
Bukan hanya Reinhart, bahkan gadis resepsionis Guild Petualang juga menatap ke arah Aiden dengan ekspresi iba.
‘Dia terlalu bodoh! Bahkan jika dia menolak, secara resmi, Helena masih tunangannya!’
Melirik ke arah Aiden lalu ke arah Helena, Reinhart menggeleng ringan.
‘Main mata dan melihat wanita lain di depan tunangannya sendiri? Jelas perilaku bunuh diri!’
Menatap ke arah temannya itu, Reinhart tidak bisa tidak merasa kagum. Lagipula, dibandingkan dengan belajar dan berlatih keras, berurusan dengan perempuan itu lebih rumit dan merepotkan.
“Menurut saya, penampilan wanita itu terlalu ceroboh, bahkan terkesan sembrono. Kemungkinan besar, dia bukan wanita baik-baik. Jadi, demi mencegah terjadinya keclakaan, saya dengan tulus minta maaf …
Anda tidak diterima, Nona.”
“...”
Mendengar ucapan Helena, Aiden dan wanita itu terpana. Namun ketika wanita itu melirik Helena, pada akhirnya dia hanya bisa mendecak tak puas. Lagipula, pelanggan itu raja. Meski kesal, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pelanggan bebas memilih.
Melihat bagaimana teman-temannya yang memilih petualang seolah sedang memilih ksatria formal, Reinhart hanya bisa tersenyum masam. Tampaknya, meski IQ mereka tinggi, EQ mereka cukup rendah. Hanya karena mereka bangsawan, mereka benar-benar memperlakukan orang sesuka hati mereka.
Melihat ke arah resepsionis dari Guild Petualang yang tampak tak berdaya karena harus berurusan dengan para petualang dan anak bangsawan manja, Reinhart akhirnya memutuskan untuk maju.
“Tuan-tuan dan Nyonya, seperti yang kalian ketahui, karena rekan-rekan saya memiliki banyak syarat, kami benar-benar tidak bisa menerima kalian.”
Reinhart berbicara dengan nada menyesal. Melirik ke arah orang-orang tampak cemberut dan muram, dia kemudian melanjutkan.
“Tentu saja, sebagai permintaan maaf kecil dan rasa terima kasih karena sudah mau datang menunggu, kami akan memberi kalian sedikit tip. Ya … perlakukan saja sebagai uang kompensasi atas waktu kalian.”
Setelah mengatakan itu, Reinhart segera mengeluarkan uang lalu memberikan sedikit upah ke satu per satu petualang, lalu meminta mereka pergi.
Melihat Reinhart begitu murah hati, mereka tampak bersyukur, bahkan wanita itu sempat memegang tangan pemuda itu cukup lama. Wanita itu juga sempat mengedipkan mata dan pergi sambil sedikit menggoyangkan pinggulnya. Seolah-olah sedang memberi isyarat.
Merasakan tatapan panas dari empat gadis yang menusuk punggungnya, Reinhart hanya bisa tersenyum sembari berpura-pura tidak merasakannya.
Usai mereka pergi, resepsionis dari Guild Petualang kemudian membungkuk sopan.
“Terima kasih karena telah membantu saya, Tuan Muda.”
“Tidak apa-apa.”
Reinhart membalas singkat. Hal itu membuat Aiden bingung. Meski tiga gadis tidak terbiasa, paling tidak mereka sedikit memahami apa yang terjadi di sana.
“Seperti yang kamu lihat, Nona. Tampaknya sulit bagi kami untuk menemukan pemandu yang cocok. Jadi, kami ingin menarik kembali misi. Tentu saja, sesuai dengan kesepakatan … sepuluh persen dari uang tidak kembali sebagai tanda jasa.”
“Baik.” Gadis itu mengangguk. “Terima kasih atas dukungan anda, Tuan Muda.”
“Sama-sama.”
Setelah percakapan singkat, gadis resepsionis pun juga ikut pergi meninggalkan ruangan.
“Kenapa kamu mengambil kembali misi itu, Rein? Bukankah kita memerlukan pemandu? Kamu tidak berniat untuk pergi ke sana tanpa persiapan yang tidak matang, kan?”
“...”
Melihat bagaimana Aiden memprotes tanpa sedikit pun rasa bersalah, Reinhart benar-benar terdiam. Melihat keempat rekan satu team beban, dia hanya bisa mengeluh dalam hati.
‘Bukankah itu salah kalian? Kalian sendiri yang terlalu pilih-pilih, kan?’
Meski tidak menyenangkan, Reinhart hanya diam. Pemuda itu memikirkan beberapa rencana lain yang mungkin bisa menggantikan rencana kurang efisien sebelumnya. Rencananya, dia akan memasang misi selama tiga hari dan mencabutnya.
