Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Jebakan?



Note : Maaf, Kawan. Kemarin karena balik larut dan gak fokus malah salah upload. belum lagi, karena koneksi jelek malah double. Ini udah diganti, ya? Sekali lagi maaf.


---


“Jika anda berkata demikian, saya tidak akan memiliki komentar lain, Pangeran Reinhart.”


Melihat kalau Reinhart bersikeras, Helena juga tidak berani untuk membantah. Meski alasan kenapa sama sekali tidak disebutkan, tetapi dia percaya kalau pemuda yang tampak dingin itu pasti tidak memiliki niatan buruk untuk menyakiti mereka. Bahkan, dia juga yakin kalau alasan kenapa Reinhart tidak berbicara karena mengkhawatirkan mereka.


Jika Reinhart mengetahui apa yang Helena pikirkan, pemuda itu pasti sangat terkejut. Jelas, gadis itu terlalu memuji dirinya,


“Terima kasih karena sudah mau mengerti.”


“Sudah tugas bagi kami untuk memercayai ketua kelompok, kan?”


“EH??? Bukan aku ketua kelompoknya?”


Mendengar pernyataan Helena, Aiden yang awalnya tampak serius langsung bertanya dengan heran. Reinhart tidak menjawab, sementara Helena dan Caterina menatapnya dengan ekspresi aneh sebagai jawaban.


“Kalian jangan salah paham. Meski seperti ini …” Aiden tersenyum sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku masih sangat bisa diandalkan.”


“...”


Helena dan Caterina saling memandang lalu menghela napas panjang.


‘Selain tampan, anda benar-benar kurang bisa diandalkan, Pangeran.’


Karena sama-sama dari Kerajaan Mentari Emas, kedua gadis itu merasa agak menyesal telah bergabung dengan kelompok ini. Meski Aiden memang kuat, tetapi di mata mereka, citra ‘Pangeran Sempurna’ yang selama ini disebut-sebut oleh para gadis di Kerajaan Mentari Emas telah lenyap dalam hati dan kepala mereka.


Bukan hanya sembrono, ketika dekat dengan Reinhart … kewaspadaan dan etika Aiden benar-benar turun. Turun terlalu jauh sampai mereka berdua nyaris tidak bisa membedakan si Pangeran Sempurna dengan sosok ceroboh tersebut.


Sementara itu …


Helena dan Caterina melirik ke arah Reinhart yang menopang dagu sambil melihat pemandangan luar jendela. Tampaknya pemuda itu benar-benar telah kebal dengan ocehan Aiden, bahkan hanya mendengar dalam diam tanpa memprotes sedikit pun.


Walau pemuda itu dingin seperti es, cukup tertutup bahkan bisa dibilang introvert … tetapi Reinhart yang bersikap pasif itu benar-benar membantu mereka untuk menyelesaikan banyak hal. Dia juga orang yang membuat keputusan terbaik untuk mereka berlima.


Sosok yang lebih cocok dipanggil Ketua daripada Aiden yang masih polos dan cukup ceroboh.


“Kami selesai.”


Setelah beberapa waktu, suara lain terdengar di sana. Mereka berempat menoleh, lalu melihat Sophia dan sosok gadis kecil yang berdiri di sampingnya.


Gadis kecil itu tampak cantik. Dia memiliki rambut cokelat sebahu dengan mata hijau. Kulitnya sedikit pucat dan kurus, tetapi memang tidak bisa disangkal kalau dia cantik. Namun setelah diperhatikan, gadis itu ternyata sedikit lebih tinggi daripada Sophia.


Gadis kecil itu melirik ke arah Sophia, lebih tepatnya ke dada Sophia, lalu ke dadanya sendiri. Entah bagaimana, suasana hatinya tiba-tiba turun banyak. Caterina menatap gadis kecil itu dengan ekspresi memahami, seolah telah bertemu dengan rekan seperjuangannya.


“Hmmm … seperti yang dikatakan Rein, kamu memang cantik, Gadis Kecil.”


Aiden berkata sambil mengelus dagu. Meski sedang memuji, sama sekali tidak terdengar seperti pujian.


“Nama?”


Pada saat itu, suara tak acuh Reinhart terdengar.


“Perkenalkan, nama saya Devy, Tuan Muda.”


Reinhart mengangguk ringan. Dia bangkit dari kursinya lalu berkata.


“Kita makan bersama, lalu berkemas. Kita akan berangkat besok.”


Reinhart melirik ke arah Devy, lalu melanjutkan.


“Kamu juga ikut makan.”


“Tidak perlu, Tuan Muda. Saya masih-”


“Ketika aku bilang makan, makan saja. Fisikmu terlalu lemah. Bahkan jika kamu adalah pemandu, aku tidak akan membiarkanmu menunda perjalanan kami.”


Reinhart berkata dengan nada dingin dan tidak terbantahkan. Meski demikian, keempat rekannya dan Devy tahu kalau pemuda itu hanya berusaha bersikap baik. Ya .. paling tidak dengan caranya sendiri.


“Terima kasih, Tuan Muda.”


Menatap ke mata Devy sebentar, Reinhart kemudian berjalan pergi tanpa mengucap sepatah katah.


Keesokan harinya.


“Apakah kalian siap?”


Mendengarkan pertanyaan Reinhart, rekan-rekannya ditambah dengan Devy mengangguk. Seperti sebelumnya, Sophia dan Caterina mengenakan pakaian penyihir, Helena mengenakan gaun cantik, dan Aiden mengenakan fullplate armor.


“Kami siap!”


