
"Jika kalian sudah selesai. Segera bersiap. Kita akan melanjutkan perjalanan."
Setelah beristirahat beberapa waktu, Reinhart langsung memberitahu teman-temannya.
Masih mengenakan pakaian yang berantakan dan kotor, mereka terus melanjutkan perjalanan. Berbeda dari sebelumnya dimana mereka harus bertemu dengan gerombolan serigala, saat ini mereka melakukan perjalanan dengan lancar.
Setelah berjalan lama, mereka terpaksa berhenti.
"Dari sini, bagaimana jika kita menggunakan jalur kiri? Meski sedikit lebih jauh, tetapi juga lebih aman daripada jalur kanan." Tommy memberi saran.
Di sebelah kiri, mereka bisa melihat lebih landai dengan sungai yang mengalir di sebelahnya. Sementara itu, di sebelah kanan adalah area penuh batu terjal dan cukup curam. Sulit untuk didaki, khususnya para gadis yang memiliki fisik buruk.
Mendengar pernyataan Tommy, empat gadis menoleh ke arah Reinhart.
"Jangan melihatku. Semua terserah kepada kalian. Aku hanya mengikuti dan bergerak jika situasi berada di luar kendali." Reinhart mengangkat bahu.
"Baik!" jawab keempat gadis serempak.
Keempat gadis kemudian mulai berbicara dengan ekspresi serius di wajah mereka.
"Bagaimana? Jika kita mengambil jalur kanan, kita akan sampai ke tempat tujuan lebih cepat karena tidak perlu jalan memutar. Atau pilih saja jalur kiri?" tanya Delia.
"Aku rasa lewat kiri lebih baik. Meski jauh, itu cukup aman dibandingkan memanjat." May tampak ragu-ragu.
"Aku memiliki pemikiran yang sama dengan May. Jalur kanan memang lebih cepat, tetapi terjal dan curam. Tempatnya juga sangat terbuka.
Jika diserang oleh binatang sihir dan sampai jatuh ... itu pasti menjadi akhir yang buruk."
Hilda berkata dengan serius berdasarkan analisisnya.
"Bagaimana denganmu, Maria?" tanya Delia.
"Aku ... Aku tidak keberatan mengambil jalur yang mana saja." Maria menjawab lembut.
"Kalau begitu kita ambil jalur kiri!" ucap Delia.
"Baik!" jawab tiga gadis lain.
Saat itu, Reinhart melihat sosok Tommy tampak lega. Tidak peduli apa yang direncanakan oleh pria itu, dia sama sekali tidak takut. Sebaliknya, pangeran berambut perak itu merasa penasaran.
Berjalan beberapa jam, mereka semua tidak mengalami gangguan. Tidak ada orang yang menghentikan mereka atau semacamnya. Hal tersebut membuat Reinhart menjadi semakin penasaran.
"Kita beristirahat di sini untuk makan siang."
Delia berkata dengan ekspresi lelah di wajahnya. Selain Reinhart, sisanya tampak lelah.
Sementara anggota lain beristirahat dan menyiapkan makan siang, Reinhart memilih untuk jalan-jalan. Tidak jauh dari tempat mereka, ada sungai penuh batu besar. Di sana mereka akan menyeberang. Menggunakan batu sebagai ganti jembatan.
Tidak jauh, ada juga air terjun yang cukup tinggi. Meski tidak sampai seratus meter, tetapi Reinhart yakin tingginya lebih dari lima puluh meter. Mungkin sekitar enam puluh sampai tujuh puluh meter.
Pada saat Reinhart kembali, dia melihat empat gadis yang memakan makan siang mereka.
"Dimana Tommy?" tanya Reinhart penasaran.
"Tidak tahu!" jawab mereka serempak.
"Mungkin sedang kencing atau semacamnya." May berkata dengan nada tidak puas.
Tampaknya setelah kejadian semalam, keempat gadis itu memiliki pemikiran buruk tentang Tommy.
Setelah selesai makan siang, keempat gadis memutuskan untuk jalan-jalan sambil menunggu Tommy kembali. Reinhart sendiri juga memutuskan untuk bersantai sambil makan buah sebagai pengisi perut.
"AAAHHH!!!"
Suara teriakan keras terdengar.
Reinhart yang duduk di atas cabang pohon langsung bergegas ke tempat suara teriakan terdengar. Sampai di sana, dia melihat Delia dan May berlari dengan ekspresi panik di wajah mereka.
Di belakang mereka, tampak seekor ular setebal ember dengan sisik berwarna cokelat dan pola hitam. Mulut makhluk itu terbuka lebar, siap untuk menelan gadis dalam satu kali gigitan.
"Puncak level 3 ..." gumam Reinhart. "Menarik."
Reinhart berjalan ke depan tanpa terburu-buru. Dia kemudian menarik pedangnya keluar.
"Lari, Pangeran Reinhart!" teriak Delia panik.
Mendengar ucapan Delia, Reinhart berlari. Tidak berlari menjauh, tetapi malah bergegas ke arah mereka dengan kecepatan luar biasa. Ekspresi terkejut di wajah kedua gadis itu.
