
Tanpa terasa, dua setengah bulan berlalu begitu saja.
Pintu kantor Professor Elin tiba-tiba dibuka, sosok Reinhart memasuki ruangan dengan eskpresi lelah di wajahnya. Melihat sosok gurunya yang menatapnya sambil tersenyum, pemuda itu langsung mengeluh.
"Apakah ini sesuatu yang harus dilakukan oleh siswa, Guru?" tanya Reinhart.
"Apa maksudmu, Rein?"
"Ujian tengah semester ... apakah hal semacam ini normal? Maksudku, kenapa anggota Starlight Scholar kelas dua harus menjadi pengawas ujian? Ini sangat tidak normal!"
"Bukankah itu bagus? Apa yang perlu kalian lakukan hanya mengawasi adik-adik kelas yang imut lalu tugas selesai.
Bukankah ini suatu keistimewaan bagi anggota Starlight Scholar yang banyak diinginkan? Tugas mudah di ujian praktik tengah semester atau ujian semester~"
"Apanya yang mudah? Bilang saja kalau akademi kekurangan personel!" keluh Reinhart dengan ekspresi gelap.
'Mungkin mengawasi terdengar mudah. Namun pada kenyataannya, hal tersebut memiliki resiko tinggi. Petugas tidak hanya melihat dalam diam, tetapi juga memberi petunjuk bahkan menolong jika ada sesuatu yang terjadi.
Sedangkan resiko hal-hal menjadi kacau ...
Bahkan seekor ayam tahu betapa berbahayanya dunia ini!'
Reinhart mengeluh dalam hatinya. Ketika canon dimulai, banyak aktivitas penjahat bermunculan di seluruh benua. Kata-kata seperti melihat junior yang imut dan mendapatkan nilai tinggi cuma-cuma hanyalah angan-angan semata!
"Hmmm ... Tampaknya kepala sekolah sedang berhemat. Uang yang dia keluarkan untuk sekolah berkurang cukup banyak dibandingkan tahun sebelumnya," ucap Professor Elin sambil mengelus dagu.
Melihat kalau gurunya tidak begitu peduli dan menganggap hal semacam itu sebagai masalah sepele, Reinhart semakin tertekan. Mengingat penampilan 'mewah dan glamor' kepala sekolah, sudut bibir pemuda itu berkedut.
'Jangan bilang ... B-jingan tua itu menggunakan uang sekolah untuk kepentingan pribadi?'
Setelah memikirkan hal tersebut, entah kenapa senyum ramah dan hangat di wajah kepala sekolah membuatnya jengkel!
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Ya! Aku tidak pernah merasa SEBAIK ini, Guru!" ucap Reinhart dengan suara datar.
"Anggap saja sebagai latihan."
"Hmmm ..." Reinhart mengangguk. Menatap ke arah gurunya dengan ekspresi lurus, dia berkata, "Maaf, tapi aku tidak suka membawa beban dalam team, Guru!"
"..."
Melihat ekspresi menyebalkan di wajah muridnya, sudut bibir Professor Elin berkedut. Dia kemudian mengambil selembar kertas lalu memberikannya kepada Reinhart.
"Ambil lalu keluar."
"Baik."
Setelah menerima kertas tersebut, Reinhart pergi meninggalkan kantor.
***
Sesampainya di kelas, Reinhart duduk di kursinya.
Pemuda itu kemudian mulai membaca isi kertas yang diberikan oleh gurunya dengan serius. Isi kertas tersebut adalah misi yang harus dia selesaikan sebagai ujian praktik tengah semester.
Selesai membaca isinya, ekspresi Reinhart berubah.
'Benarkah? Aku harus mengawasi ujian Heroine? Apakah kepala sekolah bercanda denganku?
Dari banyaknya siswa-siswi kelas satu, kenapa harus Heroine (Maria)? Apakah kalian tidak tahu kalau banyak bahaya yang selalu mengintai gadis itu ketika keluar sekolah?!
Jangan bercanda denganku!!!"
Aiden yang tiba kemudian duduk di sebelah Reinhart mengintip kertas di tangan sahabatnya itu. Melihat isinya, dia tidak bisa tidak mendecak kagum.
"Tampaknya kepala sekolah benar-benar menghargaimu, Kawan. Benar-benar pergi jalan-jalan dengan selingkuhan ... uhuk! Gadis yang cukup dekat denganmu.
Itu terlalu luar biasa~
Aku malah diminta untuk pergi menemani para junior ke gurun pasir. Bukan hanya panas dan tidak nyaman, semua junior itu laki-laki! Sama sekali tidak menyenangkan!