Reinhart melirik ke arah Aiden. Setelah beberapa saat, dia tidak bisa tidak bertanya.


“Tentu saja! Lihat dirimu sendiri, Rein. Menutup hampir seluruh tubuh dengan jubah hitam. Memangnya kamu pencuri?”


“...”


Sebenarnya Reinhart ingin sedikit menjelaskan, tetapi ketika melihat ekspresi kemenangan di wajah Aiden, dia merasa lebih baik untuk diam. Sekarang dia masih memakai pakaian armor ringan dan membawa pedang, tetapi tubuhnya ditutupi oleh jubah hitam, membuat orang lain tidak mengetahui apa yang ada di baliknya.


‘Ya … lebih baik diam saja.’


Setelah melihat orang-orang yang telah berkemas, Reinhart memimpin mereka menuju ke tempat mereka akan membawa kereta kuda. Ya, mereka tidak menggunakan kereta khas bangsawan. Sebaliknya, mereka malah mengenakan kereta kuda yang biasanya digunakan oleh para merchant mengangkut barang.


Untuk beberapa detail misi, Reinhart juga telah membicarakannya dengan teman satu timnya.


“Jika kalian siap, mari kita berangkat.”


Bersamaan dengan ucapan Reinhart, perjalanan mereka pun akhirnya dimulai.


Sebenarnya, jarak antara Kota Wind Prairie dan Kota Roscars tidak begitu jauh. Kira-kira, membutuhkan tiga hari sampai di sana. Tentu saja, itu juga termasuk menginap di jalan pada saat malam hari. Lagipula, melanjutkan perjalanan di malam hari terlalu beresiko. Belum lagi, kuda yang mereka gunakan pasti juga memerlukan istirahat.


Tanpa terasa, waktu berlalu dan malam hari akhirnya tiba.


Reinhart, Aiden, dan keempat gadis berhenti untuk beristirahat. Mereka mendirikan tenda dan menyalakan api unggun. Tentu, mereka harus bekerja sama karena hanya ada enam dari mereka. Reinhart memilih untuk tidak mengajak kusir yang menemani mereka dari akademi. Sebenarnya cukup melelahkan bagi Reinhart dan Aiden, tetapi tim mereka memilih untuk melakukannya karena khawatir dengan keselamatan kusir.


“Apakah kita harus makan daging kering dan roti lagi?”


Aiden mengerang. Dia benar-benar tampak tertekan. Bukan hanya dia, para gadis kecuali Devy merasa agak tidak senang. Sebagai bangsawan, mereka benar-benar harus makan makanan seperti itu.


“Sudah aku bilang, selain menghemat tenaga, pilihan seperti ini lebih aman. Lagipula, memasak daging di alam liar, khususnya di malam hari itu sangat berbahaya. Kalian harus ingat-”


“Iya, iya … ini adalah misi, bukan perjalanan piknik.”


Reinhart melirik ke arah Aiden.


“Bagus kalau kamu mengerti.”


Aiden terkekeh. Dia juga menatap Reinhart sebelum bertanya.


“Jadi, bagaimana jam jaga diatur, Rein?”


“Sama seperti sebelumnya. Empat jam istirahat. Kamu, Helena, dan Caterina berjaga di paruh pertama malam, jam 8 sampai jam 12. Aku, Sophia, dan Devy akan berjaga dari jam 12 sampai jam 4 pagi.”


“Sungguh? Kenapa dalam perjalanan ini kita harus bangun begitu pagi?”


Mendengar pertanyaan Aiden, Reinhart hanya tersenyum. Karena jadwal latihan yang dibuat oleh pemuda itu dan gurunya, Reinhart benar-benar lebih banyak terjaga daripada tidur. Dia bahkan merasa kalau tidurnya kurang panjang dan tidak memuaskan. Itu juga alasan kenapa pemuda itu mengantuk di kelas.


“Baiklah. Kita atur saja seperti itu.”


Aiden menghela napas. Melihat Reinhart diam, jelas kalau tidak ada cara bernegosiasi di sini. Jadi pemuda itu memilih untuk mundur dan menurut.


Tanpa terasa, dua hari berlalu begitu saja tanpa adanya masalah.


Di hari ketiga, Reinhart tersenyum ketika melihat teman-temannya tampak bahagia. Lagipula, menurut jadwal, mereka akan tiba di Kota Roscars hari ini.


Tengah hari, setelah makan siang.


“Mari kita segera pergi, Rein. Kita harus segera tiba di kota sore ini, kan?”


“Seharusnya begitu, tapi …”


“Ada apa???”


“Perjalanan kita harus sedikit tertunda.”


“Kenapa?”


“Apakah kalian tidak merasakannya?” Reinhart melirik sekitar dengan ekspresi tak acuh. “Hutan ini terlalu sepi, kan? Bahkan tidak ada suara serangga.”


“Maksudmu-”


Sebelum Aiden menyelesaikan ucapannya, Reinhart berkata.


“Kalian pasti tidak sadar, setelah Devy pergi untuk buang air kecil, dia tidak kembali. Yah …”


Ekspresi Reinhart berangsur-angsur dingin. Melihat ke arah tertentu, dia kemudian berkata.


“Karena sudah ketahuan, kenapa kalian tidak keluar saja?”


Mendengar ucapan Reinhart, Aiden dan tiga gadis lain tampak terkejut. Ekspresi mereka langsung serius. Berdiri di dekat Reinhart, mereka bersiap untuk bertarung.


Pada saat itu … beberapa sosok keluar dari hutan.


>> Bersambung.