Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Penjahat Yang Sebenarnya



"Apakah kamu yakin kalau tidak ada siswi beasiswa baru yang mencolok, Aiden?"


Reinhart masih memastikan. Meksi dia tahu kalau Aiden biasanya tidak ketinggalan informasi (gosip) semacam itu, tetapi dia memiliki keraguan. Lagipula, sihir cahaya itu sangat langka dan mencolok. Pasti menjadi sorotan seperti seekor phoenix di sekitar para ayam!


"Memang tidak ada gadis semacam itu, Rein. Dari mana kamu mendapatkan informasi yang begitu acak? Terus ... kenapa kamu terlihat cukup terobsesi dengan siswi semacam itu?"


"Itu bukan urusanmu." Reinhart berkata tak acuh.


"Hmmm ... tampaknya kamu memiliki ketertarikan dengan sesuatu yang langka."


"Tidak juga."


"Omong-omong, aku juga berhasil menaklukkan Manticore. Sama sekali tidak akan kalah dengan Naberius, hewan peliharaanmu itu."


"Manticore?"


Reinhart mengangkat sudut alisnya. Dia kemudian membayangkan sosok singa hitam dengan ekor kalajengking dan sayap seperti kelelawar di punggungnya. Penampilannya tampak garang, cukup kontras jika dibandingkan dengan Hachiko miliknya.


"Manticore sangat ganas. Mendapatkan anakan di alam liar jelas mustahil, khususnya bagi orang sembrono sepertimu. Jika aku tidak salah menebak, kamu pasti memohon kepada ibumu sambil menangis sehingga akhirnya beliau meminta kepada ayahmu. Setelah perjuangan keras dalam mencari, akhirnya hadiah jatuh ke tanganmu~"


"T-Tentu saja tidak seperti itu!" ucap Aiden dengan ekspresi gugup.


",,,"


Melihat ke arah sahabatnya, Reinhart mengangguk. Jelas, dia telah mengkonfirmasi bahwa tebakannya benar. Namun pemuda itu merasa agak bingung dan heran. Lagipula, seharusnya peliharaan (yang nantinya menjadi tunggangan) milik Aiden adalah singa merah dengan elemen api. Surai dan keempat pergelangan kaki bisa mengeluarkan kobaran api. Tampak cukup garang, tetapi juga elegan.


'Sejak kapan Aiden memiliki hobi memilih binatang peliharaan yang jahat dan agak gelap (suram) seperti itu?'


Saat itu, suara Aiden kembali terdengar.


"Sayang sekali aku tidak bisa membawanya. Makhluk itu terlalu liar dan ganas. Aku sudah empat kali disengat, dan belasan kali terkena gigitan atau cakarnya. Sungguh ... merawat makhluk semacam itu tidak mudah, kan?"


'Apakah itu sesuatu yang harus kamu pamerkan? Maksudku ... kamu diracuni lebih dari dua puluh kali dalam tiga bulan bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, kan?'


Reinhart bertanya-tanya apakah kepala sahabatnya baik-baik saja. Dia merasa kalau otaknya mungkin menjadi lebih buruk setelah diracuni berkali-kali. Jelas menjadi semakin tidak peka!


Pada akhirnya, Reinhart mengabaikan Aiden yang terus berbisik di dekatnya. Dia juga mengabaikan Professor Elin yang menjelaskan persoalan kelas tambahan atau semacamnya.


Setelah hampir satu jam berlalu, penjelasan akhirnya selesai. Professor Elin kemudian memberi pengumuman.


"Tidak akan ada pelajaran untuk tiga hari ke depan. Saat ini kalian dipersilahkan untuk membiasakan diri dengan lingkungan akademi lagi. Melepas rasa malas setelah libur panjang musim dingin."


Mendengar kalimat terakhir Professor Elin, Reinhart ingin memukul meja di depannya sampai hancur berkeping-keping.


'Siapa yang bermalas-malasan saat liburan! Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk bersantai!'


Reinhart mengeluh dalam hati sambil menahan rasa frustrasi.


***


Siang harinya.


"Mau ke mana, Rein?"


"Tutup mulutmu lalu pergi makan siang dengan kekasihmu. Jangan ikut campur urusanku."


Setelah berkata dengan dingin, Reinhart langsung keluar dari kelas. Dia pergi menuju ke area kelas satu berada. Tampaknya ingin memastikan sesuatu.


Sampai di sana, banyak orang menatapnya dengan kagum sekaligus takut.


"Lihat, itu Pangeran Reinhart."


"Aku dengar dia menjuarai turnamen antar akademi pada tahun ajaran sebelumnya."


"Bukan hanya itu. Aku dengan Pangeran Reinhart juga memiliki nilai terbaik di antara rekan satu angkatan dengannya."


"Wow! Apa yang dilakukan Pangeran Reinhart di sini?"


"Tidak tahu!"


"Mungkinkah dia ingin mencari junior dari Kerajaan Rembulan Perak?"


"Maksudmu dua orang itu? Nomor satu dan dua?"


Siswa-siswi kelas satu saling berbisik. Tampaknya benar-benar penasaran kenapa Reinhart datang ke tempat itu.


Reinhart sendiri tidak peduli. Sebaliknya, dia melewati banyak kelas untuk melihat apakah gadis itu ada di kelas. Namun setelah mencari tetapi tidak bertemu, pemuda itu akhirnya memilih untuk pergi ke beberapa tempat biasanya gadis itu berada (di dalam game).


Usai memeriksa satu demi satu tempat, ekspresi Reinhart menjadi suram.


"Gadis itu ... benar-benar tidak ada!"