Melihat sosok pemuda yang bergegas ke arahnya, ular raksasa itu membuka mulutnya. Pada saat hampir menelan Reinhart hidup-hidup, sosok pemuda itu tiba-tiba membuat gerakan menghindar ke sisi kiri ular.
Swoosh!
Pedang di tangan Reinhart berayun cepat. Ketika hendak mengenai mata, ular itu langsung mengelak. Membuat serangan tersebut mengenai bagian belakang mata ular. Dekat dengan mulut ular tersebut.
Darah menyembur, tetapi sama sekali tidak ada perubahan dalam ekspresi Reinhart. Dia masih tampak tenang seolah serangannya tadi belum seberapa.
Tubuh ular itu menggeliat. Kepalanya langsung mundur. Suara mendesis terdengar dadi mulut ular ketika menatap Reinhart dengan ekspresi penuh kebencian di wajahnya. Tampaknya benar-benar marah karena makan siangnya terganggu.
"Apakah kamu marah, Ular Kecil?"
Berdiri di atas batu, Reinhart berkata santai sambil memiringkan kepalanya.
Ular yang Reinhart hadapi adalah jenis binatang sihir tinggal di air. Dia telah melihat kolam yang cukup besar dan dalam di bawah air terjun. Kemungkinan besar, makhluk itu tinggal di sana.
"Masalahnya ... kenapa ular datang ke tempat ini?" gumam Reinhart.
Meski tempat mereka tidak terlalu jauh dari air terjun, seharusnya ular tersebut tidak akan berniat mengganggu. Dari penampilannya saja, ular tersebut tidak terlihat begitu kelaparan.
Reinhart menyarungkan kembali pedangnya lalu menarik keluar pisau pendek. Pisau tersebut berwarna hitam dengan banyak rune aneh terukir pada bilahnya. Anehnya, pisau itu bahkan tidak terlihat begitu tajam.
"Kompresi ... pertajam ... lacak ..." gumam Reinhart.
Tiga lingkaran sihir muncul di bilah pisau Reinhart. Melihat sosok ular langsung bergegas ke arahnya, dia tampak tak acuh.
Reinhart memasang kuda-kuda, kilat menari-nari di bilahnya. Saat ular terkejut dan hendak mundur, mata pemuda itu menyempit. Kemudian dia langsung membuat gerakan menusuk.
"Tusuk sampai mati!"
Reinhart mendengus dingin. Cahaya putih langsung melesat dari pisaunya. Daripada petir, cahaya itu seperti sinar laser.
Cahaya tersebut langsung melesat, memotong tubuh ular dari tengah menjadi dua tanpa sedikitpun perlawanan!
Menarik kembali pisaunya, sinar putih sebelumnya langsung menghilang.
Melihat ke arah pisau dengan sedikit retakan, Reinhart menggelengkan kepalanya. Dia telah mencoba membuat berbagai peralatan untuk mendukung sihir yang dia buat.
Apa yang Reinhart lakukan adalah versi low grade dari sihir Kamishini no Yari (Tombak Pembunuh Dewa) yang dia ciptakan.
Sebuah sihir yang menirukan jurus tertentu dari serial dari kehidupan Reinhart sebelumnya. Meski bukan memanjangkan pedang seperti aslinya, tetapi cara dia menembakkan petir dan membuatnya seperti tombak sudah cukup mirip.
Masalahnya ... bahkan pedang yang Reinhart custom khusus tidak mampu menahan kekuatan serangan tersebut. Padahal ini masih versi low grade!
Berbeda dengan Reinhart yang tampak menyesal, para gadis lebih fokus pada ular yang dipotong menjadi dua sampai ke tengah tubuhnya. Membunuh makhluk itu dalam sekali serangan.
'Terlalu kuat!' pikir keempat gadis itu.
"Kenapa kalian menatapku dengan cara seperti itu?"
Pertanyaan tersebut membuat para gadis terbangun dari lamunan mereka. Setelah memiliki banyak keraguan, Hilda yang paling berani akhirnya bertanya.
"Apakah itu sihir yang anda ciptakan, Senior Reinhart?"
"Ya." Reinhart mengangguk. "Mungkin kamu mengenalinya?"
"Apakah itu sihir yang anda gunakan di final turnamen tahun lalu?" tanya Hilda.
"Lebih tepatnya versi low grade dari sihir tersebut." Reinhart berkata santai.
'VERSI LOW GRADE!!!' seru para gadis dalam hati mereka.
Keempat gadis tersebut kemudian mengingat rumor tentang Reinhart. Mengingat kalau sihir yang dibuat oleh pangeran itu setara dengan sihir terlarang yang sangat cepat dan hampir bisa memotong segalanya ... mereka menghirup napas dingin.
"Dari pada fokus pada hal itu, bukankah sebaiknya kita mendengar penjelasan dari Tommy?"
Para gadis terkejut. Mereka kemudian melihat ke arah tertentu. Di sana, Tommy menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi ketakutan.
Reinhart sendiri masih santai, bahkan memiringkan kepalanya dan berkata.
"Tenang saja. Aku yakin Tommy bukan orang yang jahat."
>> Bersambung.