
Setelah mendapatkan item untuk menyelesaikan misi, Reinhart dan yang lain memutuskan untuk kembali.
Dalam perjalanan pulang, sama sekali tidak ada sesuatu yang spesial. Semuanya berjalan begitu lancar, bahkan cukup monoton.
Ketika kembali, mereka memutuskan untuk menggunakan jalur yang lebih curam agar segera tiba. Anehnya, semuanya berjalan begitu lancar.
"Tampaknya aku terlalu khawatir."
Sampai di kota, Reinhart menggelengkan kepalanya. Melihat ke arah kota kecil yang sedikit ramai dibandingkan dengan belantara sepi, dia tersenyum.
Para gadis tampaknya sudah tidak sabar. Alih-alih langsung mengantarkan barang menuju ke rumah nenek, mereka malah memilih untuk pergi ke penginapan untuk mandi.
Setelah melihat ke arah para gadis pergi, Reinhart melirik ke arah Tommy.
"Tampaknya penyelesaian tugas harus ditunda."
"Tidak apa-apa, aku juga akan menjual 'itu' ke guild petualang terlebih dahulu. Setelah selesai menjual, aku akan datang ke penginapan. Kita bisa pergi bersama."
Tommy sendiri tampaknya juga antusias. Dia jelas ingin segera menjual barang agar bisa mendapatkan uang.
"Sudah aku bilang, aku bisa saja menyembuhkan nenekmu. Anggap sebagai rasa terima kasih. Karena bantuanmu, aku juga mendapat "sedikit" keuntungan."
"Tapi—"
"Tidak ada tapi!" ucap Reinhart.
"Kalau begitu aku akan memberikan benda itu kepadamu sebagai ganti bantuanmu."
Meski Tommy tidak tahu tingkat keterampilan Reinhart, tetapi dia yakin pemuda itu memiliki obatnya. Lagipula, dengan kekayaan seorang pangeran, hal semacam itu pasti lebih mudah didapatkan.
Sedangkan mengharapakan keterampilan Reinhart, ya ... Tommy tidak akan melakukannya. Lagipula, dia merasa kalau Reinhart masih terlalu muda.
"Bisakah kita langsung kembali? Kita bisa mengurus nenek terlebih dahulu. Setelah itu, kita tinggal menunggu kedatangan para gadis."
Melihat ke arah Tommy yang tidak sabar, Reinhart tersenyum.
"Baiklah," ucap pemuda itu.
Mereka berdua kemudian pergi menuju ke rumah Tommy. Namun saat mereka tiba di lokasi, sesuatu tiba-tiba terjadi.
Baru saja melangkahkan kaki melewati halaman, sebuah bola api besar tiba-tiba melesat ke arah mereka berdua.
Swoosh! Boom!
Reinhard langsung menebas bola api dengan cepat. Potongannya langsung menghantam beberapa tanaman di taman dengan keras sehingga menghasilkan ledakan.
"Siapa kamu dan katakan tujuanmu!" ucap Reinhart dingin.
Sosok berjubah hitam melompat turun dari atap. Dia langsung membuka jubahnya lalu membuangnya ke samping. Penampilan sosok wanita cantik berambut cokelat yang mengenakan gaun merah darah langsung muncul di depan Reinhart dan Tommy.
"Tampaknya kamu telah menemukan cara untuk menyembuhkan nenek bau tanah itu!" ucap wanita itu dengan ekspresi dingin.
"Kamu ... Bagaimana bisa kamu ..."
Tommy menatap wanita itu dengan ekspresi terkejut. Matanya langsung berubah menjadi berkaca-kaca. Dia berjalan mendekat dengan ekspresi sedih.
"Molly, kamu—"
Swoosh! Boom!
Bola api langsung melesat ke arah Tommy, tetapi Reinhart langsung muncul di depannya dan menangkis serangan bola api dengan pedangnya.
"Jangan memasang ekspresi seperti itu, Tommy! Kamu tidak mengerti apa yang aku derita, jadi berhentilah bersikap munafik! Ini semua terjadi karenamu dan wanita tua itu!
Dulu ... Dulu aku benar-benar tertipu, tetapi hal yang sama tidak akan terjadi kali ini!
Kamu bilang kamu mencintaiku, tetapi pada kenyataannya kamu hanya menginginkan tubuhku! Kamu tidak bersikap tulus denganku karena aku hanya anak wanita dari rumah bordil. Kamu hanya bermain-main dengan perasaanku!
Kamu bahkan tidak peduli ketika aku dijual ke rumah bangsawan menjijikkan itu!
Aku ... Aku benar-benar mencintaimu tetapi kamu memperlakukan aku dengan kejam! Aku sangat membencimu, Tommy!
Oleh karena itu, aku bertahan. Aku bertahan beberapa tahun sambil terus berpura-pura bersikap manja. Aku terus memupuk kekuatan dan akhirnya sampai di level ini!
Aku akhirnya memiliki kemampuan untuk membunuh b-jingan itu. Aku datang! Aku datang ke tempat ini untuk melunasi hutang-hutang yang harus kamu bayar, Tommy!
Kamu dan nenek bau tanah itu harus mati!"
Tommy dan Reinhart tercengang. Keduanya memasang ekspresi rumit di wajah mereka. Hanya saja, artinya berbeda.
Tommy jelas memikirkan masa lalunya.
Sedangkan Reinhart, dia menatap Molly sambil mengutuk dalam hati.
'Plot berdarah macam apa ini?!'
Jika dalam keadaan normal, seharusnya Reinhart dan para gadis menyelesaikan misi lalu segera kembali. Namun entah bagaimana, sosok wanita jahat tiba-tiba muncul entah dari mana untuk balas dendam di saat-saat terakhir.
Reinhart tidak bisa tidak meraung dalam hati.
'Omong kosong apa! Bukankah plot ini terlalu dipaksakan?'
>> Bersambung.