Dengan ekspresi muram, Reinhart memilih untuk pulang karena tidak ingin tinggal di sekolah lebih lama. Benar-benar ingin bersantai untuk melupakan segala kekacauan.


Saat melewati gerbang, Reinhart melihat banyak anak kelas satu berkumpul. Tampaknya sedang asyik menonton pertunjukan. Pemuda itu awalnya tidak berniat untuk peduli. Namun ketika mendengar nama akrab disebut, ekspresinya berubah.


"Sudah aku bilang, Maria. Tidak peduli berapa kali kamu mencoba, orang biasa sepertimu tidak bisa masuk ke Akademi Cahaya Bintang.


Aku tidak ingin lagi membujukmu. Jadi biarkan aku memberimu kesempatan terakhir. Jadilah selirku. Menjadi selir seorang Viscount adalah sebuah kehormatan bagi rakyat biasa seperti kalian. Selama kamu mau menjadi selirku, bukan tidak mungkin untuk belajar sihir. Aku akan mengajarimu ketika kembali ke rumah.


Bagaimana? Ini adalah kesempatan terakhir. Jika kamu melewatkannya, kamu mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan semacam ini. Bahkan ..."


Suara itu tidak meneruskan ucapannya. Namun dari nada suaranya, dia jelas mengancam.


Memiliki ekspresi suram di wajahnya, Reinhart menerobos masuk kerumunan. Banyak siswa tampak tidak puas, tetapi mereka terdiam ketika melihat kalau orang yang lewat adalah dirinya.


Setelah melewati kerumunan siswa yang menonton kesenangan, Reinhart melihat sosok yang tidak asing. Gadis cantik dengan pakaian sederhana tetapi rapi, heroine dalam game ini, Maria.


Reinhart kemudian melihat sosok di sisi lain. Dia adalah sosok lelaki bulat dengan wajah penuh jerawat. Rambutnya tampak seperti batok kelapa. Dua giginya maju ke depan, benar-benar bukan sosok yang pantas disebut sebagai bangsawan. Dua sosok kekar dengan penampilan ksatria paruh baya berdiri di belakangnya.


'Berani-beraninya celengan piggy semacam ini menghentikan heroine masuk ke akademi! Jika Maria tidak bisa menjadi penyihir cahaya, siapa yang akan menahan langit runtuh (bencana besar) pada akhirnya?


Keroco macam mereka? Jangan bercanda!'


Maju ke depan dengan ekspresi dingin, Reinhart berkata, "Tampaknya kamu memiliki nyali besar untuk membuat keributan di depan gerbang akademi, Celengan Piggy!"


"Siapa yang berani memanggilku dengan cara seperti itu!"


Bob berteriak marah. Dia adalah bangsawan dari Kerajaan Bintang tempat akademi berada. Banyak bangsawan dari kerajaan lain tidak berani main-main dengannya karena dia adalah pewaris utama. Mereka juga tidak ingin mendapatkan masalah ketika belajar di kerajaan ini.


Pemuda itu menoleh, tetapi langsung menghirup udara dingin ketika melihat lelaki yang berjalan ke arahnya.


'K-Kenapa The Sleeping Lightning Dragon muncul di tempat semacam ini!!!'


Bob merasa takut. Meski dia adalah bangsawan setempat, tetapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan salah satu pangeran dari kerajaan besar. Bahkan keluarga Kerajaan Bintang tidak mau main-main dengan mereka!


"P-Pangeran Reinhart!"


"Berani-beraninya kamu membuat masalah di depan gerbang dan merusak reputasi Akademi Cahaya Bintang yang mulia!


Jika sampai warga kota melihat ini, apa yang akan terjadi? Mereka akan berpikir kalau akademi ini hanya membesarkan para bangsawan manja yang tidak berguna dan suka menindas rakyat biasa!


Kalian semua adalah bangsawan mulia. Apakah begitu asyik menonton pertunjukan semacam ini? Lebih baik baca buku kalian dan biasakan diri di sekolah agar tidak tersingkir pada ujian kenaikan kelas."


Mendengar ucapan Reinhart, semua orang menunduk malu. Mereka sama sekali tidak berani membalas. Selain takut dengan identitas Reinhart, mereka juga takut dipukuli.


"Aku tidak akan mengatakannya dua kali. Sekarang ... BUBAR!!!"


"Terima kasih atas pelajarannya, Senior!" ucap mereka serempak sambil membungkuk.


Setelah memberi hormat sebagai junior sekaligus bangsawan mulia. Mereka segera bubar, kembali ke akademi secepat mungkin untuk menghindari pemuda itu.


Reinhart melirik ke arah Maria yang menatapnya dengan ekspresi terpana. Dia menggeleng ringan. Mengingat baik-baik, plot semacam ini seharusnya terjadi di akhir musim dingin. Saat kemunculan Selena yang akhirnya menerima Maria sebagai muridnya.


'SEBENARNYA APA YANG DIPIKIRKAN GURU SEHINGGA SEMUA MENJADI KACAU? BUKANKAH SEHARUSNYA DIA YANG MENGURUS CALON PENYIHIR SUCI INI?


B-JINGAN MANA YANG MENGACAUKAN SEMUA INI?! BENAR-BENAR HAMPIR MEMBUAT DUNIA MENDERITA!'


Setelah beberapa detik mengeluh dalam hati, ekspresi Reinhart menjadi khidmat. Mengingat dengan jelas, Selena Novafrost jelas sibuk 'mengasuhnya' di musim dingin. Memiliki ekspresi rumit di wajahnya, pemuda itu berpikir.


'Ah ... ternyata b-jingan itu diriku sendiri.'


>> Bersambung.