Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Dicurigai



"MEONG!"


Reinhart yang memiliki ekspresi datar melihat ke arah seekor kucing British Short Hair gemuk dengan bulu berwarna abu-abu dan mata biru. Makhluk itu duduk di atas meja, menatapnya dengan tatapan naif dan polos ... tampak cukup konyol.


Melihat kucing yang mencoba bersikap imut di depannya, Reinhart merasa agak bingung. Berkedip, dia mengalihkan pandangannya ke arah Vanessa yang duduk di seberang meja.


"Vanessa ... ini?" tanya Reinhart dengan nada agak bingung.


"Namanya Tom!"


"..."


"Aku melihat suasana hatimu agak buruk, jadi aku membawa Tom."


Vanessa mengulurkan tangannya, menggosok bulu-bulu pada kucing gemuk berwarna abu-abu tersebut.


"Cobalah ... suasana hatimu pasti akan menjadi lebih baik jika melakukannya."


Mendengar ucapan polos Vanessa, Reinhart menghela napas panjang. Dia mengelus kepala Tom, membuat kucing gemuk itu mengeong. Tampaknya sangat senang.


'Kenapa aku melakukan hal semacam ini?'


Pertanyaan tersebut langsung muncul dalam benak Reinhart. Bahkan jika bagi kebanyakan orang itu berfungsi, baginya hal tersebut tidak terlalu berguna. Lagipula, dia juga memiliki seekor Naberius bernama Hachiko.


Meski tidak boleh ikut dengannya dan harus dirawat oleh Professor Elin karena alasan makhluk berbahaya. (Tidak boleh dibawa bepergian menggunakan kapal, khususnya bagi siswa.)


Tetap saja ... Hachiko adalah peliharaan miliknya.


Reinhart memandangi Tom yang bangkit lalu melompat turun dari meja. Kaki-kaki pendek kucing itu membuat dirinya nyaris tidak mendarat dengan baik.


"..."


Melihat ke arah kucing yang nyaris tidak bisa melompat, Reinhart terdiam. Benar-benar baru melihat kucing yang begitu gemuk sampai-sampai tidak bisa melompat dengan baik.


Tom merangkak ke kaki Reinhart lalu menggosokkan kepalanya ke kaki pemuda itu dengan ekspresi penuh kasih sayang.


"Tampaknya Tom menyukaimu."


Vanessa tersenyum bahagia ketika melihat Tom yang begitu santai di dekat Reinhart.


Reinhart sedikit menunduk untuk meraih Tom dengan kedua tangannya lalu mengangkatnya. Seorang pemuda dan seekor kucing saling bertatapan.


"MEONG!"


Mendengar Tom yang mengeong kepadanya, Reinhart memiringkan kepalanya tanpa banyak mengubah ekspresi wajahnya.


'Lihatlah dirimu ... gemuk, berkaki pendek, tak berdaya, hanya makan dan tidur untuk menghabiskan waktu. Kamu bahkan tidak tahu betapa tidak berdayanya dirimu dibandingkan kucing liar yang lincah dan ganas.


Benar-benar tidak berguna.'


Reinhart meletakkan Tom di atas pangkuannya. Pemuda itu kemudian menyodok pipi kucing gemuk itu dengan jarinya.


"MEONG!"


"Kalian benar-benar akur," ucap Vanessa dengan ekspresi ceria.


"..."


Melihat ke arah Vanessa yang bahagia, Reinhart tampak bingung.


Saat itu, pintu ruang santai terbuka, sosok Raja dan Ratu muncul. Melihat mereka berdua, Reinhart hendak menurunkan Tom lalu berdiri. Namun suara Raja langsung terdengar.


"Tidak perlu melakukan penghormatan. Kami mengundangmu datang untuk bersantai sebagai keluarga."


Raja berkata dengan senyum di wajahnya. Dia dan Ratu kemudian duduk bersama dengan Vanessa di seberang meja.


"Maaf atas ketidaksopanan saya," ucap Reinhart sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Sudah kubilang, tidak perlu terlalu formal. Anggap saja rumahmu sendiri."


"..."


Menurut apa yang dia ingat, dirinya sebenarnya juga bersikap sangat dingin dan tertutup di rumah. Tidak begitu akrab dengan keluarganya sendiri. Dalam cerita, bahkan pemuda tersebut menyembunyikan masalah iblis dalam dirinya dari keluarganya sendiri. Bisa dibilang, sikapnya saat ini sedikit lebih mirip dengan Reinhart yang asli.


Hanya saja, jika Reinhart dalam game bersikap dingin untuk menutupi semua kelemahannya, dia (Reinhart) merasa begitu tak acuh terhadap hal-hal lain yang tidak dia anggap penting.


"Jujur saja, pada awalnya kami curiga kamu mungkin kerasukan atau semacamnya."