Semoga saja ketika kembali Sophia dan Caterina tidak marah. Tampak agak hitam biasa bagi laki-laki, bukan?"
Mendengar ocehan Aiden, Reinhart langsung menoleh.
"Maaf?" ucap Aiden dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
"Ayo bertukar misi!" tegas Reinhart.
"..."
Aiden sempat terkejut. Hanya saja, dia langsung menggelengkan kepalanya sambil menghela napas.
"Ejekanmu sia-sia, Rein. Aku sama sekali tidak akan terkecoh. Aku sudah membaca peraturannya dengan jelas!
Misi sama sekali tidak bisa ditukar dengan alasan apapun! Ini mencegah para bangsawan besar dengan misi sulit memaksa menukar misi. Melindungi bangsawan rendah dengan misi lebih mudah."
"..."
Reinhart benar-benar kehilangan kata-kata. Dia sebenarnya juga tahu aturannya. Namun pemuda itu berharap kalau Aiden tetap berusaha menukar misi yang lebih mudah dengan misinya.
Siapa sangka Aiden yang biasanya agak melenceng bisa bersikap benar saat ini? Reinhart bahkan tidak percaya dengan apa yang dia dengar!
"Terserah."
Pada akhirnya, hanya kata itu yang terucap dari mulut Reinhart.
Benar-benar telah menerima takdirnya!
***
Tanpa terasa, dua minggu kembali berlalu.
Saat ini, banyak siswa-siswi yang mulai pergi keluar sekolah untuk menjalankan tugas tengah semester mereka. Aiden dan Zale juga telah berangkat untuk menemani junior melakukan tugas.
Reinhart sendiri berencana pergi hari ini. Dia bertugas menemani empat junior untuk menyelesaikan tugas tengah semester mereka. Tugas tersebut menyuruh mereka untuk pergi ke pegunungan untuk mengambil tanaman ajaib lalu mengirimnya ke seorang wanita tua di kota tidak jauh dari gunung itu.
Masalahnya, lokasi tersebut cukup terpencil. Akses kendaraan sulit dan tidak nyaman. Berbeda dengan kota-kota besar atau malah langsung pergi ke kerajaan lain dengan kapal terbang, mereka harus pergi ke kota tertentu untuk menyewa atau membeli kereta kuda (yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang) lalu menuju lokasi.
'Hutan dan gunung, kah?'
Pikir Reinhart ketika mengingat detail misi. Menyadari kalau ada gadis merepotkan dalam kelompok, dia memikirkan berbagai kemungkinan.
'Tidak mungkin naga muncul begitu tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, kan? Tidak ada monster kuno tingkat 7 atau semacamnya, kan?'
Memikirkan berbagai hal yang mungkin terjadi, Reinhart merasa punggungnya basah oleh keringat dingin. Dipaksa untuk melawan makhluk-makhluk mengerikan itu ...
Dia sama sekali tidak siap secara fisik ataupun mental!
"Maaf telah membuat anda menunggu, Pangeran Reinhart!"
Mendengar suara lembut tersebut, Reinhart menoleh. Dia kemudian melihat sosok Maria yang datang.
Gadis itu memakai seragam sekolah yang indah, tampak cocok dengan wajah cantiknya. Hanya saja, ada sebuah tas besar di punggungnya dan koper di tangannya. Tampak begitu mencolok dan tidak pada tempatnya!
"Kamu sama sekali tidak terlambat, Maria."
Reinhart sama sekali tidak protes. Melihat penampilan itu, setidaknya dia tahu kalau Maria menganggap ujian ini dengan sungguh-sungguh. Lagipula ... dia membawa muatan penuh!
"Maaf membuat anda menunggu, Pangeran Reinhart!"
Suara lain terdengar. Pada saat Reinhart menoleh, dia melihat tiga gadis cantik yang berjalan ke arahnya tanpa tergesa-gesa. Ya ... mereka adalah sisa anggota kelompok yang harus Reinhart awasi.
Hanya saja, ekspresi Reinhart tiba-tiba berubah menjadi stagnan.
Ketiga gadis itu memang tampak cantik. Mereka mengenakan gaun berenda yang tampak indah, cocok dengan penampilan mereka. Bahkan bisa menonjolkan kecantikan mereka. Masalahnya ...
Daripada mengerjakan tugas, mereka malah tampak seperti sedang pergi piknik!
Satu terlalu berhati-hati, berlebihan dan membawa barang dengan cara mencolok. Tiga lainnya benar-benar tidak tampak serius mengerjakan tugas.
Reinhart mulai bertanya-tanya dalam hati.
'Apakah memberi nilai negatif dilarang? Aku ingin menjadi seorang yang pertama kali melakukannya!'
>> Bersambung.