Masalahnya, jika banyak orang yang tertarik dan tidak ada yang memenuhi kriteria rekan-rekannya, hal semacam itu hanya bisa dianggap menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak berguna.
‘Aku harap rencanaku membuahkan hasil.’
Pikir Reinhart ketika mengabaikan keempat rekannya.
Setelah menunggu beberapa saat, resepsionis kembali untuk memberi uang dan menjelaskan berbagai masalah. Usai itu, Reinhart dan teman-temannya akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Aiden berbisik kepada Reinhart. Mendengar hal ucapan temannya, ekspresi pemuda itu benar-benar langsung berubah menjadi lebih buruk. Lagipula, setelah banyak membantu …
Dia malah difitnah!
Menghela napas panjang, Reinhart akhirnya berkata dengan ekspresi tak acuh.
“Terserah bagaimana kalian ingin mengartikannya.”
“...”
Melihat teman-temannya diam saja, Reinhart akhirnya menambahkan.
“Kalian harus ingat, misi ini dibatasi selama satu bulan. Meski tidak harus menyelesaikan secara menyeluruh, kita benar-benar tidak boleh hanya main-main. Aku ingin mendapatkan nilai baik dan menjauhi masalah.”
“Iya, iya … aku mengerti.” Aiden berkata dengan ekspresi jengkel. Dia kemudian berbisik, “Bilang saja kalau kamu ingin menemuinya sendiri.”
“...”
Menatap ke arah temannya, Reinhart bertanya-tanya dalam hatinya.
‘JIka aku memukulmu, dua kerajaan kita tidak akan berperang karena hal sepele semacam itu, kan? Jadi, bolehkan aku memukulmu?’
Aiden menatap ekspresi muram Reinhart. Merasakan bulu kuduknya merinding, dia buru-buru menjelaskan.
“Tenang saja, Rein. Aku tidak akan membongkar rahasia itu. Tenang! Aku ahli dalam tutup mulut.”
“...”
Bisikan Aiden membuat Reinhart benar-benar merasa frustrasi. Tidak menyangka kalau salah satu orang yang dia anggap teman dan terlihat bisa diandalkan ternyata adalah pemuda dengan sekrup kepala longgar.
Berbicara dengannya hanya membuat Reinhart semakin tertekan!
Sampai di penginapan, Reinhart langsung pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Pemuda itu sedang ingin menyendiri. Dia lebih fokus ke latihan, baik itu meditasi atau latihan dasar. Kecuali keluar untuk ke kamar mandi atau makan, pemuda itu benar-benar menghabiskan waktunya di kamar.
Tanpa terasa, dua hari kembali berlalu begitu saja. Yang berarti, mereka telah tinggal di Kota Wind Prairie selama tiga hari.
“Sekali-kali jalan-jalan memang menyegarkan …”
Reinhart berjalan sendiri menuju ke pusat perbelanjaan. Sejak dua hari yang lalu, pemuda itu hanya berkumpul dengan Aiden dan tiga gadis untuk membahas sesuatu yang akan mereka lakukan selanjutnya. Lagipula, meski menyenangkan, mereka tidak bisa terus-menerus membuang waktu di Kota Wind Prairie.
Pergi menuju ke toko buah, pemuda itu memutuskan untuk memilih beberapa buah segar. Buah segar lokal dan beberapa yang belum dia pahami. Reinhart benar-benar bosan memakan makanan yang sama setiap hari. Bahkan jika ada buah, jenisnya terlalu minimal, jadi dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan sambil mencari udara segar.
“A-ANU …”
Dalam perjalanan kembali ke penginapan, Reinhart tiba-tiba dihentikan.
Melihat ke arah sosok yang menghentikan dirinya, pemuda itu memiringkan kepalanya.
‘Pengemis kecil???’
Reinhart melihat sosok anak setinggi dadanya. Anak itu mengenakan pakaian usang, dan dipenuhi dengan tambalan. Kulitnya tampak kotor, dan dia juga tampak kurus. Matanya terlihat keruh, membuat orang yang melihatnya saja sudah cukup paham kehidupan apa yang dia alami.
“Ada apa?”
Meski sudah menduga kalau anak itu berencana untuk meminta dari dirinya, Reinhart masih bertanya. Ya … meski dengan wajah tak acuh dan nada datar.
“S-Saya dengar anda mencari pemandu? Saya … saya bisa memandu anda! Saya sangat hafal dengan jalan dan Kota Roscars.”
“...”
Reinhart sedikit terkejut. Namun ketika melihat ke arah anak itu, dia tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya. Itu karena …
Seekor ikan ternyata tersangkut pada jaring yang sengaja dia tebar!
>> Bersambung.