Raja berkata dengan nada bercanda. Memiliki senyum di wajahnya. Melihat ekspresi Reinhart tidak banyak berubah, dia melanjutkan.


"Aku menghubungi kedua orang tuamu. Menurut mereka, kamu memang seperti itu ketika berada di rumah.


Sebenarnya jawaban mereka membuat kami merasa terkejut. Lagipula, kamu tampak lebih santai ketika datang pertama kali. Jika dugaanku benar, kemungkinan perubahan itu terjadi ketika kamu ada di Akademi Cahaya Bintang.


Bukan hanya aku dan istriku. Aku yakin kalau kedua orang tuamu juga ingin kamu lebih bahagia dan bersenang-senang."


Raja menasihati Reinhart dengan senyum di wajahnya. Tampaknya, karena sudah dianggap sebagai pasangan Vanessa yang pasti, kedua orang itu benar-benar khawatir.


Dalam sekali lihat, tatapan khawatir itu jelas bukan kebohongan.


Hal tersebut sedikit menggerakkan hati Reinhart. Dalam kehidupan sebelumnya, kedua orang tuanya selalu menuntut dirinya untuk menjadi anak yang "sempurna" di mata mereka.


Ketika dirinya memilih untuk mundur dari ketentaraan ... mereka benar-benar kecewa pada dirinya. Langsung memberikan judul "anak membanggakan" kepada adiknya.


Memejamkan matanya sejenak, Reinhart kemudian berkata.


"Maaf karena membuat kalian khawatir. Saya baik-baik saja.


Saya sempat berpikir bahwa ini semua hanyalah sebuah permainan. Saya pikir dengan merubah diri saya, saya bisa menghindari takdir yang harus saya hadapi. Namun pada akhirnya ... saya tetap harus menghadapi takdir itu."


"Permainan? Jika itu artinya kamu bisa bersenang-senang, maka hal tersebut sama sekali tidak salah.


Kamu masih muda. Jangan terlalu membebani pikiranmu dengan apa yang harus dipikirkan oleh orang dewasa. Apa yang perlu kamu pikirkan hanyalah menuntut ilmu dan bersenang-senang di akademi."


"..."


Reinhart hanya diam. Jelas Raja dan Ratu tidak mengerti apa yang dia maksud, tetapi pemuda itu merasa sedikit lega setelah mengungkapkan sedikit rahasia yang mengganjal di hatinya. Melihat ke arah ketiga orang yang khawatir di depannya, pemuda itu mengangguk ringan.


"Terima kasih. Maaf telah membuat kalian khawatir."


Melihat ke arah Reinhart yang memiliki senyum lembut di wajahnya, Raja merasa agak lega. Walau tatapannya masih agak dingin dan kosong ... pemuda itu jelas lebih baik daripada sebelumnya.


"Jika bukan karena Tom, kami pasti sudah menganggap kamu sebagai pemuda kejam dan jahat. Jujur saja, ketika melihat bagaimana kamu menjatuhkan Pangeran Zale ... kami merasa tidak nyaman.


Lagipula ... kami akan menyerahkan Vanessa kepadamu. Kami jelas khawatir kamu memperlakukannya dengan buruk."


"AYAH!!" Vanessa langsung berseru dengan nada tidak puas.


Ucapan Raja jelas membuat Reinhart merasa agak terkejut. Hanya saja, ekspresinya masih tidak berubah. Bahkan dirinya dengan cepat kembali tenang.


Melihat ke arah kucing yang ada di pangkuannya, Reinhart bergumam.


"Tom?"


"Ya. Meski seperti kucing biasa yang hanya menjual wajahnya yang lucu, sebenarnya Tom adalah kucing spesial.


Tom sudah ada sejak zaman kakekku. Meski lemah, Tom adalah kucing dengan umur panjang. Kemungkinan besar tidak pernah menua.


Tom memiliki keunikan. Dia bisa mengetahui apakah seseorang baik atau tidak. Selain itu, Tom juga bisa tahu keberuntungan seseorang. Jika seseorang itu memiliki keberuntungan baik, dia akan suka berada di sekitarnya.


Tentu saja, perihal keberuntungan hanya dianggap mitos. Namun, kami percaya bahwa Tom memang bisa membedakan baik dan buruk."


Mendengar penjelasan Raja, Reinhart kembali mengangkat Tom. Mengamati kucing gemuk yang begitu mencolok itu, pemuda itu langsung mencoba mengingat semua informasi tentang game yang dia mainkan.


Tidak menemukan informasi tentang "kucing ajaib" tersebut, Reinhart menggelengkan kepalanya.


'Ya ... siapa yang peduli dengan hal itu.'


Reinhart menatap ke arah Tom dengan ekspresi datar, tetapi segera digantikan dengan senyum tipis ketika kucing gemuk itu menyentuh wajahnya dengan kaki pendeknya.


>> Bersambung.