Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Rasa Syukur



Pagi keesokan harinya.


Setelah sarapan bersama, Reinhart memutuskan untuk berlatih di halaman belakang karena salju turun cukup lebat.


Professor Elin pernah berkata bahwa kebanyakan ksatria yang hebat dan kuat adalah mereka yang telah menempa diri melalui berbagai latihan ekstrem. Tidak hanya latihan, kebanyakan dari mereka juga sering bertarung di garis antara hidup dan mati.


Jelas, sebagai pemuda yang suka damai dan hidup aman, Reinhart tidak memilih pilihan terakhir. Dia lebih suka menempa diri dengan berbagai jenis latihan. Mungkin karena pengaruh dari gurunya, sekarang dia mulai menikmati berbagai jenis latihan.


Sosok Reinhart tampak begitu mencolok. Di halaman belakang yang luas dan dipenuhi warna putih. Pemuda itu hanya mengenakan celana pendek sambil mengayunkan pedangnya. Mengabaikan hujan salju yang jatuh ke atas tubuhnya.


"Kakak Reinhart!!!"


Suara itu mengejutkan Reinhart yang sedang fokus berlatih. Menoleh ke sumber suara, dia melihat sosok Edsel dan Edward yang ditemani dua pelayan mereka, Lulu dan Lala.


Kedua anak itu memakai pakaian musim dingin. Wajah mereka agak merah karena angin dingin yang menerpa mereka. Namun bukannya menggigil kedinginan, mereka tampak bersemangat. Bahkan Reinhart melihat keduanya membawa dua pedang latihan yang terbuat dari kayu.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


Reinhart langsung mengangkat alisnya. Ekspresinya tampak dingin. Namun Edsel dan Edward sama sekali tidak takut. Mereka menjawab dengan ramah.


"Kami akan berlatih dengan anda, Kakak Reinhart!"


"Ya! Pasti bersama-sama lebih baik daripada sendirian, Kakak Reinhart!"


"Kamu seharusnya tidak mengatakan itu, Edward. Itu seperti menyebut kalau Kakak Reinhart kesepian."


"Aku sama sekali tidak mengatakan seperti itu, Edsel. Kamu yang tiba-tiba membicarakan hal itu."


"..."


Melihat kedua bocah itu berdebat, Reinhart terdiam. Khususnya ketika tahu bahwa kedua bocah polos itu benar-benar menganggapnya serigala kesepian yang tidak punya teman atau kekasih.


'Meski tidak banyak teman, aku masih memilikinya, Bung! Jangan berbicara seolah-olah aku begitu menyedihkan!'


Reinhart menghela napas panjang. Pemuda itu kemudian menghampiri keduanya sembari berkata.


"Cukup. Berhenti bertengkar."


Sampai di hadapan kedua adiknya, Reinhart langsung berkata dengan ekspresi datar.


"Fisik kalian masih terlalu lemah. Kalian tidak boleh berlatih di cuaca seperti ini sebelumnya menyelesaikan pelatihan dasar.


Jika tidak, mungkin kalian akan demam. Kecerobohan semacam itu tidak boleh dilakukan. Jadi kalian pergi."


"T-Tapi ..."


Ucapan Edsel tercekat ketika melihat Reinhart menatap ke arah mereka dengan ekspresi serius.


Tentu saja, Reinhart yang melihat kedua adiknya merasa sedikit tidak berdaya. Dia tidak menyangka, sedikit perhatian darinya benar-benar membuat kedua adiknya terus mencoba mendekatinya. Itu bukan hal yang buruk. Masalahnya, dia sendiri memiliki target yang harus dicapai selama liburan.


Itu karena, waktunya sudah mulai menipis. Tahun ajaran depan, Maria akan tiba dan canon akan dimulai. Meski tidak tahu akan seberapa melenceng dibandingkan kisah aslinya, tetapi Reinhart harus bersiap untuk menghadapi berbagai macam bahaya.


"Bagaimana kalau begini. Kalian berdua ingin bermain dengan kakak, bukan? Kalau begitu kakak akan menyempatkan waktu.


Kecuali hari minggu dimana aku memerlukan istirahat, santai, dan menikmati waktuku sendiri. Di hari lain, kalian bisa bermain ke kamarku setelah makan siang sampai sore.


Tidak lama, tetapi itu lebih baik daripada kalian mondar-mandir tidak jelas dan mencobanya hal berbahaya, bukan?"


"Apakah itu benar, Kakak Reinhart?" tanya Edsel.


"Tentu saja itu benar."


"Janji?" tambah Edward.


"Iya." Reinhart mengangguk.


"Kakak tidak boleh mengingkari janji. Bangsawan yang baik tidak mengingkari janji mereka."


Edsel berkata dengan ekspresi serius yang tidak cocok dengan usianya. Hal itu membuat Reinhart tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu salah. Bukan hanya bangsawan. Namun, setiap orang.


Orang-orang yang baik tidak boleh mengingkari janji mereka."


"Kami diajari!" ucap keduanya serempak.


Melihat ke arah kedua adiknya, Reinhart sekali lagi mengangguk. Dia kemudian menatap kedua pelayan dengan ekspresi datar.


"Lulu, Lala ... bawa mereka berdua kembali. Pastikan mereka pergi belajar dan tidak membuat masalah."


"Baik, Pangeran Reinhart!" jawab keduanya serempak.


Melihat mereka berempat pergi, Reinhart menghela napas panjang. Dia kemudian melihat sosok Isana yang hanya berdiri mengamati.


"Ada apa, Isana?"


Mendengar pertanyaan Reinhart, Isana yang awalnya hanya diam membuka mulutnya.


"Pada saat melihat anda bertindak baik kepada kedua adik anda, saya rasa ... sikap anda yang seperti itu tidak buruk juga."


"Jadi, selama ini aku bersikap buruk dan terlalu dingin?" tanya Reinhart dingin.


"Tidak! Maksud saya, dibandingkan biasanya, sikap Pangeran—"


Mendengar pertanyaan dingin Reinhart, Isana agak panik. Namun ketika melihat senyum tertahan di wajah pemuda tampan itu, dia tercengang.


"Pfft! Maaf, aku benar-benar tidak tahan."


Reinhart terkekeh. Melihat ke arah Isana, dia melanjutkan.


"Kamu tampak begitu kaku, aku tidak tahan untuk menggodamu.


Kamu telah menemani aku sejak lama, Isana. Mungkin kamu juga lebih mengerti diriku dibandingkan dengan keluarga, atau mungkin aku sendiri. Jadi, jangan terlalu menjaga jarak.


Kamu tahu, Isana? Kamu sangat berarti bagiku. Jadi, aku merasa bersyukur dan ingin berkata ..."


Menatap ke arah Isana dengan senyum lembut dan cerah daripada biasanya, Reinhart berkata.


"Senang kamu ada di sisiku, Isana!"


>> Bersambung.