberapa orang yang tersisa langsung lari menyebar.


"Apakah kalian pikir kalian—"


Belum selesai mengucapkan perkataannya, Leander terkejut ketika melihat sosok Reinhart yang tiba-tiba jatuh berlutut lalu muntah.


Menggertakkan gigi, Leander langsung memberikan perintah.


"KEJAR MEREKA!!!"


Setelah mengatakan itu, Leander segera bergegas ke arah Reinhart.


"Apakah kamu tidak apa-apa, Rein?!"


"Jangan membuatku takut, Rein!"


"Hey!!!"


Jatuh berlutut, kesadaran Reinhart tiba-tiba mulai memudar.


Membuka matanya, pemuda itu terkejut ketika melihat dirinya berdiri menghadap seorang wanita, berteriak dengan bahasa yang tidak dikenalnya. Di belakang wanita itu, tampak seorang anak lelaki kecil ... kira-kira masih berusia empat atau lima tahun.


'Tidak! Jangan lakukan itu! Aku bilang tidak!!!'


Reinhart terus berteriak pada dirinya sendiri, tetapi tangannya terus bergerak. Pemuda itu menarik pelatuk dan saat itu juga, bunga merah mekar ketika sosok wanita tersebut jatuh ke lantai bersimbah darah.


Pada saat itu, Reinhart membuang senapan di tangannya dan mengambil sebuah belati militer. Dia berjalan ke depan dan meraih pundak bocah kecil itu, lalu ...


"TIDAK!!!"


Reinhart tiba-tiba bangkit dan duduk di ranjang. Menyadari bahwa semuanya hanyalah mimpi buruk, ekspresi pemuda itu tampak sangat pucat.


"Aku sudah melupakannya begitu lama. Kenapa mimpi itu lagi?"


Reinhart bergumam pelan dengan ekspresi tertekan.


"Apakah ... aku benar-benar tidak layak untuk hidup damai?"


Bertanya kepada dirinya sendiri, Reinhart tampak begitu tertekan.


Di kehidupan sebelumnya, Reinhart adalah pemuda yang sangat berbakat. Dia lahir di keluarga yang cukup kaya.


Reinhart selalu memiliki prestasi yang baik dalam sekolah. Namun impiannya adalah menjadi tentara dan dia mengejar impian itu.


Singkat cerita, setelah belajar belasan tahun dengan sempurna, Reinhart menjadi tentara nyata. Dia sangat bangga pada prestasinya sendiri. Hanya saja, semuanya berubah ketika dia pergi ke medan perang yang sebenarnya.


Ketika berangkat, Reinhart yakin bahwa puluhan ribu tentara yang datang pasti memiliki tujuan benar!


Dia awalnya ragu, tetapi akhirnya membunuh karena takut dibunuh. Meyakinkan dan membohongi dirinya sendiri bahwa semua ini demi kebaikan, pemuda itu terus maju.


Bertempur demi kehormatan!


Bertempur demi kehidupanmu sendiri!


Semua omong kosong itu dijejalkan dalam kepalanya. Setiap hari, dia akan melihat saudara-saudara baru yang datang dan sebagian besar dari mereka akan tinggal di tanah itu selamanya (mati).


Hanya saja, keyakinan Reinhart runtuh sepenuhnya ketika dia mendapatkan misi untuk membunuh semua warga yang tersisa. Pemuda itu ingat dengan jelas ketika dia membunuh seorang ibu di depan putranya. Dia juga membunuh seorang bocah yang bahkan tidak mengerti apa-apa.


Setelah kepulangannya, Reinhart langsung memilih untuk pensiun (mengundurkan diri).


Tentu saja, banyak yang menghina dan mengejeknya karena hal tersebut. Hanya saja, Reinhart tidak peduli.


Setelah kembali, Reinhart awalnya bingung dan depresi. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang perlu dia lakukan untuk menghilangkan semuanya. Pada akhirnya, seorang teman menyarankan dia untuk bermain game.


Mulai saat itu, Reinhart mulai kecanduan bermain game. Selain untuk menghibur diri, dia juga memainkan game online untuk membuang waktu dan mencoba menghilangkan semua pikiran yang menggangu.


Bermodalkan wajah tampan, cerdas, dan skill yang baik ... Reinhart memulai live streaming.


Daripada memilih untuk melakukan usaha atau bekerja di perusahaan, pemuda tersebut memilih untuk hidup sambil bersenang-senang. Siapa sangka, dia bisa hidup sukses karena hobinya.


Reinhart mulai sering memainkan dan mereview banyak game. Dengan dukungan para penggemar, khususnya para gadis yang suka dirinya karena tampang dan suaranya, pemuda tersebut bisa terus maju.


Dia mulai melupakan semuanya karena game, tertawa secara palsu dan melupakan siapa dirinya yang sebenarnya.


Begitulah cerita kehidupan pecundang menyedihkan.


Memikirkan kehidupan sebelumnya, Reinhart merasa sangat tertekan. Setidaknya, di kehidupan ini, dia ingin santai dan menikmati semuanya dengan tenang. Hanya saja, dia tidak tahu mengapa, semenjak datang ke Kerajaan Lautan Zamrud, ada saja kejadian aneh yang menimpanya.


Jika hanya itu, Reinhart tidak akan merasakan terlalu banyak tekanan.


Akan tetapi, dia merasa, entah bagaimana semua lelucon ini menuntunnya ke sebuah tujuan yang dia sendiri tidak ketahui.


Memikirkan semua itu, Reinhart menghela napas panjang. Tangannya mengepal erat ketika dia berpikir.


'Karena aku sudah selamat dari darah iblis yang seharusnya membunuhku. Tampaknya aku harus memiliki tujuan baru ...'


'Menyelidiki alasan kenapa semua ini bisa terjadi kepadaku!'


>> Bersambung.