
"Karena kamu telah selesai makan, kamu boleh pergi."
Melihat ke arah Renald yang tampak puas setelah makan, Reinhart berkata dengan nada tak acuh.
Renald tampak terkejut ketika mendengar Reinhart berbicara begitu dingin. Tampaknya, gelar Viscount Blackwoods sama sekali tidak berpengaruh. Meski masih berada di Kerajaan Rembulan Perak, bangsawan kecil seperti itu jelas kurang diperhatikan oleh keluarga kerajaan.
"Tolong izinkan saya untuk mengikuti anda, Yang Mulia Pangeran."
Renald membuang harga dirinya. Pemuda itu berlutut, memohon kepada Reinhart dengan hormat. Lagipula, jika berhasil ... Keluarga Blackwoods akan menerima banyak manfaat.
"Aku tidak suka membawa beban," ucap Reinhart tegas. Sama sekali tidak peduli menyinggung atau menyakiti hati orang lain.
"S–Saya bisa membantu anda melakukan banyak hal, Yang Mulia Pangeran. Meski tidak begitu hebat, saya bisa menyelesaikan hal-hal sepele yang tidak perlu anda lakukan secara pribadi."
"..."
Reinhart menatap ke arah Renald dengan ekspresi dingin. Matanya menyempit, seolah sedang mencari sesuatu dengan teliti. Setelah beberapa saat, pemuda itu akhirnya membuka mulut.
"Monster yang harus diburu ... kamu melakukannya sendiri dan jangan bergantung kepadaku."
Mendengar bahwa Reinhart tidak lagi menolaknya, Renald merasa senang dan buru-buru menjawab.
"Saya mengerti, Yang Mulia Pangeran!"
"Kalau begitu, tugas pertamamu ..."
Reinhart menunjuk ke arah peralatan kotor lalu melanjutkan.
"Cuci dan kemasi barang-barang itu."
"Baik, Yang Mulia Pangeran!"
"Jangan panggil aku dengan sebutan yang begitu formal, panggil saja namaku."
"Tidak bisa, Yang Mulia Pangeran. Memanggil dengan cara seperti itu sama sekali tidak sopan."
"Kalau begitu panggil saja Pangeran Reinhart seperti orang-orang lainnya. Aku tidak ingin mendengar panggilan panjang yang membuang banyak napas."
"Kalau begitu ... uhuk! Pangeran Reinhart."
Renald berkata dengan ekspresi agak ragu, dan tampak malu.
Melihat ekspresi di wajah Renald, Reinhart langsung memberi komentar kejam.
"Menjijikkan."
Dua hari kemudian.
Sudah empat hari sejak ujian dimulai. Jadi, hanya tinggal tiga hari sebelum ujian berakhir.
"Anu ... Pangeran Reinhart? Bolehkah saya beristirahat sejenak?"
"Bukankah kamu yang bilang bahwa kamu akan melakukan segalanya untuk mengikuti ku."
"..."
Ucapan Reinhart membuat Renald tidak bisa membantah. Pemuda itu hanya bisa mengeluh dalam hati.
'Tapi anda juga tidak boleh memperlakukan saya seperti kipas angin, kan? Meski tidak kuat, saya masih penyihir terhormat, kan?'
Renald duduk di dekat Reinhart yang sedang bersandar di bawah pohon besar. Kedua tangannya terulur, dan embusan angin terus mengalir ke sosok pangeran berambut perak itu. Dia merasa kalau kedua tangannya pegal dan kaku, tetapi masih tidak berani membantah.
Renald masing ingat dengan jelas, Reinhart yang tampak lemah lembut bertarung ganas di sungai barat kemarin.
Dia melihat pemuda tersebut adu jotos dengan pemimpin kawanan Beruang, yang merupakan monster level 3. Melapisi tubuhnya dengan elemen petir, berteriak 'URRAA!!' sambil saling pukul dengan beruang setinggi lebih dari tiga meter hanya karena berebut spot untuk berburu Leop-Salmon.
Ya ... sejenis ikan salmon dengan panjang sekitar dua meter dengan pola seperti macan tutul. Terkenal karena rasanya yang nikmat dan kelangkaannya.
Benar! Renald sangat terkejut ketika melihat pemuda yang biasanya tenang dan tak acuh itu bertingkah begitu sengit karena makanan. Jadi, dia diam-diam membuat keputusan dalam hati.
'Sebodoh apapun aku ... aku tidak akan bersaing makanan dengan orang gila seperti ini!'
Sebagai hasil pertarungan, sekarang tubuh beruang raksasa telah Reinhart kantongi dan menjadi salah satu barang yang akan dinilai. Jelas, pemuda itu adalah tipe yang akan bertarung sampai mati untuk makanan.
Melihat ke arah Reinhart yang memiliki tubuh nyaris sempurna padahal suka bermalas-malasan dan banyak makan ... Renald bertanya-tanya dalam hatinya.
'Makan begitu banyak tapi tubuhnya masih tampak begitu ...'
Renald menatap Reinhart dengan ekspresi kasihan.
'Mungkinkah Pangeran Reinhart sebenarnya cacingan?'
Reinhart yang berbaring santai tiba-tiba duduk dan mengamati sekitar dengan ekspresi serius. Kelopak matanya sempat berkedut, dia merasa agak aneh. Mengetahui tidak ada musuh yang mendekat, dia menjadi agak heran.
Firasat pemuda itu masih sangat bagus, tapi ...
Reinhart pasti tidak akan menduga kalau kedutan itu disebabkan oleh pikiran buruk pengikut yang dia paksa sebagai kipas angin berjalan.
>> Bersambung.